Powered By Blogger

Friday, March 20, 2020

Reflection on the 24th year of My Life [1]


Yeah, ga kerasa sih setahun lagi usia udah berlalu. Setahun lagi Tuhan udah menyertai, Ebenhaezer. Sampai di momen ini Tuhan udah membimbing aku ke titik ini. Setahun yang cukup banyak pasang surut kehidupan, setahun yang memberi banyak pelajaran, khususnya belajar untuk percaya bahwa waktuNya Tuhan adalah waktu yang terbaik, bukan waktuku, bukan agendaku. Bahkan sampai momen hari ini. Tentu banyak dari kita ngeh soal perCOVIDan yang melanda dunia dan juga Indonesia tak terluput darinya. Banyak dari kita yang pengen ketemu bercengkrama dengan teman, sahabat, atau kerabat lainnya, yang akhirnya gabisa kita lakukan karena perCorona-an ini. Huft. Especially for me that is an Extrovert (actually an ENFP, more like introverted extrovert), ga ketemu temen itu cukup berat sih. Yah setidaknya perlu sabar dalam kurang dari 2 minggu kedepan, Social Distancing... Yah, mungkin memang keberadaan virus ini bertujuan untuk menyadarkan kita, manusia, bahwa yah tubuh kita ini fana dan rentan sekali, dan sangat disayangkan kalau ga ada pegangan tangan Tuhan yang menopang hidup kita.

Mungkin ngulang balik ke titik setahun lalu. Momen di mana di satu sisi mengambil keputusan yang cukup besar, yakni lanjut S2 (sekarang aku berkuliah S2 di Magister Ilmu Biomedik FK UI). Dan di satu sisi yang lain, dalam sisi yang lebih pribadi, yang ingin ku share juga, yakni mengenai esensi dari makna kehidupan kita yang fana saat ini. We are all mortal and will die in time. But what’s next? Sebagai orang beragama, tentu banyak dari kita (dengan cukup take it forgranted) mengganggap ada lah afterlife, adalah alam jiwa. Namun cukup banyak loh orang khususnya kalangan yang mengaku punya pemikiran sangat ilmiah bilang kalau hidup kita yang sekarang ya udah adanya itu aja. Mati, kelar. Ga ada apa-apa lagi. 

Perenunganku ini mulai dari lihat suatu video soal apa yang terjadi saat manusia mati, gimana tahapan pembusukan tubuhnya sampai tinggal tulang. Yang makes me ponder, is it reallt afterlife waiting for us? Dari lumayan muda kira-kira mungkin SMP, aku takut yang namanya kematian. Mirip mungkin kayak ketika bayangin sebelum lahir gimana, ga kebayang kan. Boro-boro sebelum lahir. Memori umur 3-4 tahun aja mungkin sayup-sayup atau bahkan ga keinget sama sekali. Actually bahkan aku sendiri bisa lupa momen-momen yang aku jalani waktu SMP/SMA sama teman-teman, sebelum akhirnya diingatkan dan aku terheran sendiiri, kok aku bisa segitunya, kok aku ambisius banget sih, kok aku rada-rada aneh ya. Hehe. Yah masa muda.

Yah intinya dari masa-masa ini aku ingat-ingat kembali dan mungkin hasil perenunganku, hasil aku coba-coba baca-baca dan nonton-nonton video khususnya yang didasari oleh terang Firman Tuhan dan kesaksian orang Kristen, aku mulai mencoba untuk agak meyakini, meski toh masi takut dengan kematian, bahwa yes there is afterlife. Mungkin agak ga mainstream, but one of the evidence is video-video testimoni soal Near Death Experience.Di mana ada orang-orang yang sempat dinyatakan clinically dead tapi akhirnya hidup kembali. Ada dari orang-orang ini yang mengaku pas di meja operasi, di mana udah dipastikan tubuhnya ga berfungsi dan otaknya tidak beraktivitas sama sekali, ada yang mengaku bisa melihat alat-alat, dokter yang mengoperasinya, dan beberapa perlakuan yang dilakukan pada tubuhnya yang ga sadar. Dan para dokter mengklaim bahwa memang itu benar adanya. Wow, such an evidence mungkin kalau memang out of this body, we still have live. Ada yang mendeskripsikannya sebagai pengalaman begitu luar biasa, badan terasa ringan sekali, sampai akhirnya ketika kembali ke tubuhnya, orang itu merasa seperti kembali ke kolam yang begitu dingin, dan akhirnya tersadar di meja operasi. 

Fun fact, salah satu pendorongku untuk akhirnya masuk ke jurusan ilmu biomedik dan khususnya mau riset ke arah neuroscience adalah untuk menemukan tentang what is conciousness, apa itu kesadaran. Karena memang ada hal-hal yang belum terjelaskan oleh ilmu sekalipun soal bagaimana kepribadian seseorang terbentuk, what makes a person as person. Apa memang hanya otak yang terlihatlah yang mengontrol tubuh dan mendefinisikan seorang manusia? Nah seperti yang aku sudah renungkan, yah tidak sesimpel itu. Conciousness masih menjadi misteri, dan aku rindu untuk menggapproach batas untuk menemukan apa itu kesadaran dengan jalur ilmu neuroscience ini. Yah, pencari makna kehidupan. Tadinya S1 Fisika yang dari situ mempelajari esensi alam semesta yang terbesar sampai inti atom yang terkecil, sekarang mau belajar kompleksitas kesadaran manusia, haha. 

Memang benar kata Alkitab menurutku...

Genesis 1:1-2 : In the beginning, God created the heavens and the earth. The earth was without form and void, and darkness was over the face of the deep. And the Spirit of God was hovering over the face of the waters.

Tadinya bumi belum berbentuk, kacau. Seperti sisa kekacauan yang ada dalam tingkat subatomik, di mana posisi elektron dalam tiap atom kita pun ga pasti dan perlu perhitungan probabilitas kuantum ala-ala Heisenberg (google it if you want to know, haha). Sampai akhirnya Tuhan membentuk semuanya menjadi teratur. From chaos to order. Sampai puncak ciptaan, yakni kita, manusia, Image of God

Genesis 1:26-27 : Then God said, “Let us make man in our image, after our likeness. And let them have dominion over the fish of the sea and over the birds of the heavens and over the livestock and over all the earth and over every creeping thing that creeps on the earth.” So God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female he created them.

Dari kekacauan subatomik sampai ke alam semesta yang teratur dan akhirnya kita, manusia dengan kesadarannya, dengan potensinya untuk mengeksplorasi alam ciptaan anugerah Tuhan. It’s so wonderful.

And then  .... Let’s just make this into two parts, I guess. Agak panjang juga ternyata abis nulis wkwk. Another struggleku akan kutulis di part berikutnya... Cheers...

No comments:

Post a Comment