Powered By Blogger

Thursday, August 27, 2015

Maafkan Aku, Kawan

Mengingat kembali masa lalu kita, tentu banyak hal yang kita ingat dengan berbagai rasa yang ada, ada yang manis, ada yang pahit. Kita mengingat kembali sahabat-sahabat kita dulu, yang melangkah bersama kita dalam hidup ini. Namun ketika keegoisan meracuni persahabatan, maka rusaklah ikatan yang indah itu. Beberapa dari kita mungkin kehilangan sahabat yang seharusnya kita kasihi dalam kasih persaudaraan yang hangat, yang rusak karena dinginnya keangkuhan kita. Dan pada suatu titik, muncullah penyesalan atas memori-memori yang mengecewakan itu, di mana kita kecewa akan diri kita sendiri yang dulu.

----------------------------------------

Maafkan Aku, Kawan

Ketika kuingat kembali akan hidupku
Menelusuri jalan hidupku yang tlah kulewati
Menatap lagi jejakku di masa lalu
Tak terasa begitu banyak momen kulangkahi
Dan juga kelalaianku yang kini masih kusesali

Ketika kuingat kembali akan engkau, kawan
Menelusuri pasang surut persahabatan kita
Menatap lagi bagaimana kebersamaan kita
Betapa banyak waktu yang telah kusia-siakan
Sia-sia karena keangkuhanku
Yang menyebabkan luka di hatimu
Sia-sia karena keegoisanku
Yang memanfaatkanmu untuk memuaskan ambisi pribadiku
Dan membuatku lupa bahwa selayaknya
Kita berbagi suka dan duka bersama
Dalam suatu persahabatan yang seharusnya indah

Maafkan aku, kawan
Rasa penyesalanku sungguh meluap di hatiku
Aku begitu kecewa pula melihat diriku dulu
Yang tak pantas lagi menjadi kawanmu
Sempat aku meragukan akan diriku sendiri
Sampai ketika Sang Penuntun membuka mataku
Membaharui hatiku dengan kasih ilahi
Menerangi jalanku ke depan

Lalu kuingat engkau kembali kawan
Dan sekali lagi
Maukah engkau maafkan aku, kawan
Maukah engkau kembali memegang tanganku
Bergandengan tangan kembali
Sehingga engkau melangkah bersamaku
Menuju masa depan penuh pengharapan
Dan aku percaya
Sang Penuntun akan mengiring langkah kita bersama
Membaharui persahabatan kita yang dulu tlah retak
Menyembuhkan tiap luka perih di antara kita
Memampukan kita menyongsong persaudaraan yang indah

----------------------------

Lika-liku perjalanan kehidupan kita, termasuk persahabatan kita, adalah hal-hal yang mungkin sekali dipakai Tuhan, Sang Penuntun, untuk membuat kita sadar akan kesalahan kita dan merendahkan hati kita. Hal ini akan membuat kita lebih bersandar kepada-Nya. Biarlah Ia bekerja, dan biarlah dalam waktu-Nya, tiap-tiap persahabatan dalam hidup kita menjadi suatu persaudaraan yang indah dan diikat dengan kasih yang sejati. Biarlah Ia membaharui diri kita dan persahabatan yang Ia anugerahkan untuk mengiringi hidup kita.

Semoga tulisan ini menginspirasi Anda.

Tuesday, August 4, 2015

MY WAY is not your way

Kita mungkin pernah merasakan bahwa hidup kita tidaklah selalu lancar dan sesuai keinginan kita. Ada saat-saat di mana kita merasakan kegagalan yang melumpuhkan kita, rasa sakit hati karena keputusasaan, ataupun perasaan bahwa hidup kita ini hanyalah suatu kesia-siaan.

Ya. Mungkin saat-saat seperti inilah yang mau Tuhan pakai untuk menunjukkan betapa salahnya kita selama ini. Betapa kita telah berusaha mencapai ambisi pribadi kita yang sesungguhnya egois dan tidak menjadi berkat. Seolah-olah Ia berkata kepada kita bahwa memang "Jalan-Ku bukanlah jalanmu, MY WAY is not your way."

------------------------------

Jalan-Ku bukanlah jalanmu

Pada masa kelam yang kuingat itu
Di mana aku merasa bahwa kini sia-sialah kumenempuh jalanku
Ku rasakan kepahitan dari keputusanku dulu
Dan kini kutersesat dalam kehampaan

Dulu aku merasa bahwa jalanku tlah benar
Aku meyakini bahwa jalanku ini akan menuntunku kepada kejayaan
Membawaku menuju masa depan yang cerah
Namun kini, aku sadari bahwa semua itu hanyalah angan-angan semu
Kenaifanku yang palsu telah menyesatkanku
Membawaku dalam lembah keputusasaan

Apa yang kuimpikan dulu, ternyata sia-sia belaka
Aku yang mengimpikan kejayaanku
Kini terjerembab dalam bayang kegagalan
Aku yang mengimpikan kesempurnaan
Kini dihantui dengan rasa bersalah
Aku yang mengimpikan kedamaian
Kini hanya bisa menyesal
Menyesal telah melukai hati sesamaku
Yang seharusnya kukasihi dengan tulus

Kini
Aku hanya bisa terkapar dalam penyesalan
Membeku dalam kesia-siaan
Mendekam dalam kehampaan
Sampai suatu ketika, suatu sosok bercahaya menghampiriku

Ia menghampiriku dengan kehangatan
Menghangatkanku dengan sukacita yang tlah lama hilang dariku
Memegang tanganku dengan tangan-Nya yang kuat
Menatapku dalam-dalam dengan keramahan
Dan tersenyum kepadaku

Saat itu kumerasa tak layak
Kutundukkan kepalaku dalam penyesalanku
Kurasa diriku sudah tak terampuni
Tak berani kumenatap wajah-Nya
Sampai saat Ia mengangkat kepalaku
Dan aku kembali menatap wajah-Nya

Ia berpesan dengan penuh kedaulatan kepadaku
"Ikutlah Aku,
tinggalkan hidupmu yang lama,
Jalan-Ku bukanlah jalanmu,
Ku akan menyertaimu senantiasa."

Kekuatan-Nya menyusupi tulang-tulangku
Sukacita-Nya membakar hatiku
Kasih-Nya membuatku merasakan kedamaian sejati
Dan aku meraih tangan-Nya
Melangkah dalam pimpinan-Nya dalam penuh keyakinan
Karena memang jalan-Nya bukan jalanku yang sia-sia
Dan Ia akan menuntunku senantiasa

-------------------------------

Inilah sedikit refleksiku akan kebenaran jalan Tuhan, sebagai respon dari khotbah hari pertama sesi pembukaan KIN Pemuda 2015 tanggal 4 Agustus. Kiranya boleh menjadi berkat untuk kita semua.

It's alright when you cannot trust yourself, because maybe God wants you to put your trust in Him!

Soli Deo Gloria... :)