Powered By Blogger

Sunday, December 27, 2015

Kehilangan

Kehilangan

Kata yang familiar bagi kita semua. Kita semua pernah mengalami yang namanya kehilangan, mulai dari kehilangan hal yang sepele sampai hal-hal yang begitu berharga dalam hidup kita. Mulai dari barang-barang yang cukup umum ada, sampai ke relasi yang berharga antarsesama kita. Ya, tentunya semua di antara kita pernah mengalami kehilangan (kecuali mungkin engkau orang yang begitu beruntung (?)) bahkan ada yang sering mengalaminya. Namun yang akan kubahas di sini adalah lebih ke arah mengenai kehilangan sesuatu hal yang cukup substansial, yang berhubungan dengan arah dan tujuan hidup kalian, mungkin dari target pribadi yang tak tercapai sampai relasi yang memudar dengan sesama yang kita anggap penting.
Ya, di sini kehilangan yang akan kubahas adalah hal yang leibh berhubungan dengan arah kehidupan itu sendiri, yang kita sendiri tak tahu pasti setiap kita jalannya akan ke mana. Kita seringkali menentukan target demi target dalam hidup kita (apalagi sesaat lagi kita akan memasuki tahun baru, dengan resolusi-resolusi yakni target tahun depan), semua pencapaian yang mau kita raih. Namun mungkin target-target itu bukanlah suatu hal yang cukup dekat dengan realita hidup kita yang ada, sehingga mungkin sekali target (yang biasanya cukup muluk-muluk dan sangat idealis, apalagi tidak disertai tekad yang kuat dan motivasi yang benar) itu tidak tercapai. Ada kalanya kita akan menjadi begitu menyesal, mengapa kita tak mampu mencapai target tersebut. Kita merasa kecewa pada diri kita sendiri dan bahkan mungkin kehilangan arah hidup. Beberapa contoh yang bisa kuberikan di sini mengenai target-target yang muluk-muluk itu adalah misalnya prestasi yang ingin dicapai, keuntungan materil yang ingin dikejar, posisi-posisi yang ingin diraih (seperti mungkin, posisi penting dalam organisasi), dan lain sebagainya.

Satu sisi kehilangan yang lain yang bisa kuberikan di sini adalah masalah kehilangan relasi dengan orang-orang yang kita anggap penting dalam hidup kita. Mungkin di antara kita ada yang mempunyai relasi yang kurang baik dengan orangtua mereka, merasa orang tua kita terlalu mengekang atau mungkin terlalu sok tahu dan kepo (atau sok peduli, ikut campur), dan kita rasa diri berhak mengatur hidup kita sendiri tanpa bimbingan mereka. Lalu terjadilah cekcok dan akhirnya hubungan kita merenggang. Dan di satu titik, tentunya (bila memang seorang anak tersebut sadar akan kesalahannya), ia akan menyesali sekali akan perlakuaannya yang kurang baik dengan orangtuanya.

Atau contoh lainnya misalnya adalah kehilangan relasi dengan sahabat kita. Mungkin adanya cekcok dalam persahabatan yang biasanya terjadi, tapi kali ini yang berujung pada runtuhnya persahabatan tersebut akibat runtuhnya rasa saling percaya karena adanya bumbu-bumbu pengkhianatan, mungkin saling membocorkan rahasia yang seharusnya tidak dibuka-buka sembarangan, atau sampai hal sepele misalnya tidak mau memberi contekan saat ujian (yang ini sih memang sesungguhnya salah, jangan dipraktekan ya). Intinya, ada keegoisan antarpribadi yang saling bertabrakan, sehingga hubungan persahabatan yang seharusnya makin terikat kuat, justru makin terpisah. Kemudian, setelah beberapa lama mungkin terjadi refleksi diri, akhirnya kita begitu menyesal akan apa yang telah kita lakukan, dan kita merasakan bahwa semuanya sudah terlambat untuk menyelesaikan masalah relasi tersebut akibat keegoisan kita sendiri. Kemudian contoh lain yang bisa kita pikirkan adalah kehilangan target cinta (uh, agak mainstream ya), di mana kita mungkin sempat menargetkan untuk mendapatkan pasangan yang begitu perfect buat kita, tapi melupakan untuk bercermin diri. Kita terlalu malas untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik, dan menuntut mau mendapat pasangan terbaik yang bisa mungkin meningkatkan status kita ataupun motivasi lain yang salah. Dan yang sering terjadi adalah, timbulnya penyesalan atas kegagalan menjalin relasi dengan someone special tersebut dan keretakan hubungan yang tidak seharusnya terjadi kalau dari awal kita tidak berlaku egois.

