Powered By Blogger

Monday, April 13, 2020

Sebuah Tulisan Pengharapan Mengenai Paskah di Tengah Wabah COVID 19


Aku percaya bahwa COVID-19 ini memang diizinkan Tuhan di tengah momen ini untuk menjadi pengingat buat manusia, bahwa apapun status yang dimiliki, berapa banyak pun harta benda yang dimiliki, mau seberapa banyak ilmu yang dimiliki, COVID-19 ini tak pandang bulu menjangkiti siapa pun. Sehingga memang, tak ada suatu hal apapun di dunia ini yang bisa jadi sandaran hidup yang sejati.

Yesaya 45:7 BIS "Akulah yang menjadikan terang dan gelap, Aku mendatangkan berkat dan bencana. Akulah TUHAN yang melakukan semua itu."

Ultimately, apa sih yang paling ditakutkan akibat COVID-19 ini, sehingga terjadi pembatasan sosial di seluruh dunia? Ya, balik lagi ke ketakutan kebanyakan orang, yakni kematian. Sudah 100 ribu orang lebih sampai saat ini di seluruh dunia yang meninggal karena COVID-19.





Melihat fenomena ini, jadi keinget akan scene dari anime Attack On Titan, di mana konteksnya adalah penduduk kota dalam anime itu hidup di dalam ketakutan akan serangan raksasa yang sewaktu-waktu bisa menghabisi mereka, sehingga mereka perlu bersembunyi dari raksasa tersebut dengan berlindung di dalam benteng. Dan benteng inipun dikisahkan akhirnya tertembus dan akhirnya manusia menghadapi ketakutan itu melanda mereka.

Yah, saat ini somehow mungkin ada yang melakukan Physical Distancing atas dasar ketakutan yang serupa. Ketakutan akan terkena COVID-19, yang bisa saja berujung kepada kematian. Memang yang lebih tua yang lebih rentan, tapi tidak sedikit korban jiwa jatuh yang berusia relatif muda.

Namun bagi aku dan teman-temanku yang Kristen, kami memiliki pengharapan di tengah semua fenomena wabah ini. Apalagi ketika kami baru melalui perayaan Jumat Agung dan Paskah. Ya, kami memiliki Juruselamat yang telah mengalahkan kuasa kematian itu, sehingga kami ga perlu takut lagi akan kematian. Dialah Yesus Kristus, Sang Almasih, yang mati bukan karena dosaNya sendiri tapi mati karena menanggung dosa kami yang sebenarnya ga layak menerima ampunanNya, yang kami peringati dalam Jumat Agung. Dan pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati, yang kami rayakan dalam Paskah. Meski 2 hari besar kami itu kami peringati dengan beribadah di rumah, justru itulah yang membuat perayaan kali ini menjadi spesial dan berbeda dari sebelumnya. Di mana aku benar-benar merasakan betapa Paskah ini menjadi penghiburan di tengah wabah COVID-19, mengetahui adanya Tuhan yang tetap berdaulat di balik semua fenomena percoronaan ini.

-------------------

1 Korintus 15 (TB)
Ayat 20-22 "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus."

Ayat 54-57 "Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."

-------------------

Ya, inilah pengharapan kami yang Kristen di tengah momen Paskah ini. Bahwa bahkan ketika kami matipun, kami mengimani bahwa ketika kami sudah dilahir barukan dalam Kristus Yesus, kami tak perlu takut lagi akan maut, karena maut itu sudah dikalahkan oleh Juruselamat kami. Inilah kepastian hidup yang kami miliki di tengah ketidak pastian wabah COVID-19 ini. Dan motivasi kami untuk melakukan Physical Distancing adalah bukan karena ketakutan kami, tapi bahwa kami ingin menjadi berkat, berbagi kasih dengan tidak menaikkan resiko penyebaran COVID-19.



Seperti pada gambar di atas, aku melihat bahwa cepat atau lambat kita akan menyaksikan bersama fajar menyingsing, harapan bahwa wabah ini akan berakhir, melalui penelitian akan obat/vaksin dari COVID-19 ini. Habis gelap, terbitlah terang, demikian kata Kartini (yang 8 hari lagi kita rayakan hari peringatannya). Kata-kata inipun aslinya sebenarnya adalah slogan dari Reformasi Protestan di abad ke-17, khususnya dipopulerkan oleh John Calvin sebagai slogan kotanya, Geneva, Switzerland. Aslinya dalam bahasa Latin adalah "Post tenebras lux", atau bahasa Inggrisnya "Light After Darkness". Yah, tetaplah berpengharapan di tengah wabah COVID-19 ini. Sabarlah menanti momen-momen kebersamaan bersama teman-teman bahkan keluarga di kampung yang jauh. Semoga kita berjuang bersama dengan #dirumahaja untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Tetap keep in touch dengan rekan-rekan melalui berbagai platform online. Bersama kita dapat melalui "malam kelam" COVID-19 ini, menantikan "terbitnya sang surya" yakni kembalinya aktivitas sehari-hari tanpa pembatasan sosial.

Friday, March 20, 2020

Reflection on the 24th year of My Life [2]


Seri berikutnya dari perenungan kehidupanku melalui usia ke-24 tahun ini, another struggle. Actually an old struggle that evolves into another one. Soal masalah relasi, masalah dengan seseorang yang seharusnya aku approach dia dengan benar sebagai teman, but my egoistic ambition ruins that. Dan long story short, lama sekali aku mencoba berulang untuk meminta maaf tapi gagal. Yah ketika mikir lagi, memang sih tujuanku masih lebih ke mau mencari rasa damai di hati sendiri, bukannya bener-bener memikirkan perasaan orang yang telah kukecewakan ini. Dan dalam situasi ini aku belajar untuk tetap berharap pada Tuhan dan percaya bahwa waktu Tuhanlah yang terbaik.
It evolves with bagaimana aku akhirnya melihat lebih jauh struggle hidup orang ini, bagaimana dia memang udah lama punya struggle soal kehidupannya tersebut, yang untuk detilnya aku simpan karena cukup private sifatnya. Dan bagaimana aku makin ngeri struggle hidup orang tersebut adalah karena suatu keputusan hidupnya yang bener-bener membuatku sedih, sedih banget. Sesedih itu, mengingat bahwa kalau aku dulu dengan bener berteman dengannya, mungkin aku bisa menolongnya saat ini. But it didnt happen. I asked God, Why someone that indirectly humbled me and make me depend more on God and tearing down my selfishness and egoistic ambition, now somehow that person struggled and seems to go farther away from You?.

