Seri berikutnya
dari perenungan kehidupanku melalui usia ke-24 tahun ini, another struggle.
Actually an old struggle that evolves into another one. Soal masalah relasi,
masalah dengan seseorang yang seharusnya aku approach dia dengan benar sebagai
teman, but my egoistic ambition ruins that. Dan long story short, lama sekali
aku mencoba berulang untuk meminta maaf tapi gagal. Yah ketika mikir lagi,
memang sih tujuanku masih lebih ke mau mencari rasa damai di hati sendiri,
bukannya bener-bener memikirkan perasaan orang yang telah kukecewakan ini. Dan
dalam situasi ini aku belajar untuk tetap berharap pada Tuhan dan percaya bahwa
waktu Tuhanlah yang terbaik.
It evolves with
bagaimana aku akhirnya melihat lebih jauh struggle hidup orang ini, bagaimana
dia memang udah lama punya struggle soal kehidupannya tersebut, yang untuk
detilnya aku simpan karena cukup private sifatnya. Dan bagaimana aku makin
ngeri struggle hidup orang tersebut adalah karena suatu keputusan hidupnya yang
bener-bener membuatku sedih, sedih banget. Sesedih itu, mengingat bahwa kalau
aku dulu dengan bener berteman dengannya, mungkin aku bisa menolongnya saat
ini. But it didnt happen. I asked God, Why someone that indirectly humbled
me and make me depend more on God and tearing down my selfishness and egoistic
ambition, now somehow that person struggled and seems to go farther away from
You?.
At least 4 months
i have pondering about this. I have prayed for that person. I approached those
i know that are this person’s friends. Somehow I hoped that I finally can help
and paid my debt to that person. But it didn’t happen, it is getting worse.
Somehow akhirnya orang ini tahu approach-apporach tak langsung yang kulakukan, dan
intinya malah memperunyam keadaan dan memang sampai saat ini relasi ku ini
masih retak. And it makes me questioning God more and more, until I talked
again to some of my friends, even new ones that finally with encouraging words
pull me back up again. Di satu sisi, teman-temanku dan juga perenungan Firman
ku mengingatkan aku bahwa, ah, untuk saat ini menolong orang itu bukanlah
porsiku, bukanlah bagianku. Dan di satu sisi dari teman-teman yang masih care dan
peduli aku ini bilang bahwa memang tiap orang punya jalan hidup yang
berbeda-beda. Kadang ada orang yang mengembara lebih jauh dan untuk sesaat dia
menjadi tersesat dan kehilangan arah. Namun percayalah, when His Time comes,
Tuhan akan bawa kembali orang itu seberapapun jauhnya. Tuhan mampu menarik
kembali seseorang kepadaNya seberapa jauhpun ia mengembara. Bahkan actually
there is a not really so new friend of mine yang responnya bener-bener aku
inget dan menguatkanku. Dia berbagi perenungannya juga, mencoba menuntun aku
merefelksikan ulang struggleku, bahkan mau mendoakan juga. Really, it meant a
lot for me 😊
Dalam salah satu
renungan yang dia berikan, ada renungan yang berjudul Why Jesus let
people walk away. Di mana memang
biasanya aku yang memulai pembicaraan namun pada momen dia membaca renungannya,
dia ingat untuk share this devotional to me dan jarang-jarang memulai chat.
And it gives me hope. Isi dari renungan
itu akan sedikit aku share (bisa juga kalian cari di google, ada di seri
renungan bible.com yang berjudul Discipleship Tips: Keeping Christ
Central), yang intinya membicarakan
soal bagaimana memang dalam beberapa kasus, Tuhan mengizinkan umatNya untuk
meninggalkan Dia untuk akhirnya menangkap kembali orang itu dalam dekapanNya.
So as you share Jesus with others, remember that if Jesus
honored others’ choices to walk away, there will be times when we need to do
the same. Giving others the space to say no is hard and requires great
discernment. It certainly doesn’t mean we stop praying, showing God’s love, or
looking for opportunities to connect. Through it all, we can be confident that, no matter what, no one
can walk too far to be beyond God’s reach.