Dari sekian banyak hal di atas, perlu digaris bawahi sekali lagi akan satu kata, yakni judul di atas, kehilangan. Inti dari seluruhnya adalah kehilangan sesuatu hal yang kita rasa penting dalam hidup kita, dan seringkali bahwa hal tersebut tidak akan dapat kita raih kembali. Kita merasakan penyesalan, bahkan seringkali hal tersebut menghambat langkah kita ke depan untuk boleh memperbaiki diri kita. Mungkin bahkan kita melihat diri kita telah begitu rusaknya, sehingga kita kehilangan semua yang kita ingin dalam hidup kita. Dalam masalah relasi dengan sesama, mungkin kita pula merasakan rasa bersalah yang begitu mendalam dengan sesama kita, sehingga kita tenggelam dalam rasa bersalah kita, merasa diri nothing, pantas untuk menerima hukuman yang setimpal akibat pemikiran kita yang egois.

Satu langkah pertama yang penting yang harus kita jalani ketika mengalami kehilangan seperti ini, adalah menyadari bahwa rasa kehilangan dalam hati kita itu memang diperlukan. Mungkin memang ini cara satu-satunya sehingga kita bisa melihat kembali segenap motivasi dan arah hidup kita, sehingga kita bisa melihat secara objektif bahwa memang setiap motivasi yang salah tersebut membawa kegagalan dan kehilangan dalam hidup kita. Sadarilah bahwa memang jalan hidup yang telah kita ambil adalah salah. Inilah langkah pertama.

Langkah kedua adalah bagaimana kita bisa kembali ke jalan yang benar setelah kita kembali merefleksikan segenap penyesalan kita dahulu. Mungkin dalam beberapa hal, perlu ada sikap memaafkan diri supaya kita bisa kembali melangkah dalam hidup kita dan tidak terjebak dalam penyesalan masa lalu. Setelah kita mengkoreksi diri kita secara benar (tentunya dengan rendah hati meminta pertolongan Tuhan), barulah kita bisa mengatur kembali arah dan tujuan hidup kita. Inilah seringkali cara Tuhan untuk mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik  dan sesuai apa yang Ia mau dalam hidup kita.
Aku akan menutup tulisan singkat menjelang tahun baru ini dengan sebuah kalimat dari Matius 5:3, yang berbunyi Berbahagialah orang yang miskin (inggris: poor in spirit) di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Inilah pernyataan yang mungkin bisa menjawab pergumulan kita mengenai kehilangan sesuatu yang  kita rasa penting dalam hidup ini. Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat kita merasa menyesal dan juga seringkali berujung pada rasa kekosongan dalam hati kita. Dan sekali lagi sadarilah, bahwa inilah cara Tuhan untuk menegur kita, sehingga kita tidak menjalani kehidupan ini dengan semau kita, tapi semau Tuhan. Rasa kekosongan dan rasa bersalah yang berujung pada rasa ketidaklayakan yang terbentuk dalam hati kita inilah yang mau Tuhan pakai untuk membuat kita lebih lagi gentar dan taat untuk mengikutNya dengan lebih satia. Kiranya kalimat dari Matius 5:3 boleh menjadi penghiburan dan pembelajaran penting buat kita.

Thursday, August 27, 2015

Maafkan Aku, Kawan

Mengingat kembali masa lalu kita, tentu banyak hal yang kita ingat dengan berbagai rasa yang ada, ada yang manis, ada yang pahit. Kita mengingat kembali sahabat-sahabat kita dulu, yang melangkah bersama kita dalam hidup ini. Namun ketika keegoisan meracuni persahabatan, maka rusaklah ikatan yang indah itu. Beberapa dari kita mungkin kehilangan sahabat yang seharusnya kita kasihi dalam kasih persaudaraan yang hangat, yang rusak karena dinginnya keangkuhan kita. Dan pada suatu titik, muncullah penyesalan atas memori-memori yang mengecewakan itu, di mana kita kecewa akan diri kita sendiri yang dulu.

----------------------------------------

Maafkan Aku, Kawan

Ketika kuingat kembali akan hidupku
Menelusuri jalan hidupku yang tlah kulewati
Menatap lagi jejakku di masa lalu
Tak terasa begitu banyak momen kulangkahi
Dan juga kelalaianku yang kini masih kusesali

Ketika kuingat kembali akan engkau, kawan
Menelusuri pasang surut persahabatan kita
Menatap lagi bagaimana kebersamaan kita
Betapa banyak waktu yang telah kusia-siakan
Sia-sia karena keangkuhanku
Yang menyebabkan luka di hatimu
Sia-sia karena keegoisanku
Yang memanfaatkanmu untuk memuaskan ambisi pribadiku
Dan membuatku lupa bahwa selayaknya
Kita berbagi suka dan duka bersama
Dalam suatu persahabatan yang seharusnya indah

Maafkan aku, kawan
Rasa penyesalanku sungguh meluap di hatiku
Aku begitu kecewa pula melihat diriku dulu
Yang tak pantas lagi menjadi kawanmu
Sempat aku meragukan akan diriku sendiri
Sampai ketika Sang Penuntun membuka mataku
Membaharui hatiku dengan kasih ilahi
Menerangi jalanku ke depan

