Powered By Blogger

Friday, March 20, 2020

Reflection on the 24th year of My Life [2]


Seri berikutnya dari perenungan kehidupanku melalui usia ke-24 tahun ini, another struggle. Actually an old struggle that evolves into another one. Soal masalah relasi, masalah dengan seseorang yang seharusnya aku approach dia dengan benar sebagai teman, but my egoistic ambition ruins that. Dan long story short, lama sekali aku mencoba berulang untuk meminta maaf tapi gagal. Yah ketika mikir lagi, memang sih tujuanku masih lebih ke mau mencari rasa damai di hati sendiri, bukannya bener-bener memikirkan perasaan orang yang telah kukecewakan ini. Dan dalam situasi ini aku belajar untuk tetap berharap pada Tuhan dan percaya bahwa waktu Tuhanlah yang terbaik.
It evolves with bagaimana aku akhirnya melihat lebih jauh struggle hidup orang ini, bagaimana dia memang udah lama punya struggle soal kehidupannya tersebut, yang untuk detilnya aku simpan karena cukup private sifatnya. Dan bagaimana aku makin ngeri struggle hidup orang tersebut adalah karena suatu keputusan hidupnya yang bener-bener membuatku sedih, sedih banget. Sesedih itu, mengingat bahwa kalau aku dulu dengan bener berteman dengannya, mungkin aku bisa menolongnya saat ini. But it didnt happen. I asked God, Why someone that indirectly humbled me and make me depend more on God and tearing down my selfishness and egoistic ambition, now somehow that person struggled and seems to go farther away from You?.

At least 4 months i have pondering about this. I have prayed for that person. I approached those i know that are this person’s friends. Somehow I hoped that I finally can help and paid my debt to that person. But it didn’t happen, it is getting worse. Somehow akhirnya orang ini tahu approach-apporach tak langsung yang kulakukan, dan intinya malah memperunyam keadaan dan memang sampai saat ini relasi ku ini masih retak. And it makes me questioning God more and more, until I talked again to some of my friends, even new ones that finally with encouraging words pull me back up again. Di satu sisi, teman-temanku dan juga perenungan Firman ku mengingatkan aku bahwa, ah, untuk saat ini menolong orang itu bukanlah porsiku, bukanlah bagianku. Dan di satu sisi dari teman-teman yang masih care dan peduli aku ini bilang bahwa memang tiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda. Kadang ada orang yang mengembara lebih jauh dan untuk sesaat dia menjadi tersesat dan kehilangan arah. Namun percayalah, when His Time comes, Tuhan akan bawa kembali orang itu seberapapun jauhnya. Tuhan mampu menarik kembali seseorang kepadaNya seberapa jauhpun ia mengembara. Bahkan actually there is a not really so new friend of mine yang responnya bener-bener aku inget dan menguatkanku. Dia berbagi perenungannya juga, mencoba menuntun aku merefelksikan ulang struggleku, bahkan mau mendoakan juga. Really, it meant a lot for me 😊

Dalam salah satu renungan yang dia berikan, ada renungan yang berjudul Why Jesus let people walk away. Di mana memang biasanya aku yang memulai pembicaraan namun pada momen dia membaca renungannya, dia ingat untuk share this devotional to me dan jarang-jarang memulai chat. And  it gives me hope. Isi dari renungan itu akan sedikit aku share (bisa juga kalian cari di google, ada di seri renungan bible.com yang berjudul Discipleship Tips: Keeping Christ Central), yang intinya membicarakan soal bagaimana memang dalam beberapa kasus, Tuhan mengizinkan umatNya untuk meninggalkan Dia untuk akhirnya menangkap kembali orang itu dalam dekapanNya.

So as you share Jesus with others, remember that if Jesus honored others’ choices to walk away, there will be times when we need to do the same. Giving others the space to say no is hard and requires great discernment. It certainly doesn’t mean we stop praying, showing God’s love, or looking for opportunities to connect. Through it all, we can be confident that, no matter what, no one can walk too far to be beyond God’s reach.