Yes, renungan ini, dan penguatan
yang lain dari teman-teman yang peduli dan mengasihiku membuatku bisa kembali
berharap dan beriman kepada Tuhan, bahwa memang Tuhan punya kehendak dan jalan
yang terbaik yang Ia akan jalankan pada waktuNya. Tidak ada jarak terlalu jauh bagi
seseorang untuk meninggalkan Dia yang di mana Tuhan ga sanggup bawa balik orang
itu dalam dekapan kasihNya. Benar-benar terus teringat akan perumpamaan Anak
yang Hilang - The Prodigal Son - dalam Lukas
15:11-32. Di mana pendeknya
perumpamaan ini menceritakan seorang anak bungsu yang meminta warisan dari
ayahnya (padahal ayahnya belum mati, berarti ini menunjukkan kekurangajaran
anak ini} dan pergi mengembara meninggalkan ayahnya. Sampai satu titik anak ini
kehilangan segalanya dan dengan rasa begitu tak layak untuk kembali kepada
ayahnya. Dan apa yang terjadi?
Luke 15:20-22
: “But while he was still a long way off, his father saw him and was
filled with compassion for him; he ran to his son, threw his arms around him
and kissed him.“ The son said
to him, ‘Father, I have sinned against heaven and against you. I am no
longer worthy to be called your son.“ But the father said to his servants, ‘Quick! Bring the best
robe and put it on him. Put a ring on his finger and sandals on his
feet. Bring the fattened calf and kill it. Let’s have a feast and
celebrate. For this son of mine was dead and is
alive again; he was lost and is found.’ So they began to celebrate.
Wow, suatu bentuk
kasih yang luar biasa dari ayah ini, yang tanpa pamrih menyambut kembali
anaknya pulang ke pangkuannya. Anak yang durhaka dan kurang ajar ini disambut
dengan pelukan hangat yang tak layak diterima anak ini. Yah, inilah keajaiban
dan keindahan kasih Tuhan Yesus kepada umatNya, kita yang tak layak sebenarnya
untuk menjadi umat Allah namun kita ditebus dengan pengorbanannya di atas kayu
salib untuk menggantikan kita yang seharusnya layak mati karena dosa-dosa kita
sendiri. Yang akhirnya bangkit pula pada hari ketiga mengalahkan maut, di mana kita
umatNya akhirnya memiliki pengharapan juga bahwa kita pun akan menang atas maut
di dalam Dia.
Seperti kata satu
ayat ini yang menjadi reminder juga yang diberikan teman yang sama yang
mengirimkan renungan di atas kepadaku...
Roma 8:38-39 -
Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat,
maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik
yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan
dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Ya, benar, tidak
ada sesuatu apapun yang bisa memisahkan umat Allah dari kasihNya yang begitu
ajaib dan tak terbayangkan. Seperti kata salah seorang pengkhotbah yang mengajarkan,
kasih dalam pernikahan aja cuman sampai maut memisahkan. KasihNya Allah,
mautpun ga bisa memisahkan. Suatu dekapan yang begitu erat dari kasih Allah
bagi anak-anakNya yang terkasih.
I really want to
give my thanks from the bottom of my heart. Untuk mereka yang telah mengingatkanku
dalam kasih dan membangunkanku dari kesedihanku dan keraguanku, membuatku akhirnya
bisa tetap beriman menanti waktunya Tuhan.
Pengkhotbah 3:11 - Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan
kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan
yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Yah, memang Tuhan
membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, tinggal bagaimana kita tetap berjuang
mempercayai bahwa memang waktuNya yang terbaik, bukan waktu yang kita atur
sendiri. Biarlah kita tetap beriman. Bahkan di tengah perCOVIDan yang melanda Indonesia
saat ini. Di tengah situasi di mana vaksin atau obat COVID 19 ini belum ditemukan,
korban makin banyak berjatuhan. Kita tetap ingat bahwa masih ada Tuhan yang
peduli sama kita. Tuhan yang akan tetap memegang tangan kita betapapun sulit
kondisinya. Yah, di tengah perCOVIDan yang membuatku agak down ini, sehingga
minggu ultahpun dihabiskan di rumah karena kuliah dan kerja pun jadi jarak jauh
karena harus Social Distancing. What I want to say to my friends out there, I
miss you all. Smoga percoronaan ini membuat kita makin menghargai apa makna
kebersamaan apa arti waktu-waktu casual nongkrong bareng bercengkrama mulai
dari hal paling sepele sampai hal terdalam sekalipun.
Thats it for
today. Cheers. Stay faithful and stay safe. God bless you all. May my writing can
be a blessing for u all, folks...

No comments:
Post a Comment