Lalu kuingat engkau kembali kawan
Dan sekali lagi
Maukah engkau maafkan aku, kawan
Maukah engkau kembali memegang tanganku
Bergandengan tangan kembali
Sehingga engkau melangkah bersamaku
Menuju masa depan penuh pengharapan
Dan aku percaya
Sang Penuntun akan mengiring langkah kita bersama
Membaharui persahabatan kita yang dulu tlah retak
Menyembuhkan tiap luka perih di antara kita
Memampukan kita menyongsong persaudaraan yang indah

----------------------------

Lika-liku perjalanan kehidupan kita, termasuk persahabatan kita, adalah hal-hal yang mungkin sekali dipakai Tuhan, Sang Penuntun, untuk membuat kita sadar akan kesalahan kita dan merendahkan hati kita. Hal ini akan membuat kita lebih bersandar kepada-Nya. Biarlah Ia bekerja, dan biarlah dalam waktu-Nya, tiap-tiap persahabatan dalam hidup kita menjadi suatu persaudaraan yang indah dan diikat dengan kasih yang sejati. Biarlah Ia membaharui diri kita dan persahabatan yang Ia anugerahkan untuk mengiringi hidup kita.

Semoga tulisan ini menginspirasi Anda.

Tuesday, August 4, 2015

MY WAY is not your way

Kita mungkin pernah merasakan bahwa hidup kita tidaklah selalu lancar dan sesuai keinginan kita. Ada saat-saat di mana kita merasakan kegagalan yang melumpuhkan kita, rasa sakit hati karena keputusasaan, ataupun perasaan bahwa hidup kita ini hanyalah suatu kesia-siaan.

Ya. Mungkin saat-saat seperti inilah yang mau Tuhan pakai untuk menunjukkan betapa salahnya kita selama ini. Betapa kita telah berusaha mencapai ambisi pribadi kita yang sesungguhnya egois dan tidak menjadi berkat. Seolah-olah Ia berkata kepada kita bahwa memang "Jalan-Ku bukanlah jalanmu, MY WAY is not your way."

------------------------------

Jalan-Ku bukanlah jalanmu

Pada masa kelam yang kuingat itu
Di mana aku merasa bahwa kini sia-sialah kumenempuh jalanku
Ku rasakan kepahitan dari keputusanku dulu
Dan kini kutersesat dalam kehampaan

Dulu aku merasa bahwa jalanku tlah benar
Aku meyakini bahwa jalanku ini akan menuntunku kepada kejayaan
Membawaku menuju masa depan yang cerah
Namun kini, aku sadari bahwa semua itu hanyalah angan-angan semu
Kenaifanku yang palsu telah menyesatkanku
Membawaku dalam lembah keputusasaan

Apa yang kuimpikan dulu, ternyata sia-sia belaka
Aku yang mengimpikan kejayaanku
Kini terjerembab dalam bayang kegagalan
Aku yang mengimpikan kesempurnaan
Kini dihantui dengan rasa bersalah
Aku yang mengimpikan kedamaian
Kini hanya bisa menyesal
Menyesal telah melukai hati sesamaku
Yang seharusnya kukasihi dengan tulus

Kini
Aku hanya bisa terkapar dalam penyesalan
Membeku dalam kesia-siaan
Mendekam dalam kehampaan
Sampai suatu ketika, suatu sosok bercahaya menghampiriku

Ia menghampiriku dengan kehangatan
Menghangatkanku dengan sukacita yang tlah lama hilang dariku
Memegang tanganku dengan tangan-Nya yang kuat
Menatapku dalam-dalam dengan keramahan
Dan tersenyum kepadaku

Saat itu kumerasa tak layak
Kutundukkan kepalaku dalam penyesalanku
Kurasa diriku sudah tak terampuni
Tak berani kumenatap wajah-Nya
Sampai saat Ia mengangkat kepalaku
Dan aku kembali menatap wajah-Nya

Ia berpesan dengan penuh kedaulatan kepadaku
"Ikutlah Aku,
tinggalkan hidupmu yang lama,
Jalan-Ku bukanlah jalanmu,
Ku akan menyertaimu senantiasa."

Kekuatan-Nya menyusupi tulang-tulangku
Sukacita-Nya membakar hatiku
Kasih-Nya membuatku merasakan kedamaian sejati
Dan aku meraih tangan-Nya
Melangkah dalam pimpinan-Nya dalam penuh keyakinan
Karena memang jalan-Nya bukan jalanku yang sia-sia
Dan Ia akan menuntunku senantiasa

-------------------------------

Inilah sedikit refleksiku akan kebenaran jalan Tuhan, sebagai respon dari khotbah hari pertama sesi pembukaan KIN Pemuda 2015 tanggal 4 Agustus. Kiranya boleh menjadi berkat untuk kita semua.

It's alright when you cannot trust yourself, because maybe God wants you to put your trust in Him!