At least 4 months i have pondering about this. I have prayed for that person. I approached those i know that are this person’s friends. Somehow I hoped that I finally can help and paid my debt to that person. But it didn’t happen, it is getting worse. Somehow akhirnya orang ini tahu approach-apporach tak langsung yang kulakukan, dan intinya malah memperunyam keadaan dan memang sampai saat ini relasi ku ini masih retak. And it makes me questioning God more and more, until I talked again to some of my friends, even new ones that finally with encouraging words pull me back up again. Di satu sisi, teman-temanku dan juga perenungan Firman ku mengingatkan aku bahwa, ah, untuk saat ini menolong orang itu bukanlah porsiku, bukanlah bagianku. Dan di satu sisi dari teman-teman yang masih care dan peduli aku ini bilang bahwa memang tiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda. Kadang ada orang yang mengembara lebih jauh dan untuk sesaat dia menjadi tersesat dan kehilangan arah. Namun percayalah, when His Time comes, Tuhan akan bawa kembali orang itu seberapapun jauhnya. Tuhan mampu menarik kembali seseorang kepadaNya seberapa jauhpun ia mengembara. Bahkan actually there is a not really so new friend of mine yang responnya bener-bener aku inget dan menguatkanku. Dia berbagi perenungannya juga, mencoba menuntun aku merefelksikan ulang struggleku, bahkan mau mendoakan juga. Really, it meant a lot for me 😊

Dalam salah satu renungan yang dia berikan, ada renungan yang berjudul Why Jesus let people walk away. Di mana memang biasanya aku yang memulai pembicaraan namun pada momen dia membaca renungannya, dia ingat untuk share this devotional to me dan jarang-jarang memulai chat. And  it gives me hope. Isi dari renungan itu akan sedikit aku share (bisa juga kalian cari di google, ada di seri renungan bible.com yang berjudul Discipleship Tips: Keeping Christ Central), yang intinya membicarakan soal bagaimana memang dalam beberapa kasus, Tuhan mengizinkan umatNya untuk meninggalkan Dia untuk akhirnya menangkap kembali orang itu dalam dekapanNya.

So as you share Jesus with others, remember that if Jesus honored others’ choices to walk away, there will be times when we need to do the same. Giving others the space to say no is hard and requires great discernment. It certainly doesn’t mean we stop praying, showing God’s love, or looking for opportunities to connect. Through it all, we can be confident that, no matter what, no one can walk too far to be beyond God’s reach.

 Yes, renungan ini, dan penguatan yang lain dari teman-teman yang peduli dan mengasihiku membuatku bisa kembali berharap dan beriman kepada Tuhan, bahwa memang Tuhan punya kehendak dan jalan yang terbaik yang Ia akan jalankan pada waktuNya. Tidak ada jarak terlalu jauh bagi seseorang untuk meninggalkan Dia yang di mana Tuhan ga sanggup bawa balik orang itu dalam dekapan kasihNya. Benar-benar terus teringat akan perumpamaan Anak yang Hilang - The Prodigal Son - dalam Lukas 15:11-32. Di mana pendeknya perumpamaan ini menceritakan seorang anak bungsu yang meminta warisan dari ayahnya (padahal ayahnya belum mati, berarti ini menunjukkan kekurangajaran anak ini} dan pergi mengembara meninggalkan ayahnya. Sampai satu titik anak ini kehilangan segalanya dan dengan rasa begitu tak layak untuk kembali kepada ayahnya. Dan apa yang terjadi?

Luke 15:20-22 : “But while he was still a long way off, his father saw him and was filled with compassion for him; he ran to his son, threw his arms around him and kissed him.“ The son said to him, ‘Father, I have sinned against heaven and against you. I am no longer worthy to be called your son.“ But the father said to his servants, ‘Quick! Bring the best robe and put it on him. Put a ring on his finger and sandals on his feet. Bring the fattened calf and kill it. Let’s have a feast and celebrate.  For this son of mine was dead and is alive again; he was lost and is found.’ So they began to celebrate.

Wow, suatu bentuk kasih yang luar biasa dari ayah ini, yang tanpa pamrih menyambut kembali anaknya pulang ke pangkuannya. Anak yang durhaka dan kurang ajar ini disambut dengan pelukan hangat yang tak layak diterima anak ini. Yah, inilah keajaiban dan keindahan kasih Tuhan Yesus kepada umatNya, kita yang tak layak sebenarnya untuk menjadi umat Allah namun kita ditebus dengan pengorbanannya di atas kayu salib untuk menggantikan kita yang seharusnya layak mati karena dosa-dosa kita sendiri. Yang akhirnya bangkit pula pada hari ketiga mengalahkan maut, di mana kita umatNya akhirnya memiliki pengharapan juga bahwa kita pun akan menang atas maut di dalam Dia.

Seperti kata satu ayat ini yang menjadi reminder juga yang diberikan teman yang sama yang mengirimkan renungan di atas kepadaku...

