Thanks God, I’m still alive, and still having goals for now, goals that not really clear but I still could see ways to it. Ya, inilah mungkin yang membuatku bisa hidup sampai saat ini, di usia yang ke-21 (usia di mana udah bisa resmi beli minuman keras :v, but I don’t like that kind of drinks though)…
Ya, ucapan syukur ini didasari oleh bagaimana aku masi bisa melihat arah tujuan hidupku sekarang, meskipun memang belum benar-benar jelas apa tujuannya, tapi petunjuk-petunjuk dari-Nya mengenai jalan yang harus kuambil masih jelas. Aku kini masi menikmati perkuliahanku dan dapat melihat kira-kira setelah ini akan mau berjalan ke mana rencana hidup ini, meski memang aku masih belajar untuk menjadi lebih dewasa lagi, dan bagaimana aku boleh lebih lagi peka dan jeli untuk melihat apa rencana yang telah ditentukan-Nya bagiku kini.
Mungkin sedikit kontras yang belakangan ini membuatku cukup terkaget karena melihat, betapa desperatenya orang yang tidak lagi memiliki tujuan hidup yang lebih, sehingga mengambil jalan bunuh diri. Ya, mungkin kita semua tahu akan kasus “gantung diri live” yang cukup menghebohkan dunia maya. Ya, ketika aku memperhatikan masalah itu pula, memang begitu miris hidup yang tak memiliki tujuan hidup lagi, di mana tujuan hidup yang selama ini dipegang telah dianggap gagal total, dan taka da lagi tujuan lebih besar yang lain yang bisa mendorongnya untuk hidup. Miris sekali, melihat mungkin goal dari si orang yang bunuh diri itu adalah cintanya kepada istrinya, di mana ia menganggap goal itu GAGAL TOTAL ketika sang istri cekcok dengannya dan pergi meninggalkannya. Wow, begitu sensitifnya perasaan sang pria ini. Namun yang perlu ditekankan disini, JANGAN langsung sembarangan menjudge orang ini cemen atau lembek, sedikit saja sudah bunuh diri. Inilah yang terjadi kepada seseorang, yang goal hidupnya tidaklah benar-benar bernilai kekal, apalagi di tengah dunia yang ternoda, fana, dan tidak sempurna ini. Ya, merasakan kondisi hopeless di tengah dunia ini memang hal yang manusiawi. Tidak seperti dalam dunia “game” di mana ketika suatu misi gagal, tinggal coba lagi mengulangnya, “misi” sebenarnya ketika gagal dilakukan di dunia nyata ini, “misi” itu tidak dapat diulang begitu saja dan menimbulkan kenangan pahit yang menyakitkan.
Ya, ketika aku melihat hidupku sendiri ke belakang, I’m also had that depressing times, waktu di mana aku melihat kembali adanya goal-goal dalam hidupku yang gagal kucapai, dan adanya hal-hal yang I supposed to do, but I just ruined it. Waktu-waktu yang kusia-siakan. Masa-masa pertemanan yang tak kupakai dengan baik. Keegoisanku dulu yang begitu memudarkan bagaimana aku melangkah dalam hidup sehingga aku salah melangkah. Sampai munculnya luka-luka hati baik pada diriku, maupun orang-orang yang kukecewakan, di mana seharusnya aku menjadi berkat untuk mereka. Adanya hal-hal yang tak dapat kuperbaiki, hubungan yang retak yang terlihat tak dapat tersambungkan lagi, sehingga aku sendiripun pernah ragu, apakah aku mampu melakukan hal yang benar atau malah aku memang hanya bisa mengacaukan segala sesuatu. That made me feel so depressed, hopeless, bahkan at some point, I consider to just end it all. The point when I can’t even forgive myself, even when cognitively I know that my God forgives me because He is The Merciful God.
And yet, here am I, still writing these thoughts. Aku masih hidup sampai kini. Why? Karena aku masih diberikan anugerah, di mana aku masih benar-benar mengimani, bahwa ada GOAL SEJATI dalam hidup ini yang juga berlaku bagiku, suatu GOAL yang nilainya kekal yakni “pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya”. Ya, itu semua bukanlah “hasil usahamu, tapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”. Pada dasarnya itu semua adalah karunia dari Allah, bagaimana Ia telah menyelamatkanku dari kehampaan hidup ke dalam suatu hidup yang telah ditebus, ditebus dalam darah Anak-Nya yang mahal, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan-Nya, manusia dalam kefanaannya boleh melihat jalan kekekalan, kasih karunia dari Allah.
Yeah, untuk saat ini mungkin memang masih banyak yang harus aku persiapkan dan kerjakan, masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam hidupku. Aku masih belum cukup dewasa, dan aku juga masi perlu banyak belajar. Ya, itulah proses yang masih harus aku jalani, di dalam jalan kasih karunia Allah yang menyertaiku, karena Ia adalah Gembala-Ku yang setia “membimbingku ke air yang tenang, membaringkanku di padang yang berumput hijau”. Ketika aku melihat jalan gelap kelam yang pernah kulewati di masa lalu dan mungkin jalan yang lebih gelap lagi di depanku, diriku sendiri tidak akan tahan menghadapinya. Tapi aku masih memiliki keyakinan , “Sekalipun aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut yang kelam, aku tidak takut bahaya. Sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Ya, aku diciptakan bagi-Nya, dan aku perlu berjuang hidup bagi kemuliaan-Nya. Inilah tujuan kekal yang akan terus mendorongku untuk hidup.
Sekian refleksi singkat ku pada hari ini, hari yang bagi banyak orang cukup spesial, tapi juga menjadi hari di mana muncul kesadaran akan berkurangnya kesempatan hidup setahun, di samping pengalam setahun yang telah ditambahkan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua :)
Soli Deo Gloria!

No comments:
Post a Comment