Soli Deo Gloria... :)

Thursday, July 9, 2015

Keangkuhanku yang Sia-Sia

Keangkuhanku yang Sia-Sia, Sebuah Perenungan

Tulisan ini saya tunjukkan kepada setiap dari kita yang mungkin pernah menemukan ada suatu titik dalam kehidupan kita di mana kita merasa bahwa kita tak bisa percaya, bahkan dengan diri sendiri. Ada saat-saat di mana kamu sebelumnya merasa begitu cukup pada dirimu sendiri. Kamu merasa mampu menerjang dunia ini dengan kekuatanmu sendiri. Kamu pikir kamu mampu menghadapi berbagai rintangan kehidupan sendirian, menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Terkadang ada di antara kamu yang memiliki prinsip kehidupan yang mungkin membuat kamu berbeda dari teman-teman kamu, dan kamu mengganggapnya tidak masalah karena  kamu yakin bahwa prinsip yang kamu pegang itu benar.

Namun mungkin sekali kamu yang terlalu yakin pada diri kamu sendiri, pada suatu waktu akan jatuh dalam jurang ketidakpercayaan bahkan pada diri sendiri. Kamu mungkin pertama-tama merasa bahwa tak ada yang bisa menghentikan langkahmu kemanapun kamu mau melangkah. Ada ambisi-ambisi egoistik yang kamu pikir bahwa kamu layak untuk mendapatkan seluruh target yang mau kamu capai, meskipun itu mungkin akan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan persahabatan yang kamu miliki. Sampai suatu ketika kamu menemukan bahwa kamu sudah merusak yang berharga dalam hidupmu. Suatu titik di mana kamu melihat bahwa ambisi-ambisimu hanyalah kesia-siaan karena dilandasi oleh keegoisan kamu. Dan ketika kamu menatap kembali ke belakang, kamu akan merasa bahwa betapa banyak yang telah kamu rusak. Mungkin itu adalah kepercayaan dari orang tua kamu yang kamu kecewakan, pengharapan dari guru-guru yang pernah mendidik kamu yang kamu buang dan biarkan berlalu, atau mungkin pula ada persahabatan yang seharusnya menjadi indah, namun pada akhirnya kamu patahkan persahabatan itu demi ambisi gelap kamu yang egois.

Pada titik menatap ke belakang inilah yang membuat kamu akhirnya menyesali diri kamu, betapa kamu begitu telah merusak segala sesuatu di masa lalu, membuat dirimu kini begitu hancur hati dan rasa bahwa diri ini begitu tak bisa dipercaya. Diri yang telah begitu banyak membuat kerusakan, menghancurkan segala keindahan kehidupan yang bisa kamu nikmati hanya bila kamu dulu tidak egois dan lebih lagi memikirkan orang lain. Kini engkau bahkan tak berani lagi menatap ke depan, di mana kamu rasa bahwa dirimu mungkin sekali akan terus menerus terjebak dengan dirimu yang rusak, akan melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Engkau kini ragu akan dirimu sendiri dan sulit melangkah ke depan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keangkuhanku yang Sia-Sia

Inilah diriku
Yang dulu begitu angkuh dan jumawa
Merasa diri ini begitu kukuh tak bernoda
Melangkah sesuka hati
Tanpa merenungkan dengan baik akan saat nanti

Akulah pahlawan atas diriku sendiri
Atas hutan belantara kehidupan ini
Kukelilingi kedalaman hutan ini dengan pedang kesembonganku
Kutebang segenap pohon megah yang merintangiku
Kutebas semua binatang buas yang mencoba menghalangi langkahku
Bahkan kuhabisi makhluk-makhluk hutan yang kuanggap mengganggu langkahku
Tak ada yang lebih kuat dariku
Tak ada yang mampu melebihi bijaksanaku
Kan kucari harta terpendam di dalam hutan ini
Harta yang disertai dengan mahkota kemuliaan
Yang konon
Hanya orang terkuat dan terbijak yang boleh merengkuhnya
Hanya orang yang ditakdirkan langitlah yang boleh menikmatinya
Dan kuyakin dalam hatiku, bahwa akulah orang itu

Dan kusampai pada mulut gua
Gua yang kuyakini memiliki harta terpendam itu
Kuhancurkan penghalangku menuju gua itu dengan pedang andalanku
Yakni pedang kesombonganku
Yang kuyakini adalah ujung tombak dari kemuliaanku
Kurasa diriku layak menerima kemuliaan itu
Kulangkahi lorong gua itu dengan penuh keyakinan
Dengan sinar kebanggaan dari pedangku
Kan kulangkahi bahwa lorong-lorong tergelap sekalipun

Kutemukan bahwa langkahku menuju pada labirin
Yang menantangku untuk membuktikan seberapa layak diriku meraih harta itu
Kuyakin, tak ada rintangan yang kan mampu menghalangiku
Sampai pada satu langkah itu
Kulihat tampaklah sesosok manusia
Yang muncul di hadapanku lewat angin yang berputar hebat di sekelilingku
Dan baru kusadar bahwa dialah pelindung dari labirin ini
Sang Ratu Labirin
Matanya yang dingin nan menawan menatapku dalam-dalam
Dan kulihat lewat matanya itu
Pengelihatan akan masa laluku
Mengenai  betapa banyaknya kerusakan yang telah kubuat

