Powered By Blogger

Monday, April 13, 2020

Sebuah Tulisan Pengharapan Mengenai Paskah di Tengah Wabah COVID 19


Aku percaya bahwa COVID-19 ini memang diizinkan Tuhan di tengah momen ini untuk menjadi pengingat buat manusia, bahwa apapun status yang dimiliki, berapa banyak pun harta benda yang dimiliki, mau seberapa banyak ilmu yang dimiliki, COVID-19 ini tak pandang bulu menjangkiti siapa pun. Sehingga memang, tak ada suatu hal apapun di dunia ini yang bisa jadi sandaran hidup yang sejati.

Yesaya 45:7 BIS "Akulah yang menjadikan terang dan gelap, Aku mendatangkan berkat dan bencana. Akulah TUHAN yang melakukan semua itu."

Ultimately, apa sih yang paling ditakutkan akibat COVID-19 ini, sehingga terjadi pembatasan sosial di seluruh dunia? Ya, balik lagi ke ketakutan kebanyakan orang, yakni kematian. Sudah 100 ribu orang lebih sampai saat ini di seluruh dunia yang meninggal karena COVID-19.





Melihat fenomena ini, jadi keinget akan scene dari anime Attack On Titan, di mana konteksnya adalah penduduk kota dalam anime itu hidup di dalam ketakutan akan serangan raksasa yang sewaktu-waktu bisa menghabisi mereka, sehingga mereka perlu bersembunyi dari raksasa tersebut dengan berlindung di dalam benteng. Dan benteng inipun dikisahkan akhirnya tertembus dan akhirnya manusia menghadapi ketakutan itu melanda mereka.

Yah, saat ini somehow mungkin ada yang melakukan Physical Distancing atas dasar ketakutan yang serupa. Ketakutan akan terkena COVID-19, yang bisa saja berujung kepada kematian. Memang yang lebih tua yang lebih rentan, tapi tidak sedikit korban jiwa jatuh yang berusia relatif muda.

Namun bagi aku dan teman-temanku yang Kristen, kami memiliki pengharapan di tengah semua fenomena wabah ini. Apalagi ketika kami baru melalui perayaan Jumat Agung dan Paskah. Ya, kami memiliki Juruselamat yang telah mengalahkan kuasa kematian itu, sehingga kami ga perlu takut lagi akan kematian. Dialah Yesus Kristus, Sang Almasih, yang mati bukan karena dosaNya sendiri tapi mati karena menanggung dosa kami yang sebenarnya ga layak menerima ampunanNya, yang kami peringati dalam Jumat Agung. Dan pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati, yang kami rayakan dalam Paskah. Meski 2 hari besar kami itu kami peringati dengan beribadah di rumah, justru itulah yang membuat perayaan kali ini menjadi spesial dan berbeda dari sebelumnya. Di mana aku benar-benar merasakan betapa Paskah ini menjadi penghiburan di tengah wabah COVID-19, mengetahui adanya Tuhan yang tetap berdaulat di balik semua fenomena percoronaan ini.

-------------------

1 Korintus 15 (TB)
Ayat 20-22 "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus."

Ayat 54-57 "Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."

-------------------

Ya, inilah pengharapan kami yang Kristen di tengah momen Paskah ini. Bahwa bahkan ketika kami matipun, kami mengimani bahwa ketika kami sudah dilahir barukan dalam Kristus Yesus, kami tak perlu takut lagi akan maut, karena maut itu sudah dikalahkan oleh Juruselamat kami. Inilah kepastian hidup yang kami miliki di tengah ketidak pastian wabah COVID-19 ini. Dan motivasi kami untuk melakukan Physical Distancing adalah bukan karena ketakutan kami, tapi bahwa kami ingin menjadi berkat, berbagi kasih dengan tidak menaikkan resiko penyebaran COVID-19.



Seperti pada gambar di atas, aku melihat bahwa cepat atau lambat kita akan menyaksikan bersama fajar menyingsing, harapan bahwa wabah ini akan berakhir, melalui penelitian akan obat/vaksin dari COVID-19 ini. Habis gelap, terbitlah terang, demikian kata Kartini (yang 8 hari lagi kita rayakan hari peringatannya). Kata-kata inipun aslinya sebenarnya adalah slogan dari Reformasi Protestan di abad ke-17, khususnya dipopulerkan oleh John Calvin sebagai slogan kotanya, Geneva, Switzerland. Aslinya dalam bahasa Latin adalah "Post tenebras lux", atau bahasa Inggrisnya "Light After Darkness". Yah, tetaplah berpengharapan di tengah wabah COVID-19 ini. Sabarlah menanti momen-momen kebersamaan bersama teman-teman bahkan keluarga di kampung yang jauh. Semoga kita berjuang bersama dengan #dirumahaja untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Tetap keep in touch dengan rekan-rekan melalui berbagai platform online. Bersama kita dapat melalui "malam kelam" COVID-19 ini, menantikan "terbitnya sang surya" yakni kembalinya aktivitas sehari-hari tanpa pembatasan sosial.

No comments:

Post a Comment