Powered By Blogger

Thursday, July 9, 2015

Keangkuhanku yang Sia-Sia

Keangkuhanku yang Sia-Sia, Sebuah Perenungan

Tulisan ini saya tunjukkan kepada setiap dari kita yang mungkin pernah menemukan ada suatu titik dalam kehidupan kita di mana kita merasa bahwa kita tak bisa percaya, bahkan dengan diri sendiri. Ada saat-saat di mana kamu sebelumnya merasa begitu cukup pada dirimu sendiri. Kamu merasa mampu menerjang dunia ini dengan kekuatanmu sendiri. Kamu pikir kamu mampu menghadapi berbagai rintangan kehidupan sendirian, menjadi pahlawan bagi diri sendiri. Terkadang ada di antara kamu yang memiliki prinsip kehidupan yang mungkin membuat kamu berbeda dari teman-teman kamu, dan kamu mengganggapnya tidak masalah karena  kamu yakin bahwa prinsip yang kamu pegang itu benar.

Namun mungkin sekali kamu yang terlalu yakin pada diri kamu sendiri, pada suatu waktu akan jatuh dalam jurang ketidakpercayaan bahkan pada diri sendiri. Kamu mungkin pertama-tama merasa bahwa tak ada yang bisa menghentikan langkahmu kemanapun kamu mau melangkah. Ada ambisi-ambisi egoistik yang kamu pikir bahwa kamu layak untuk mendapatkan seluruh target yang mau kamu capai, meskipun itu mungkin akan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan persahabatan yang kamu miliki. Sampai suatu ketika kamu menemukan bahwa kamu sudah merusak yang berharga dalam hidupmu. Suatu titik di mana kamu melihat bahwa ambisi-ambisimu hanyalah kesia-siaan karena dilandasi oleh keegoisan kamu. Dan ketika kamu menatap kembali ke belakang, kamu akan merasa bahwa betapa banyak yang telah kamu rusak. Mungkin itu adalah kepercayaan dari orang tua kamu yang kamu kecewakan, pengharapan dari guru-guru yang pernah mendidik kamu yang kamu buang dan biarkan berlalu, atau mungkin pula ada persahabatan yang seharusnya menjadi indah, namun pada akhirnya kamu patahkan persahabatan itu demi ambisi gelap kamu yang egois.

Pada titik menatap ke belakang inilah yang membuat kamu akhirnya menyesali diri kamu, betapa kamu begitu telah merusak segala sesuatu di masa lalu, membuat dirimu kini begitu hancur hati dan rasa bahwa diri ini begitu tak bisa dipercaya. Diri yang telah begitu banyak membuat kerusakan, menghancurkan segala keindahan kehidupan yang bisa kamu nikmati hanya bila kamu dulu tidak egois dan lebih lagi memikirkan orang lain. Kini engkau bahkan tak berani lagi menatap ke depan, di mana kamu rasa bahwa dirimu mungkin sekali akan terus menerus terjebak dengan dirimu yang rusak, akan melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Engkau kini ragu akan dirimu sendiri dan sulit melangkah ke depan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keangkuhanku yang Sia-Sia

Inilah diriku
Yang dulu begitu angkuh dan jumawa
Merasa diri ini begitu kukuh tak bernoda
Melangkah sesuka hati
Tanpa merenungkan dengan baik akan saat nanti

Akulah pahlawan atas diriku sendiri
Atas hutan belantara kehidupan ini
Kukelilingi kedalaman hutan ini dengan pedang kesembonganku
Kutebang segenap pohon megah yang merintangiku
Kutebas semua binatang buas yang mencoba menghalangi langkahku
Bahkan kuhabisi makhluk-makhluk hutan yang kuanggap mengganggu langkahku
Tak ada yang lebih kuat dariku
Tak ada yang mampu melebihi bijaksanaku
Kan kucari harta terpendam di dalam hutan ini
Harta yang disertai dengan mahkota kemuliaan
Yang konon
Hanya orang terkuat dan terbijak yang boleh merengkuhnya
Hanya orang yang ditakdirkan langitlah yang boleh menikmatinya
Dan kuyakin dalam hatiku, bahwa akulah orang itu

Dan kusampai pada mulut gua
Gua yang kuyakini memiliki harta terpendam itu
Kuhancurkan penghalangku menuju gua itu dengan pedang andalanku
Yakni pedang kesombonganku
Yang kuyakini adalah ujung tombak dari kemuliaanku
Kurasa diriku layak menerima kemuliaan itu
Kulangkahi lorong gua itu dengan penuh keyakinan
Dengan sinar kebanggaan dari pedangku
Kan kulangkahi bahwa lorong-lorong tergelap sekalipun

Kutemukan bahwa langkahku menuju pada labirin
Yang menantangku untuk membuktikan seberapa layak diriku meraih harta itu
Kuyakin, tak ada rintangan yang kan mampu menghalangiku
Sampai pada satu langkah itu
Kulihat tampaklah sesosok manusia
Yang muncul di hadapanku lewat angin yang berputar hebat di sekelilingku
Dan baru kusadar bahwa dialah pelindung dari labirin ini
Sang Ratu Labirin
Matanya yang dingin nan menawan menatapku dalam-dalam
Dan kulihat lewat matanya itu
Pengelihatan akan masa laluku
Mengenai  betapa banyaknya kerusakan yang telah kubuat

Kulihat betapa indahnya hutan yang tadi kulewati
Yang kurusak dengan keinginanku yang gelap
Kulihat betapa harmonisnya kehidupan hutan ini
Betapa indahnya persahabatan antara binatang dan makhluk di sini
Sebelum akhirnya kukacaukan semua itu demi memuaskan jiwaku
Dan yang tersisa hanyalah
Kumpulan makhluk dan binatang yang merana karena kehilangan sahabatnya
Dan akhirnya kulihat kembali matanya itu
Kesedihan, kekecewaan, kemarahan
Semua itu terpancar lewat matanya
Tatapannya yang dingin merasuki sampai sedalam-dalam diriku ini

Pedang keangkuhanku yang kebanggakan
Kini dipatahkan sang Ratu dengan sekali kibasan tangannya
Dan kemudian menghilanglah ia dari hadapanku
Meninggalkanku dalam gua kegelapan ini
Memenjarakanku dalam labirin keputusasaan ini
Kini kusesali apa yang kulakukan di masa lalu
Kusadari bahwa ambisiku hanyalah kesia-siaan
Bahkan kini kutak tau kemana lagi ku harus melangkah
Ya, biarlah aku terkurung dalam kegelapan dan kedinginan labirin ini
Biarlah kegelapan hidupku menyatu seutuhnya dengan kegelapan ini
Kegelapan labirin keputusasaan dan ketidakpastian
Penjara kehidupan yang pantas bagi diriku yang tak lagi bernilai

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kira-kira inilah sedikit gambaran abstrak mengenai kondisi kita yang akhirnya berada dalam posisi tidak percaya lagi pada diri kita sendiri. “Kegelapan dari labirin keputusasaan” itu akan melingkupi kita cepat  atau lambat, ketika kita merasa cukup pada diri kita sendiri. Namun sekali lagi percayalah pada suatu hal ini, yakni bahwa dirimu memang tak bisa percaya akan diri kita sendiri.

Demikian sedikit tulisan saya. Semoga menginspirasi kalian.