Kulihat betapa indahnya hutan yang tadi kulewati
Yang kurusak dengan keinginanku yang gelap
Kulihat betapa harmonisnya kehidupan hutan ini
Betapa indahnya persahabatan antara binatang dan makhluk di sini
Sebelum akhirnya kukacaukan semua itu demi memuaskan jiwaku
Dan yang tersisa hanyalah
Kumpulan makhluk dan binatang yang merana karena kehilangan sahabatnya
Dan akhirnya kulihat kembali matanya itu
Kesedihan, kekecewaan, kemarahan
Semua itu terpancar lewat matanya
Tatapannya yang dingin merasuki sampai sedalam-dalam diriku ini

Pedang keangkuhanku yang kebanggakan
Kini dipatahkan sang Ratu dengan sekali kibasan tangannya
Dan kemudian menghilanglah ia dari hadapanku
Meninggalkanku dalam gua kegelapan ini
Memenjarakanku dalam labirin keputusasaan ini
Kini kusesali apa yang kulakukan di masa lalu
Kusadari bahwa ambisiku hanyalah kesia-siaan
Bahkan kini kutak tau kemana lagi ku harus melangkah
Ya, biarlah aku terkurung dalam kegelapan dan kedinginan labirin ini
Biarlah kegelapan hidupku menyatu seutuhnya dengan kegelapan ini
Kegelapan labirin keputusasaan dan ketidakpastian
Penjara kehidupan yang pantas bagi diriku yang tak lagi bernilai

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kira-kira inilah sedikit gambaran abstrak mengenai kondisi kita yang akhirnya berada dalam posisi tidak percaya lagi pada diri kita sendiri. “Kegelapan dari labirin keputusasaan” itu akan melingkupi kita cepat  atau lambat, ketika kita merasa cukup pada diri kita sendiri. Namun sekali lagi percayalah pada suatu hal ini, yakni bahwa dirimu memang tak bisa percaya akan diri kita sendiri.

Demikian sedikit tulisan saya. Semoga menginspirasi kalian.

Tuesday, May 5, 2015

Kembalikanlah Cahaya Kemuliaan Kami

Berikut puisi mengenai gambaran seorang rakyat jelata dengan pemikirannya yg Idealis yang mengharapkan kejayaan negerinya kembali, meskipun kini langit masa depan negerinya sedang diselubungi kegelapan awan dari tindakan korup para pejabat negeri yg tidak bertanggung jawab, dengan pemikirannya yang Pragmatis karena ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan mengacuhkan rakyat yang sengsara.

Semoga menginspirasi...

------------------------------------

Kembalikanlah Cahaya Kemuliaan Kami

Oleh Sion Halim

Inilah pesan dari hati terdalam kami
Ketika kami menatap ke langit yang begitu kelam di atas kami
Kami tahu kami ini rakyat jelata, ada di bumi
Dan kami tahu, ada dewa dewi khayangan yang ada di balik langit
Yaitu kalian, hai pejabat-pejabat tinggi yang kami puja

Hai para pejabat yang di atas sana
Yang bersemayam di atas tahta di Langit
Dengarkanlah jeritan kami, rakyat yang ada di bumi pertiwi
Kembalikanlah cahaya kemuliaan kami
Dengarkanlah seruan kami ini, oh Langit!

Kami begitu percaya dan yakin
Bahwa sesungguhnya ada cahaya kemuliaan yang terik ada di atas kami
Namun kalian, hai pejabat korup
Sepertinya kalian memang ingin menikmati cahaya kemuliaan itu sendiri
Kalian telah sewenang-wenang laksana dewa dewi tak berbelas kasihan
Kalian lingkupi langit kami dengan awan kekelaman
Awan-awan badai kerusakan
Yang kini melingkupi kami dengan angin ribut ketidakpastian
Menerpa kami dengan topan kekacauan negeri
Mencekik kami dengan hawa kemiskinan
Membanjiri kami dengan hujan sengsara yang tiada akhir
Dan itu semua engkau lakukan
Semata supaya kami tak dapat lagi merasakan cahaya kemuliaan itu
Dan hanya engkau, oh dewa dewi khayangan yang di atas tahta langit
Yang menelan seluruh cahaya kemuliaan itu
Tanpa membagi sedikitpun cahaya itu kepada kami
Kami, yang seharusnya mendapatkan cahaya itu kembali dari tangan kalian, hai dewa dewi khayangan
Yang hanya tertawa melihat kesengsaraan kami
Dan tahukah kalian, bahwa tawa itu laksana kilat halilitar
Yang hanya menambah sakit hati kami
Memupus harapan kami yang menginginkan negeri kami makmur bagaikan surga
Karena sepertinya, kami tak akan lagi melihat cahaya kemuliaan bagi negeri kami ini