Roma 8:38-39 - Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,  atau kuasa-kuasa,  baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah,  yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Ya, benar, tidak ada sesuatu apapun yang bisa memisahkan umat Allah dari kasihNya yang begitu ajaib dan tak terbayangkan. Seperti kata salah seorang pengkhotbah yang mengajarkan, kasih dalam pernikahan aja cuman sampai maut memisahkan. KasihNya Allah, mautpun ga bisa memisahkan. Suatu dekapan yang begitu erat dari kasih Allah bagi anak-anakNya yang terkasih.

I really want to give my thanks from the bottom of my heart. Untuk mereka yang telah mengingatkanku dalam kasih dan membangunkanku dari kesedihanku dan keraguanku, membuatku akhirnya bisa tetap beriman menanti waktunya Tuhan.

Pengkhotbah 3:11 - Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Yah, memang Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, tinggal bagaimana kita tetap berjuang mempercayai bahwa memang waktuNya yang terbaik, bukan waktu yang kita atur sendiri. Biarlah kita tetap beriman. Bahkan di tengah perCOVIDan yang melanda Indonesia saat ini. Di tengah situasi di mana vaksin atau obat COVID 19 ini belum ditemukan, korban makin banyak berjatuhan. Kita tetap ingat bahwa masih ada Tuhan yang peduli sama kita. Tuhan yang akan tetap memegang tangan kita betapapun sulit kondisinya. Yah, di tengah perCOVIDan yang membuatku agak down ini, sehingga minggu ultahpun dihabiskan di rumah karena kuliah dan kerja pun jadi jarak jauh karena harus Social Distancing. What I want to say to my friends out there, I miss you all. Smoga percoronaan ini membuat kita makin menghargai apa makna kebersamaan apa arti waktu-waktu casual nongkrong bareng bercengkrama mulai dari hal paling sepele sampai hal terdalam sekalipun.

Thats it for today. Cheers. Stay faithful and stay safe. God bless you all. May my writing can be a blessing for u all, folks...

Reflection on the 24th year of My Life [1]


Yeah, ga kerasa sih setahun lagi usia udah berlalu. Setahun lagi Tuhan udah menyertai, Ebenhaezer. Sampai di momen ini Tuhan udah membimbing aku ke titik ini. Setahun yang cukup banyak pasang surut kehidupan, setahun yang memberi banyak pelajaran, khususnya belajar untuk percaya bahwa waktuNya Tuhan adalah waktu yang terbaik, bukan waktuku, bukan agendaku. Bahkan sampai momen hari ini. Tentu banyak dari kita ngeh soal perCOVIDan yang melanda dunia dan juga Indonesia tak terluput darinya. Banyak dari kita yang pengen ketemu bercengkrama dengan teman, sahabat, atau kerabat lainnya, yang akhirnya gabisa kita lakukan karena perCorona-an ini. Huft. Especially for me that is an Extrovert (actually an ENFP, more like introverted extrovert), ga ketemu temen itu cukup berat sih. Yah setidaknya perlu sabar dalam kurang dari 2 minggu kedepan, Social Distancing... Yah, mungkin memang keberadaan virus ini bertujuan untuk menyadarkan kita, manusia, bahwa yah tubuh kita ini fana dan rentan sekali, dan sangat disayangkan kalau ga ada pegangan tangan Tuhan yang menopang hidup kita.

Mungkin ngulang balik ke titik setahun lalu. Momen di mana di satu sisi mengambil keputusan yang cukup besar, yakni lanjut S2 (sekarang aku berkuliah S2 di Magister Ilmu Biomedik FK UI). Dan di satu sisi yang lain, dalam sisi yang lebih pribadi, yang ingin ku share juga, yakni mengenai esensi dari makna kehidupan kita yang fana saat ini. We are all mortal and will die in time. But what’s next? Sebagai orang beragama, tentu banyak dari kita (dengan cukup take it forgranted) mengganggap ada lah afterlife, adalah alam jiwa. Namun cukup banyak loh orang khususnya kalangan yang mengaku punya pemikiran sangat ilmiah bilang kalau hidup kita yang sekarang ya udah adanya itu aja. Mati, kelar. Ga ada apa-apa lagi. 

Perenunganku ini mulai dari lihat suatu video soal apa yang terjadi saat manusia mati, gimana tahapan pembusukan tubuhnya sampai tinggal tulang. Yang makes me ponder, is it reallt afterlife waiting for us? Dari lumayan muda kira-kira mungkin SMP, aku takut yang namanya kematian. Mirip mungkin kayak ketika bayangin sebelum lahir gimana, ga kebayang kan. Boro-boro sebelum lahir. Memori umur 3-4 tahun aja mungkin sayup-sayup atau bahkan ga keinget sama sekali. Actually bahkan aku sendiri bisa lupa momen-momen yang aku jalani waktu SMP/SMA sama teman-teman, sebelum akhirnya diingatkan dan aku terheran sendiiri, kok aku bisa segitunya, kok aku ambisius banget sih, kok aku rada-rada aneh ya. Hehe. Yah masa muda.

Yah intinya dari masa-masa ini aku ingat-ingat kembali dan mungkin hasil perenunganku, hasil aku coba-coba baca-baca dan nonton-nonton video khususnya yang didasari oleh terang Firman Tuhan dan kesaksian orang Kristen, aku mulai mencoba untuk agak meyakini, meski toh masi takut dengan kematian, bahwa yes there is afterlife. Mungkin agak ga mainstream, but one of the evidence is video-video testimoni soal Near Death Experience.Di mana ada orang-orang yang sempat dinyatakan clinically dead tapi akhirnya hidup kembali. Ada dari orang-orang ini yang mengaku pas di meja operasi, di mana udah dipastikan tubuhnya ga berfungsi dan otaknya tidak beraktivitas sama sekali, ada yang mengaku bisa melihat alat-alat, dokter yang mengoperasinya, dan beberapa perlakuan yang dilakukan pada tubuhnya yang ga sadar. Dan para dokter mengklaim bahwa memang itu benar adanya. Wow, such an evidence mungkin kalau memang out of this body, we still have live. Ada yang mendeskripsikannya sebagai pengalaman begitu luar biasa, badan terasa ringan sekali, sampai akhirnya ketika kembali ke tubuhnya, orang itu merasa seperti kembali ke kolam yang begitu dingin, dan akhirnya tersadar di meja operasi. 

