Aku percaya bahwa COVID-19 ini memang diizinkan Tuhan di
tengah momen ini untuk menjadi pengingat buat manusia, bahwa apapun status yang
dimiliki, berapa banyak pun harta benda yang dimiliki, mau seberapa banyak ilmu
yang dimiliki, COVID-19 ini tak pandang bulu menjangkiti siapa pun. Sehingga
memang, tak ada suatu hal apapun di dunia ini yang bisa jadi sandaran hidup
yang sejati.
Yesaya 45:7 BIS "Akulah yang menjadikan terang dan
gelap, Aku mendatangkan berkat dan bencana. Akulah TUHAN yang melakukan semua
itu."
Ultimately, apa sih yang paling ditakutkan akibat COVID-19
ini, sehingga terjadi pembatasan sosial di seluruh dunia? Ya, balik lagi ke
ketakutan kebanyakan orang, yakni kematian. Sudah 100 ribu orang lebih sampai
saat ini di seluruh dunia yang meninggal karena COVID-19.
Melihat fenomena ini, jadi keinget akan scene dari anime
Attack On Titan, di mana konteksnya adalah penduduk kota dalam anime itu hidup
di dalam ketakutan akan serangan raksasa yang sewaktu-waktu bisa menghabisi
mereka, sehingga mereka perlu bersembunyi dari raksasa tersebut dengan
berlindung di dalam benteng. Dan benteng inipun dikisahkan akhirnya tertembus
dan akhirnya manusia menghadapi ketakutan itu melanda mereka.
Yah, saat ini somehow mungkin ada yang melakukan Physical
Distancing atas dasar ketakutan yang serupa. Ketakutan akan terkena COVID-19,
yang bisa saja berujung kepada kematian. Memang yang lebih tua yang lebih
rentan, tapi tidak sedikit korban jiwa jatuh yang berusia relatif muda.
Namun bagi aku dan teman-temanku yang Kristen, kami memiliki
pengharapan di tengah semua fenomena wabah ini. Apalagi ketika kami baru
melalui perayaan Jumat Agung dan Paskah. Ya, kami memiliki Juruselamat yang
telah mengalahkan kuasa kematian itu, sehingga kami ga perlu takut lagi akan
kematian. Dialah Yesus Kristus, Sang Almasih, yang mati bukan karena dosaNya sendiri tapi mati karena menanggung dosa kami yang sebenarnya ga layak menerima ampunanNya, yang kami peringati dalam Jumat Agung. Dan pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati, yang kami rayakan dalam Paskah. Meski 2 hari besar kami itu kami peringati dengan beribadah di rumah, justru itulah yang membuat perayaan kali ini menjadi spesial dan berbeda dari sebelumnya. Di mana aku benar-benar merasakan betapa Paskah ini menjadi penghiburan di tengah wabah COVID-19, mengetahui adanya Tuhan yang tetap berdaulat di balik semua fenomena percoronaan ini.
-------------------
1 Korintus 15 (TB)
Ayat 20-22 "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus
telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang
yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia,
demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena
sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula
semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus."
Ayat 54-57 "Dan sesudah yang dapat binasa ini
mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang
tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut
telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di
manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum
Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita
kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."
-------------------
Ya, inilah pengharapan kami yang Kristen di tengah momen
Paskah ini. Bahwa bahkan ketika kami matipun, kami mengimani bahwa ketika kami
sudah dilahir barukan dalam Kristus Yesus, kami tak perlu takut lagi akan maut,
karena maut itu sudah dikalahkan oleh Juruselamat kami. Inilah kepastian hidup
yang kami miliki di tengah ketidak pastian wabah COVID-19 ini. Dan motivasi
kami untuk melakukan Physical Distancing adalah bukan karena ketakutan kami,
tapi bahwa kami ingin menjadi berkat, berbagi kasih dengan tidak menaikkan
resiko penyebaran COVID-19.
Seperti pada gambar di atas,
aku melihat bahwa cepat atau lambat kita akan menyaksikan bersama fajar
menyingsing, harapan bahwa wabah ini akan berakhir, melalui penelitian akan
obat/vaksin dari COVID-19 ini. Habis gelap, terbitlah terang, demikian kata
Kartini (yang 8 hari lagi kita rayakan hari peringatannya). Kata-kata inipun
aslinya sebenarnya adalah slogan dari Reformasi Protestan di abad ke-17,
khususnya dipopulerkan oleh John Calvin sebagai slogan kotanya, Geneva,
Switzerland. Aslinya dalam bahasa Latin adalah "Post tenebras lux",
atau bahasa Inggrisnya "Light After Darkness". Yah, tetaplah
berpengharapan di tengah wabah COVID-19 ini. Sabarlah menanti momen-momen
kebersamaan bersama teman-teman bahkan keluarga di kampung yang jauh. Semoga
kita berjuang bersama dengan #dirumahaja untuk mengurangi penyebaran COVID-19.
Tetap keep in touch dengan rekan-rekan melalui berbagai platform online.
Bersama kita dapat melalui "malam kelam" COVID-19 ini, menantikan
"terbitnya sang surya" yakni kembalinya aktivitas sehari-hari tanpa
pembatasan sosial.

No comments:
Post a Comment