Oh dewa dewi khayangan
Takdirmu dan tujuanmu bukanlah untuk itu
Sekali lagi, dengarkanlah jeritan kami!
Jeritan rakyat jelata yang ada di bumi pertiwi
Singkirkanlah awan-awan badai kehancuran negeri kami ini
Singkirkanlah tahta keangkuhanmu yang ada di langit sana
Tinggalkanlah khayanganmu, dan turunlah ke bumi ini
Dan lihatlah langsung, jerih lelah kami yang telah mengusahakan tanah air
Yang telah engkau begitu hinakan dengan keangkuhan dan keegoisanmu
Dan turunlah ke bumi
Lihatlah, betapa kami membutuhkan cahaya kemuliaan dari Sang Matahari
Untuk mengusahakan tanah kami ini
Untuk menumbuhkan benih-benih kejayaan negeri ini
Dan untuk membangun masa depan bangsa kami tercinta

Sampai sekarang awan badai itu masih melingkupi langit kami
Dewa dewi di khayangan sana sepertinya masih mengacuhkan jerit kami, rakyat jelata di bumi
Jeritan yang keluar dari perut-perut kami yang kelaparan
Jeritan yang keluar dari hati kami yang tak kuat lagi menahan derita sengsara
Jeritan dari kerinduan kami yang begitu haus akan secercah harapan
Harapan bahwa suatu hari negeri kami akan pulih
Harapan bahwa cahaya kemuliaan itu akan kembali melingkupi kami
Cahaya kemuliaan dari Sang Matahari
Yang dengan ramah akan menghangatkan hati kami
Dan sinarnya akan menerangi hari-hari kami
Menandai kembalinya kejayaan tanah air kami, tanah air Indonesia!

Oh, dewa dewi khayangan
Yakni para pejabat yang bersemayam di tahta keangkuhan kalian di langit
Turunlah ke bumi
Dan lihatlah betapa kami membutuhkan kejayaan itu
Betapa kami rindu sekali akan secercah cahaya kemuliaan itu
Dengarkanlah jeritan kami
Arahkan telingamu untuk memperhatikan permohonan kami
Arahkanlah matamu untuk menatap kesengsaraan kami saat ini
Oh, kembalikanlah cahaya kemuliaan kami
Supaya kami mampu melihat kembali cerahnya masa depan negara Republik Indonesia

--------------------

Puisi ini diikutkan ke dalam lomba Deklamasi Puisi dalam Pekan Seni Tiga FMIPA UI, 4 Mei 2015 bertemakan "Idealisme vs Pragmatisme"

Saturday, May 2, 2015

Sekolah Kehidupan

Menyambut Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini, yakni 2 Mei, berikut sedikit perenungan bersama yang kiranya bisa menginspirasi Anda...

-----------------------------

Sekolah Kehidupan

Sesungguhnya suatu anugerah ketika kita bisa bersekolah
Anugerah yang dari Sang Khalik bagi kita
Anugerah itu membuat kita boleh mengecap pendidikan
Boleh mendapatkan ilmu dari guru-guru kita
Yakni para pahlawan tanpa tanda jasa
Yang rela mendidik kita untuk mencerdaskan kita
Dan tentunya kita perlu berterima kasih atas kerja keras guru kita

Namun tahukah kalian
Bahwa sesungguhnya ada pula suatu sekolah yang sangat luas
Sekolah di mana semua orang menjadi muridnya
Di mana sekolah itu beratapkan langit
Dan beralaskan seluruh muka Bumi ini
Dan waktu belajarnya bukan hanya 3 tahun
Bukan hanya 6 tahun
Bukan hanya 9 tahun
Dan bahkan bukan pula 15 tahun
Melainkan seumur hidup
Pendaftarannya adalah saat engkau lahir
Dan wisudanya tak lain adalah maut
Kematian yang memisahkan jiwa dari raga
Ya, inilah sekolah kehidupan
Di mana mata pelajarannya adalah asam garam kehidupan
Dan ujiannya adalah takdir yang manis maupun pahit

Kawanku, baiklah kita menuntut ilmu dengan baik
Dan jangan merasa sombong ketika sudah lulus sekolah formal
Karena masih ada sekolah kehidupan
Di mana kita akan terus menjadi murid
Dan baiklah kita menjadi murid yang setia
Di bawah pimpinan dari Guru Abadi
Yakni Sang Bijak yang Kekal

Friday, March 20, 2015

Paradoks Umur

"It matters not the number of year in your life. It is the life in your years" - Abraham Lincoln

Untuk menyambut berkurangnya umurku satu tahun lagi, inilah puisiku mengenai paradoks umur, semoga menginspirasi! :)

----------------------------

Paradoks Umur

Ulang tahun seringkali dirayakan sebagai pertambahan umur
Padahal sebenarnya bukan seperti itu
Sesungguhnya
Umur telah berkurang
Pengalamanlah yang bertambah