Fun fact, salah satu pendorongku untuk akhirnya masuk ke jurusan ilmu biomedik dan khususnya mau riset ke arah neuroscience adalah untuk menemukan tentang what is conciousness, apa itu kesadaran. Karena memang ada hal-hal yang belum terjelaskan oleh ilmu sekalipun soal bagaimana kepribadian seseorang terbentuk, what makes a person as person. Apa memang hanya otak yang terlihatlah yang mengontrol tubuh dan mendefinisikan seorang manusia? Nah seperti yang aku sudah renungkan, yah tidak sesimpel itu. Conciousness masih menjadi misteri, dan aku rindu untuk menggapproach batas untuk menemukan apa itu kesadaran dengan jalur ilmu neuroscience ini. Yah, pencari makna kehidupan. Tadinya S1 Fisika yang dari situ mempelajari esensi alam semesta yang terbesar sampai inti atom yang terkecil, sekarang mau belajar kompleksitas kesadaran manusia, haha. 

Memang benar kata Alkitab menurutku...

Genesis 1:1-2 : In the beginning, God created the heavens and the earth. The earth was without form and void, and darkness was over the face of the deep. And the Spirit of God was hovering over the face of the waters.

Tadinya bumi belum berbentuk, kacau. Seperti sisa kekacauan yang ada dalam tingkat subatomik, di mana posisi elektron dalam tiap atom kita pun ga pasti dan perlu perhitungan probabilitas kuantum ala-ala Heisenberg (google it if you want to know, haha). Sampai akhirnya Tuhan membentuk semuanya menjadi teratur. From chaos to order. Sampai puncak ciptaan, yakni kita, manusia, Image of God

Genesis 1:26-27 : Then God said, “Let us make man in our image, after our likeness. And let them have dominion over the fish of the sea and over the birds of the heavens and over the livestock and over all the earth and over every creeping thing that creeps on the earth.” So God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female he created them.

Dari kekacauan subatomik sampai ke alam semesta yang teratur dan akhirnya kita, manusia dengan kesadarannya, dengan potensinya untuk mengeksplorasi alam ciptaan anugerah Tuhan. It’s so wonderful.

And then  .... Let’s just make this into two parts, I guess. Agak panjang juga ternyata abis nulis wkwk. Another struggleku akan kutulis di part berikutnya... Cheers...

Monday, March 20, 2017

Thanks God, I'm Still Alive

Thanks God, I’m still alive, and still having goals for now, goals that not really clear but I still could see ways to it. Ya, inilah mungkin yang membuatku bisa hidup sampai saat ini, di usia yang ke-21 (usia di mana udah bisa resmi beli minuman keras :v, but I don’t like that kind of drinks though)…

Ya, ucapan syukur ini didasari oleh bagaimana aku masi bisa melihat arah tujuan hidupku sekarang, meskipun memang belum benar-benar jelas apa tujuannya, tapi petunjuk-petunjuk dari-Nya mengenai jalan yang harus kuambil masih jelas. Aku kini masi menikmati perkuliahanku dan dapat melihat kira-kira setelah ini akan mau berjalan ke mana rencana hidup ini, meski memang aku masih belajar untuk menjadi lebih dewasa lagi, dan bagaimana aku boleh lebih lagi peka dan jeli untuk melihat apa rencana yang telah ditentukan-Nya bagiku kini.

Mungkin sedikit kontras yang belakangan ini membuatku cukup terkaget karena melihat, betapa desperatenya orang yang tidak lagi memiliki tujuan hidup yang lebih, sehingga mengambil jalan bunuh diri. Ya, mungkin kita semua tahu akan kasus “gantung diri live” yang cukup menghebohkan dunia maya. Ya, ketika aku memperhatikan masalah itu pula, memang begitu miris hidup yang tak memiliki tujuan hidup lagi, di mana tujuan hidup yang selama ini dipegang telah dianggap gagal total, dan taka da lagi tujuan lebih besar yang lain yang bisa mendorongnya untuk hidup. Miris sekali, melihat mungkin goal dari si orang yang bunuh diri itu adalah cintanya kepada istrinya, di mana ia menganggap goal itu GAGAL TOTAL ketika sang istri cekcok dengannya dan pergi meninggalkannya. Wow, begitu sensitifnya perasaan sang pria ini. Namun yang perlu ditekankan disini, JANGAN langsung sembarangan menjudge orang ini cemen atau lembek, sedikit saja sudah bunuh diri. Inilah yang terjadi kepada seseorang, yang goal hidupnya tidaklah benar-benar bernilai kekal, apalagi di tengah dunia yang ternoda, fana, dan tidak sempurna ini. Ya, merasakan kondisi hopeless di tengah dunia ini memang hal yang manusiawi. Tidak seperti dalam dunia “game” di mana ketika suatu misi gagal, tinggal coba lagi mengulangnya, “misi” sebenarnya ketika gagal dilakukan di dunia nyata ini, “misi” itu tidak dapat diulang begitu saja dan menimbulkan kenangan pahit yang menyakitkan.