 Yes, renungan ini, dan penguatan yang lain dari teman-teman yang peduli dan mengasihiku membuatku bisa kembali berharap dan beriman kepada Tuhan, bahwa memang Tuhan punya kehendak dan jalan yang terbaik yang Ia akan jalankan pada waktuNya. Tidak ada jarak terlalu jauh bagi seseorang untuk meninggalkan Dia yang di mana Tuhan ga sanggup bawa balik orang itu dalam dekapan kasihNya. Benar-benar terus teringat akan perumpamaan Anak yang Hilang - The Prodigal Son - dalam Lukas 15:11-32. Di mana pendeknya perumpamaan ini menceritakan seorang anak bungsu yang meminta warisan dari ayahnya (padahal ayahnya belum mati, berarti ini menunjukkan kekurangajaran anak ini} dan pergi mengembara meninggalkan ayahnya. Sampai satu titik anak ini kehilangan segalanya dan dengan rasa begitu tak layak untuk kembali kepada ayahnya. Dan apa yang terjadi?

Luke 15:20-22 : “But while he was still a long way off, his father saw him and was filled with compassion for him; he ran to his son, threw his arms around him and kissed him.“ The son said to him, ‘Father, I have sinned against heaven and against you. I am no longer worthy to be called your son.“ But the father said to his servants, ‘Quick! Bring the best robe and put it on him. Put a ring on his finger and sandals on his feet. Bring the fattened calf and kill it. Let’s have a feast and celebrate.  For this son of mine was dead and is alive again; he was lost and is found.’ So they began to celebrate.

Wow, suatu bentuk kasih yang luar biasa dari ayah ini, yang tanpa pamrih menyambut kembali anaknya pulang ke pangkuannya. Anak yang durhaka dan kurang ajar ini disambut dengan pelukan hangat yang tak layak diterima anak ini. Yah, inilah keajaiban dan keindahan kasih Tuhan Yesus kepada umatNya, kita yang tak layak sebenarnya untuk menjadi umat Allah namun kita ditebus dengan pengorbanannya di atas kayu salib untuk menggantikan kita yang seharusnya layak mati karena dosa-dosa kita sendiri. Yang akhirnya bangkit pula pada hari ketiga mengalahkan maut, di mana kita umatNya akhirnya memiliki pengharapan juga bahwa kita pun akan menang atas maut di dalam Dia.

Seperti kata satu ayat ini yang menjadi reminder juga yang diberikan teman yang sama yang mengirimkan renungan di atas kepadaku...

Roma 8:38-39 - Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,  atau kuasa-kuasa,  baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah,  yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Ya, benar, tidak ada sesuatu apapun yang bisa memisahkan umat Allah dari kasihNya yang begitu ajaib dan tak terbayangkan. Seperti kata salah seorang pengkhotbah yang mengajarkan, kasih dalam pernikahan aja cuman sampai maut memisahkan. KasihNya Allah, mautpun ga bisa memisahkan. Suatu dekapan yang begitu erat dari kasih Allah bagi anak-anakNya yang terkasih.

I really want to give my thanks from the bottom of my heart. Untuk mereka yang telah mengingatkanku dalam kasih dan membangunkanku dari kesedihanku dan keraguanku, membuatku akhirnya bisa tetap beriman menanti waktunya Tuhan.

Pengkhotbah 3:11 - Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Yah, memang Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, tinggal bagaimana kita tetap berjuang mempercayai bahwa memang waktuNya yang terbaik, bukan waktu yang kita atur sendiri. Biarlah kita tetap beriman. Bahkan di tengah perCOVIDan yang melanda Indonesia saat ini. Di tengah situasi di mana vaksin atau obat COVID 19 ini belum ditemukan, korban makin banyak berjatuhan. Kita tetap ingat bahwa masih ada Tuhan yang peduli sama kita. Tuhan yang akan tetap memegang tangan kita betapapun sulit kondisinya. Yah, di tengah perCOVIDan yang membuatku agak down ini, sehingga minggu ultahpun dihabiskan di rumah karena kuliah dan kerja pun jadi jarak jauh karena harus Social Distancing. What I want to say to my friends out there, I miss you all. Smoga percoronaan ini membuat kita makin menghargai apa makna kebersamaan apa arti waktu-waktu casual nongkrong bareng bercengkrama mulai dari hal paling sepele sampai hal terdalam sekalipun.

Thats it for today. Cheers. Stay faithful and stay safe. God bless you all. May my writing can be a blessing for u all, folks...

No comments:

Post a Comment