Ingatlah kawan
Umur kita di dunia ini bagaikan awan
Yang sebentar terbentuk
Terbang melintasi ufuk
Kemudian makin menebal
Dan semakin tebal
Kemudian pada akhirnya jatuh
Sebagai titik-titik air yang membasahi bumi
Dan awan yang sama tak kan pernah kembali ada lagi

Demikianlah engkau
Engkau menjalani hidup ini
Berkelana melintasi langit kehidupan
Belajar mengepakkan sayap untuk terbang ke depan
Melewati berbagai kesulitan
Dan dari sana didapat pengalaman
Pengalaman yang terus menebal dalam hatimu
Kemudian pada akhirnya kita turunkan pada penerusmu
Dan ujungnya ketika waktunya tiba
Engkau harus relakan hidupmu lenyap
Dan dirimu yang sama tak kan pernah terulang ada lagi

Inilah hidupmu yang singkat
Kesempatanmu sangatlah terbatas
Namun nilai suatu hidup tidaklah diukur dari berapa panjang umurmu
Tapi lewat betapa banyaknya nilai yang kau toreh lewat hidupmu
Lewat betapa banyak orang yang telah merasakan berkat darimu
Dan terutama bagaimana engkau berjalan dalam kehendak Sang Pencipta

Mintalah Ia mengajarimu untuk menghitung hari-harimu
Sehingga engkau berbijaksana menggunakan hidupmu
Bersandarlah selalu pada-Nya
Karena Ia akan selalu membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya

Thursday, March 19, 2015

Padang Gurun Kehidupan

Kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya dapat digambarkan sebagai sebuah perjalanan. Seiring cukup tidak idealnya kenyataan dan banyaknya kesulitan dan konflik yang dialami manusia, banyak dari kita mulai memandang dunia dari sisi pesimistik, dan sisi pesimistik itu saya gambarkan di sini sebagai padang gurun, "padang gurun kehidupan"...

--------------------------------

Padang Gurun Kehidupan

Wahai kawanku
Sadarkah kalian bahwa
Kalian sedang berada di tengah padang gurun kehidupan
Di mana jalan ke depan begitu tak tentu arahnya
Di mana segala keganasan siap merintangi jalanmu

Dalam padang gurun kehidupan ini
Ada panas menyengat yang siap menggerogoti tulang-tulang kehidupanmu
Ada pencobaan kejam dari Sang Pembenci Kehidupan
Datang bagaikan kalajengking mematikan yang siap meracuni nuranimu

Melalui padang gurun ini
Berhati-hatilah terhadap oase kehidupan yang palsu
Mungkin dari jauh terlihat biru berkilauan dan sejuk
Yang membuat mata terasa begitu segar
Yang membawa kelegaan bagi dahaga kita
Yang memberi kekuatan baru kepada kaki kita untuk berlari mengejarnya
Namun sesungguhnya oase itu hanyalah fatamorgana belaka
Yang hanya akan meninggalkan hati kita dengan kekosongan
Menyayat sanubari kita dengan kekecewaan mendalam

Melalui padang gurun ini
Hanya ada satu hal saja yang mampu membawa kita keluar
Yang akan menghantar kita menerobos padang tiada akhir ini
Yaitu Peta Agung dari Sang Khalik
Yakni Kehendak-Nya yang dinyatakannya di dalam kasih
Kepada setiap dari kita yang dikasihi-Nya

---------------------------------

Kiranya kita semua berjalan dalam petualangan kehidupan ini dengan bersandar kepada Tuhan, Sang Khalik yang Mahakuasa dan Mahakasih...

Semoga menginspirasi Anda!

Soli Deo Gloria!

Tuesday, March 17, 2015

Cengkraman Masa Lalu

Sekilas ungkapan hati seorang yang telah salah melangkah dalam hidupnya, karena ia telah melukai hati seorang yang tak seharusnya dilukainya. Seorang yang dulunya menerjang segalanya demi ego dan gengsi dirinya, kini ingin melangkah ke jalan yang benar. Namun apa daya, masih ada utang masa lalu yang belum terlunaskan, yang akhirnya menggerogoti jalannya ke masa depan...

------------------------

Cengkraman Masa Lalu

Ada suatu waktu
Ketika aku dan ambisiku
Menuntutku untuk terus maju
Maju untuk terus memuaskan egoku
Setiap halangan bagiku tak berlaku
Setiap orang yang merintangiku
Kujamin akan kalah dan terbujur kaku

Namun pada satu langkah itu
Ketika kucoba langkahi semua
Yang kuanggap sebagai rintangan bagiku
Kulukai seseorang tanpa kusadari
Tak sadar karena sudah buta oleh ambisi
Menyangkali fakta karena ego telah terisi
Suatu langkah yang akan kusesali