Ya, ketika aku melihat hidupku sendiri ke belakang, I’m also had that depressing times, waktu di mana aku melihat kembali adanya goal-goal dalam hidupku yang gagal kucapai, dan adanya hal-hal yang I supposed to do, but I just ruined it. Waktu-waktu yang kusia-siakan. Masa-masa pertemanan yang tak kupakai dengan baik. Keegoisanku dulu yang begitu memudarkan bagaimana aku melangkah dalam hidup sehingga aku salah melangkah. Sampai munculnya luka-luka hati baik pada diriku, maupun orang-orang yang kukecewakan, di mana seharusnya aku menjadi berkat untuk mereka. Adanya hal-hal yang tak dapat kuperbaiki, hubungan yang retak yang terlihat tak dapat tersambungkan lagi, sehingga aku sendiripun pernah ragu, apakah aku mampu melakukan hal yang benar atau malah aku memang hanya bisa mengacaukan segala sesuatu. That made me feel so depressed, hopeless, bahkan at some point, I consider to just end it all. The point when I can’t even forgive myself, even when cognitively I know that my God forgives me because He is The Merciful God.

And yet, here am I, still writing these thoughts. Aku masih hidup sampai kini. Why? Karena aku masih diberikan anugerah, di mana aku masih benar-benar mengimani, bahwa ada GOAL SEJATI dalam hidup ini yang juga berlaku bagiku, suatu GOAL yang nilainya kekal yakni “pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya”. Ya, itu semua bukanlah “hasil usahamu, tapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”. Pada dasarnya itu semua adalah karunia dari Allah, bagaimana Ia telah menyelamatkanku dari kehampaan hidup ke dalam suatu hidup yang telah ditebus, ditebus dalam darah Anak-Nya yang mahal, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan-Nya, manusia dalam kefanaannya boleh melihat jalan kekekalan, kasih karunia dari Allah.
Yeah, untuk saat ini mungkin memang masih banyak yang harus aku persiapkan dan kerjakan, masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam hidupku. Aku masih belum cukup dewasa, dan aku juga masi perlu banyak belajar. Ya, itulah proses yang masih harus aku jalani, di dalam jalan kasih karunia Allah yang menyertaiku, karena Ia adalah Gembala-Ku yang setia “membimbingku ke air yang tenang, membaringkanku di padang yang berumput hijau”. Ketika aku melihat jalan gelap kelam yang pernah kulewati di masa lalu dan mungkin jalan yang lebih gelap lagi di depanku, diriku sendiri tidak akan tahan menghadapinya. Tapi aku masih memiliki keyakinan , “Sekalipun aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut yang kelam, aku tidak takut bahaya. Sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Ya, aku diciptakan bagi-Nya, dan aku perlu berjuang hidup bagi kemuliaan-Nya. Inilah tujuan kekal yang akan terus mendorongku untuk hidup.

Sekian refleksi singkat ku pada hari ini, hari yang bagi banyak orang cukup spesial, tapi juga menjadi hari di mana muncul kesadaran akan berkurangnya kesempatan hidup setahun, di samping pengalam setahun yang telah ditambahkan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua :)

Soli Deo Gloria!

Wednesday, July 6, 2016

Memaafkan dan Dimaafkan - Sebuah Perenungan

Memaafkan dan Dimaafkan – Sebuah Perenungan di Momen  Hari Bermaaf-maafan

Hari ini, kita sedang menjalani suatu hari raya dari saudara kita, yakni hari raya Idul Fitri, di mana bagi mereka yang merayakannya, seringkali hari raya ini identik dengan momen bermaaf-maafan satu sama lain, atau dalam slogan resminya “mohon maaf lahir dan batin”. Ada suatu konsep dasar yang bisa kita tangkap dan renungkan bersama di sini, yakni tentang konsep “maaf”. Suuatu konsep relasi yang penting di dalam kehidupan kita, yang merupakan manusia yang tentunya tak sempurna dan pasti memiliki cacat cela dan ke”khilaf”an. Sekali lagi yang perlu ditekankan, konsep ini bersifat relasional, dan tidaklah hanya melibatkan 1 arah saja. Konsep “maaf” ini merupakan suaut bentuk komunikasi, yang terjadi di antara 2 pihak yang sedang memiliki masalah di antara mereka.

Pertama-tama mari memandang dari posisi orang yang bersalah dan minta dimaafkan. Orang-orang seperti ini tentunya pernah bersalah kepada orang lain, dan rasa bersalah yang cukup penting bagi seseorang adalah ketika ia bersalah kepada orang yang seharusnya cukup dekat dengannya atau orang itu begitu berarti bagi dirinya. Ketika itu bukan orang penting, mungkin kesalahan itu bisa dianggap sambil lalu saja, tanpa adanya usaha ingin berbaikan yang lebih lanjut. Namun masalah terjadi ketika orang tersebut sesungguhnya cukup penting dan dekat dengan kehidupan kita. Mungkin itu orang tuanya, sahabatnya, atau orang yang dikaguminya. Dalam konteksku sendiri sebagai anak muda, mungkin contohnya akan lebih dekat dan mudah dibayangkan ke konteks persahabatan. Terkadang ada momen-momen di mana seseorang melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan kepercayaan dari temannya. Sesuatu yang begitu serius sampai hubungan persahabatan itu menjadi retak, bahkan hancur. Ketika orang ini pada akhirnya sadar akan apa yang ia lakukan, yang bisa ia lakukan adalah meminta maaf, namun biasanya tidak sesimpel itu. Bahkan terkadang memang kesalahan itu sedemikian parahnya, sampai sulit sekali bagi orang tersebut untuk dimaafkan. Kesalahan itu pada akhirnya begitu menghantuinya. Setiap kali bahkan dengan hanya melihat orang itu, rasa bersalah kembali terngiang di kepalanya. Ketika ia menatap mata temannya itu, yang ia lihat hanyalah tatapan dingin penuh kebencian, karena kepercayaan yang sudah hilang. Hari demi hari berlalu, dan kegagalan mempertahankan kepercayaan inilah yang terus menerus menghantuinya.
Ya, mungkin sekali di antara kita yang membaca ini, kita mengalami hal seperti ini. Hal yang paa akhirnya bahkan pada suatu titik ekstrim dapat menghalangi jalan kita kepada masa depan, karena kita mengganggap bahwa diri kita tak termaafkan, menempatkan diri kita sebagai si gagal yang tak berpengharapan. Kepercayaan yang telah rusak itu akan sulit untuk kembali diperbaiki, dan hanyalah rasa bersalah itu yang terus menggerogoti hati kecil kita.

Hal yang bisa kita lakukan di sini adalah, kita ingat kembali bahwa ada satu Pribadi yang telah rela mengorbankan hidup-Nya untuk kita, yakni Tuhan Yesus. Ia, yang telah menebus diri kita yang tidak layak ini. “Karena begitu besar kasih Allah, akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal. Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”, demikian isi Injil Yohanes 3:16. Jangan sampai ayat ini menjadi suatu kata-kata klise yang biasa kita dengar, namun biarlah kita ingat kembali bahwa memang ada Pribadi yang begitu mengasihi kita yang tidak layak. Pribadi itu pula yang akan memampukan kita untuk melakukan yang benar, karena memang kita tak mampu mengandalkan kemampuan diri kita saja. Sambil berharap bahwa Tuhan melembutkan hati teman yang kepadanya kita bersalah, kita juga perlu berusaha (di dalam kebersandaran kita kepada Tuhan) untuk melakukan hal yang benar, yang akan mengembalikan kepercayaan dan kasih teman kita tersebut kepada kita. Dan mungkin kepercayaan itu tidak akan dengan mudah kembali muncul dalam diri teman kita. Mungkin kita akan melewati suatu masa pergumulan yang sulit dan lama, tapi suatu hal yang kita perlu tetap ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan dapat melembutkan hati siapapun yang Ia kehendaki, termasuk khususnya hati kita sendiri yang dilembutkan melalui momen-momen seperti ini supaya kita tetap rendah hati. Jalanilah kehidupanmu dengan lebih lagi tulus dan dapat dipercaya, seperti Allah yang telah rela mempercayakan anugerah pengampunan kepada kita yang tidak layak ini.

Lalu bagaimana dengan posisi orang yang “memaafkan”? Ke posisi ini, mungkin di antara kita ada yang telah kehilangan kepercayaan kepada teman kita yang kita anggap telah begitu mengganggu kehidupan kita. Adanya kesalahan dari orang tersebut yang membuat kita sangat sulit untuk sudi berteman kembali dengan mereka. Ketika kita menatap orang-orang ini, yang ada hanyalah kekesalan, merasa patut untuk menghakimi orang tersebut, atau sekedar memang orang itu tak perlu lagi ada dalam kehidupan kita. Namun memang, terkadang muncul perasaan tidak damai dalam hati kita, mengapa ada orang-orang yang kita “blacklist” seperti ini, padahal sesungguhnya kita memiliki Allah yang bahkan rela membenarkan diri kita yang memang selayaknya masuk daftar “blacklist”-Nya karena dosa-dosa kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali pula akan betapa besarnya kasih Tuhan atas hidup kita, dan meminta pertolongan-Nya, yakni untuk melembutkan hati kita sehingga kita bisa mengampuni orang tersebut. Dalam Injil Matius 18:21-22, Tuhan Yesus memesankan murid-muridNya (khususnya Petrus yang bertanya kepadaNya) untuk mengampuni bukan hanya sebanyak “tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Ini artinya bahwa pengampunan itu haruslah terjadi terus menerus, seperti Kristus yang sudah mengampuni dosa kita yang begitu hina dan tidak layak di hadapanNya ini.

Ya, kira-kira demikianlah perenungan singkat yang bisa ku-share saat ini, dalam momen hari raya saudara-saudara kita sebangsa yang telah merayakan Hari Raya “Bermaaf-maafan” ini. Semoga kita bisa kembali merenungkan kembali kasih-Nya yang besar atas hidup kita, sehingga kita bisa rindu untuk memaafkan dan bersandar kepada Tuhan untuk dimaafkan, sebagai satu keluarga di dalam Tuhan kita.

Sunday, March 20, 2016

My Self Reflection on 20 at 20

My Self Reflection on (March) 20 at 20 (years old)

Sungguh mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku telah dihantarkan ke tingkatan usia yang baru, yang berarti bahwa Tuhan sudah menyertai selama kira-kira 2 dekade dari usiaku. Sudah hampir 1/5 abad aku hidup sekarang, dan itu semua merupakan anugerah Tuhan. Kini aku berusaha kembali menatap pula, akan apa yang telah kulewati selama hidup ini, khususnya di bagian mulai dari SMP, memori yang masih cukup kuingat.

Ya, di usiaku yang kira-kira 12 tahun, aku masuk ke SMP, sebagai seorang “bocah” yang bawel, suka sekali akan banyak hal, dan senang untuk belajar (bahkan aku heran, kenapa dari SD sampai saat aku SMP, aku bisa serajin dan seniat itu, haha). Aku masuk saat itu sebagai angkatan pertama dari SMPK Calvin, yang menjadi awal mula perjalananku di masa ketika aku berusia belasan tahun. Singkat cerita, aku cukup menikmati akan masa SMP saya itu. Aku cukup menikmati persahabatan yang ada di sana, di mana saya boleh belajar bergaul, mengingat saya Ada suatu peristiwa khusus pada masa SMP, di mana saya belajar benar-benar, bahwa jalan dan rencana Tuhan belum tentu seperti yang pernah kita bayangkan atau impikan, bahkan terkadang hal-hal yang kita rasa bahwa kita tak mampu, dengan belas kasihan Tuhan dan didorong keinginan berusaha, akan membuahkan hasil yang indah. Segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Di masa SMP ini pulalah, aku sempat mengalami suatu masalah dengan dunia persahabatan saya, yang terjadi karena adanya persaingan di kelas yang menurutku sekarang memang sangat kurang sehat. Gesekan pertama yang paling kentara yang aku alami saat SMP, yang kini aku lihat pula sebagai pertanda adanya masalah dalam diriku. Masalah itu adalah, aku yang merasa benar pada dirinya sendiri dan agaknya melupakan Tuhan sebagai Sang Kebenaran Mutlak yang satu-satunya. Singkat cerita, pada akhirnya aku berbaikan kembali dengan teman saya itu, dan timbullah persahabatan yang diperbaharui dan menjadi indah. Namun masalah “self-righteous” dalam diriku masih belum selesai...