Lalu arus ombak keadilan meraung meliputiku
Aku yang rasa diri begitu kuat tiba-tiba lemah lesu
Seluruh egoku runtuh berantakan
Dan kusadari kesalahanku
Namun tampaknya semua sudah terlambat
Luka yang telah kutoreh tak kan pernah hilang kembali
Karena itu telah membekas tajam dalam sanubari

Kini kucoba melangkah kembali
Dengan semangat baru yang asali
Menatap penuh harap ke depan
Menuju masa depan yang idaman
Tak lagi dibutakan ambisi
Tak lagi memuaskan ego diri

Namun ternyata
Masa depanku telah dipenuhi kabut ketidakpastian
Segala kecerahan dalam hidupku menjelma jadi kesuraman
Dan telah kusangka
Inilah bayang-bayang dia yang tak kan memaafkanku lagi
Bayang-bayang yang menggerogoti jalan masa depanku
Mencengkram diriku demi kesamarataan
Kesetimpalan yang kata orang merupakan "karma"
Yang layak diterima oleh diriku
Diriku yang dulu senang melukai yang lain demi harga diri
Namun kini menerima cengkraman masa lalu
Cengkraman yang akan menghisapku dalam jurang kepasrahan
Dan aku hanya bisa meratapi diriku
Yang tak kan pernah lagi mampu menatap masa depan
Karena bayangan masa lalu yang membutakanku
Dan suara-suara mereka yang tak kan pernah memaafkanku lagi
Suara-suara jeritan masa lalu yang akan terus menggentayangiku
Melingkupiku dan tak kan pernah melepaskanku dari cengkramannya

------------------------------

Pelajaran singkat dari puisi ini:

Berhati-hatilah ketika melangkah dalam hidup ini. Sadarilah ketika langkahmu telah dibutakan oleh ambisi pribadimu. Dan ketika masa lalu menghantuimu, cobalah berdamai dengan masa lalumu itu dan yang lebih konkrit lagi, berdamailah dengan orang-orang yang mungkin pernah kalian lukai. Mungkin memang luka yang sudah tertoreh akan sulit hilang, namun luka itu mustahil hilang bila memang tak ada usaha untuk menyembuhkannya.

Semoga menginspirasi Anda!

Saturday, January 3, 2015

Paradoks Kematian

Sekilas gambaran mengenai seseorang yang dalam hidupnya memiliki cita-cita dan harapannya sendiri, namun melupakan Tuhan dalam kehidupannya. Pada akhirnya yang direngkuhnya adalah kesia-siaan dan kerinduan untuk meninggalkan dunia ini.

---------------------------------------------------------------


Kematian

Kematian
Sebuah kepastian yang selalu dihindari manusia
Sebuah takdir yang selalu mau dilanggar oleh manusia
Dengan berbagai obat, mantera, bahkan teknologi
Namun tak ada manusia yang akan mampu menghindar dari kejaran kematian
Semua orang akan menjadi makanan di bawah pedang Sang Malaikat Maut
Tak ada seorangpun yang bisa bernapas untuk selamanya

Kita perlu ingat pula
Dalam dunia ini ada berbagai kesulitan
Dalam kehidupan ini ada begitu banyak kekejaman
Seseorang akan mengalami berbagai lika-liku kehidupan yang pahit
Ada berjuta ketidakpastian dan ketidakadilan
Yang akan membuat manusia akan merenungkan kembali makna hidupnya

Seseorang yang telah menaruh hidupnya untuk mengejar kekuasaan
Hanya akan menemukan dirinya ditelan oleh kekuasaan yang lebih besar
Seseorang yang telah mengumpulkan harta sebanyak mungkin
Hanya akan menemukan dirinya menghadapi kesia-siaan karena semua harta itu fana
Seseorang yang terus mau mengejar cinta untuk melengkapi kekosongan hidupnya
Hanya akan menemukan bahwa tak ada cinta sejati
Hanya akan merasakan bahwa kekosongan itu justru semakin besar
Menjadi lubang hitam yang akan menelan seluruh keberadaannya

Di dalam keadaan terdesak dan tanpa pengharapan seperti ini
Manusia hanya akan merindukan suatu hal
Hal yang selama ini ingin dihindari dan dikalahkannya
Menjadi suatu hal yang sangat ingin ia rengkuh
Menjadi suatu hal yang satu-satunya menjadi tujuan hidupnya
Yakni kematian

Seruan manusia dalam takdirnya di dunia yang pahit ini adalah,
"Oh kematian!
Maaf bila selama ini aku terus lari dari kejaranmu.
Maaf bila selama ini aku terus mau menyangkali bahwa engkau ada.
Kini engkaulah satu-satunya hal yang aku rindukan.
Karena tak ada lagi hal di dunia ini yang bisa kurindukan.
Semua harapanku telah sirna dan justru menjadi mimpi buruk yang terus menyiksaku.
Kini engkaulah yang harus datang kepadaku, kematian!
Akhirilah semua siksaan dan kepahitanku ini!
Dan biarlah aku ditelan oleh kekosongan untuk selamanya."