Perlu kukatakan pula, pada masa SMP-SMA saya dulu, saya adalah orang yang begitu ambisius, baik dalam pelajaran di kelas maupun mencari prestasi di luar. Di sinilah pergumulan saya yang lain, yakni bagaimana saya memuliakan diri saya sendiri, atau memberikan segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Mengucap syukur, bahwa sejak awal di SMPK Calvin dan di gereja, aku belajar bahwa tujuan utama manusia ada adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia untuk selama-lamanya (Westminster Shorter Cathecism pertanyaan pertama). Suatu konsep yang boleh menjadi kontras jelas dalam hidupku, menjadi pembanding mutlak yang lama aku pegang sebagai konsep di otak saja, tapi dalam hatiku aku belum benar-benar mau terima.

Lalu perlu pula kukatakan, bahwa bahkan dalam diriku, ada dua kecenderungan yang sebenarnya bertentangan. Di satu sisi, aku berusaha untuk menjadi orang yang rendah hati, meski terkadang ternyata hal itu kulakukan untuk membangun citra diri yang baik, yang sesungguhnya merupakan motivasi yang kurang baik. Di satu sisi aku juga memiliki suatu tembok, di mana aku merasa bahwa aku memiliki “level” yang lebih tinggi dari teman-temanku, yakni dengan kemampuan-kemampuan yang aku miliki, yang harusnya kusadari bahwa itu semua merupakan anugerah Tuhan saja. Dengan sikap seperti inilah, aku menjadi orang yang begitu PeDe (percaya diri yang tinggi), tak perlu takut dikritik atau diejek oleh teman-temanku, karena aku memiliki hal yang lebih dari temanku kebanyakan. Aku dengan begitu PeDenya merasa, apapun yan gaku mau capai, dengan dukungan usahaku sendiri, pasti dapat kucapai. Hal ini pulalah yang Tuhan kikis, terutama di masa SMAku.

Di masa SMAku (dalam SMAK Calvin, sebagai angkatan ketiga), aku masih membawa paradigma (pandangan) yang cukup rusak seperti itu. Aku merasakan bahwa aku mampu untuk mendapat segala yang kuinginkan, baik dalam prestasi maupun dalam membangun citra diri di antara teman-temanku. Dan di sini aku mulai mendapat “tamparan-tamparan” dari Tuhan. Beberapa pencapaian yang ingin kucapai, akhirnya Tuhan tak mengizinkannya. Hal itu masih bisa kuterima karena memang hal-hal itu tak mudah tercapai. Satu hal yang membuatku akhirnya makin sadar, adalah mengenai keretakan kedua yang kualami dalam pertemananku ketika aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar pertemanan. Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu maksudku di sini. Intinya, pertemanan di antara kami yang seharusnya memiliki hubungan pertemanan yang baik, ketika Tuhan sesungguhnya menaruh kami dalam sekolah dan di gereja, namun justru semakin lama, hubungan pertemanan kami malah semakin buruk. Aku sendiri juga dalam waktu yang cukup lama mengeraskan hati dengan pembenaran diri dalam diriku, menganggap diriku pantas untuk mendapatkan apa saja yang aku mau karena kualitas "tinggi" yang ada dalam diriku. Sampai di suatu titik jenuh, pada akhirnya aku sadar betapa aku dalam kesombonganku, telah membuatku merusak pertemanan yang sesungguhnya telah dianugerahkan oleh Tuhan. Aku telah begitu menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan. Singkat cerita, pertemanan ini belum benar-benar pulih kembali, karena memang mungkin Tuhan masih ingin mengingatkanku untuk tidak lagi bertinggi hati. Dalam hal inilah aku akhirnya merasakan apa namanya keputusasaan, yang bermula karena keangkuhanku dan ketidakpedulianku terhadap hati dan perasaan orang lain yang aku sakiti.

Aku juga sadar kesalahan yang kulakukan dalam pertemananku secara keseluruhan dengan teman-teman SMAku. Aku sadar betapa secara sadar namun seringkali aku sangkali, bahwa aku seringkali meninggikan diriku. Aku sadar pula betapa ambisi telah membutakanku terhadap anugerah Tuhan.

Melihat kembali ke masa SMP-SMAku, aku melihatnya lebih cenderung sebagai masa kegagalanku, meski kuakui ada hal-hal yang orang lain boleh katakan merupakan keberhasilanku. Ketika kupikirkan kembali, aku berkesimpulan bahwa memang inilah masa kegagalanku, karena ketika aku berhasil, itu merupakan anugerah Tuhan. Namun ketika aku gagal, itu karena aku menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang seharusnya aku usahakan, dan mengembalikannya bagi kemuliaan Tuhan saja. Ketika aku mencoba mencuri kemuliaan-Nya dan mengambilnya untukku sendiri, yang kupetik hanyalah buah kegagalan. Ya, memang inilah peringatan yang Tuhan berikan bagiku. Bersyukur kepada Tuhan, yang telah mengikis keangkuhanku, dan menyadarkanku untuk kembali bersandar hanya kepada Tuhan saja.

Singkat cerita lagi, memasuki masa kuliahku, yang sekarang telah menginjak tahun kedua, di jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Unuversitas Indonesia. Mengucap syukur atas anugerah-Nya sehingga aku boleh berkuliah di "kampus perjuangan". Mengucap syukur atas segala ilmu yang boleh kunikmati, dan juga atas teman-temanku di sini yang merupakan kumpulan pemuda-pemudi dari seluruh pelosok Indonesia. Bersyukur pula kepada Tuhan, yang telah memberiku wadah persekutuan mahasiswa yang indah di sini.

Terakhir, aku ingin berterimakasih pula, pertama-tama kepada orang tuaku yang telah membesarkanku hingga kini. Bersyukur untuk guru-guru di SMP-SMAku di Calvin, yang telah mendidikku. Berterimakasih pula untuk teman-temanku dulu di SMP-SMA, di mana kalian telah dipakai Tuhan untuk boleh membentukku pula sampai aku menjadi seperti sekarang ini. Berterimakasih pula secara khusus untuk dua temanku, yang telah membuatku benar-benar mengerti apa artinya rendah hati di hadapan Tuhan.

Aku ingin menutup tulisan pengucapan syukurku ini dengan sebuah lagu yang menjadi kerinduanku ke depannya..
Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus
Kau yang maha tahu dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagiMu

T'lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis di hidupku
Ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia

Seperti Engkau telah mengikis keangkuhan Musa selama 40 tahun sebelum Engkau memakainya menjadi hamba-Mu, Engkau telah mengikis keangkuhanku juga. Seperti kerinduan Daud, kiranya Engkau yang berkenan terus untuk menyelidiki hatiku ini, ya Tuhan. Biarlah aku boleh menjadi murid-Mu yang setia...

SOLI DEO GLORIA! Segala kemuliaan hanya kembali bagi Allah saja...

Friday, February 19, 2016

Refleksiku terhadap lagu "Open the Eyes of My Heart"

Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You
To see You high and lifted up
Shinin' in the light of Your glory
Pour out Your power and love
As we sing holy, holy, holy

Lagu yang memang enak untuk didengar, simple, namun cukup memiliki arti yang dalam. Setelah kurenungkan kembali, ada yang kudapat pelajari setelah memikirkan akan lagu ini, yang bisa kita renungkan bersama-sama.. Ada 3 hal yang kudapat dari lagu yang sederhana ini.

1. "Open the eyes of my heart Lord, I want to see you"

Lewat kalimat ini perlu kita ingat, berapa banyaknya waktu di mana kita belum benar-benar membuka hati kita untuk Tuhan. Padahal Ia adalah Tuhan yang setia menyertai kita dalam jalan hidup kita, sebagai Gembala Jiwa kita, orang-orang Kristen yang percaya dalam nama-Nya.Seringkali kita merasi mampu melalui hidup ini dengan kemampuan kita sendiri, tanpa bimbingan dari Tuhan. Atau ada pula dari kita yang adalah orang-orang yang apatis, yang menganggap bahwa emang hidup ini dijalani saja dengan pasrah, lewatkan begitu saja, dengan melupakan bahwa ada Tuhan yang berkuasa yang akan menolong kita jika kita membuka hati kita untuk Tuhan.
Ingatlah saudara-saudara yang terkasih dalma Tuhan, bahwa kita perlu terus memohon kepada Tuhan supaya mata hati kita terus dibukakan, supaya kita bisa melihat apa kehendak-Nya yang ia ingin jalankan dalam hidup kita.

Wahyu 3:20 berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk  mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." Bukalah "pintu" hati kita untuk mendengar suara kehendak Tuhan yang akan menuntun kita.

2. "To see you high and lifted up, shining in the light of Your glory"

Seringkali kita mengangkat diri kita sebagai yang tertinggi dalam hidup kita tanpa kita sadari atau bahkan ada yang sadar 100%. Kit menjadikan diri kita sendiri bertahta atas hidup kita. Kita meninggikan diri kita dan mengangkat diri kita lebih dari yang lain. Kita mengutamakan keinginan kita dipenuhi, dan tidak memikirkan sesama kita yang lain, apalagi Tuhan. Padahal sesungguhnya hidup kita, sebagai umat Kristen yang percaya kepadaNya, sesungguhnya merupakan milik Kristus yang telah menebus kita melalui pengorbanan DiriNya sendiri, sehingga kita bukan lagi milik maut, tetapi milik Tuhan.

Roma 3:23-24 menyatakan: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan oleh kasih karunia telah dibenarkan   dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." Ingatlah bahwa hidup kita milik-Nya, maka kita perlu pula hidup bagi kemliaan-Nya, bukan bagi kemuliaan diri.

Lord, forgive us that we often put ourselves high and lifted up, instead of hoping to see You high and lifted up, shining in the light of Your glory.

3. "Pour out Your Power and Love, as we sing holy, holy, holy"

Lewat bagian ini kita perlu ingat senantiasa untuk bersandar kepada Tuhan saja dalam segala sesuatunya, selalu berharap akan kekuatanNya untuk menopang kita dalam hidup ini, dan rindu dipenuhi kasih Tuhan sehingga kita boleh menjalani hidup ini dengan penuh sukacita. Dan ingatlah bahwa kita yang telah hidup dalam kasih Kristus yang telah menebus kita, kita harus pula hidup kudus di hadapanNya.

Filipi 2:14-15 mengatakan: Do everything without grumbling or arguing, so that you may become blameless and pure, “children of God without fault in a warped and crooked generation.” Then you will shine among them like stars in the sky." (NIV) Kita bukan hanya digerakkan supaya rind untuk melihat Allah dalam kemuliaan-Nya, tetapi Ia berkenan pula menggerakan kita untuk hidup kudus sehingga bias bersinar pula seperti "bintang" di tengah dunia ini.

Lord, thank you that not only we can see You shining in the light of Your glory, but also brought us to holiness so we can reflect Your light as "stars" in this world.

-----------------------------

Biarlah ini bisa menjadi perenungan kita bersama-sama. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua, hai semua saudara-saudaraku dalam Kristus.