My Self Reflection on (March) 20 at 20 (years old)
Sungguh mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku telah dihantarkan ke tingkatan usia yang baru, yang berarti bahwa Tuhan sudah menyertai selama kira-kira 2 dekade dari usiaku. Sudah hampir 1/5 abad aku hidup sekarang, dan itu semua merupakan anugerah Tuhan. Kini aku berusaha kembali menatap pula, akan apa yang telah kulewati selama hidup ini, khususnya di bagian mulai dari SMP, memori yang masih cukup kuingat.
Ya, di usiaku yang kira-kira 12 tahun, aku masuk ke SMP, sebagai seorang “bocah” yang bawel, suka sekali akan banyak hal, dan senang untuk belajar (bahkan aku heran, kenapa dari SD sampai saat aku SMP, aku bisa serajin dan seniat itu, haha). Aku masuk saat itu sebagai angkatan pertama dari SMPK Calvin, yang menjadi awal mula perjalananku di masa ketika aku berusia belasan tahun. Singkat cerita, aku cukup menikmati akan masa SMP saya itu. Aku cukup menikmati persahabatan yang ada di sana, di mana saya boleh belajar bergaul, mengingat saya Ada suatu peristiwa khusus pada masa SMP, di mana saya belajar benar-benar, bahwa jalan dan rencana Tuhan belum tentu seperti yang pernah kita bayangkan atau impikan, bahkan terkadang hal-hal yang kita rasa bahwa kita tak mampu, dengan belas kasihan Tuhan dan didorong keinginan berusaha, akan membuahkan hasil yang indah. Segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Di masa SMP ini pulalah, aku sempat mengalami suatu masalah dengan dunia persahabatan saya, yang terjadi karena adanya persaingan di kelas yang menurutku sekarang memang sangat kurang sehat. Gesekan pertama yang paling kentara yang aku alami saat SMP, yang kini aku lihat pula sebagai pertanda adanya masalah dalam diriku. Masalah itu adalah, aku yang merasa benar pada dirinya sendiri dan agaknya melupakan Tuhan sebagai Sang Kebenaran Mutlak yang satu-satunya. Singkat cerita, pada akhirnya aku berbaikan kembali dengan teman saya itu, dan timbullah persahabatan yang diperbaharui dan menjadi indah. Namun masalah “self-righteous” dalam diriku masih belum selesai...
Perlu kukatakan pula, pada masa SMP-SMA saya dulu, saya adalah orang yang begitu ambisius, baik dalam pelajaran di kelas maupun mencari prestasi di luar. Di sinilah pergumulan saya yang lain, yakni bagaimana saya memuliakan diri saya sendiri, atau memberikan segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Mengucap syukur, bahwa sejak awal di SMPK Calvin dan di gereja, aku belajar bahwa tujuan utama manusia ada adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia untuk selama-lamanya (Westminster Shorter Cathecism pertanyaan pertama). Suatu konsep yang boleh menjadi kontras jelas dalam hidupku, menjadi pembanding mutlak yang lama aku pegang sebagai konsep di otak saja, tapi dalam hatiku aku belum benar-benar mau terima.
Lalu perlu pula kukatakan, bahwa bahkan dalam diriku, ada dua kecenderungan yang sebenarnya bertentangan. Di satu sisi, aku berusaha untuk menjadi orang yang rendah hati, meski terkadang ternyata hal itu kulakukan untuk membangun citra diri yang baik, yang sesungguhnya merupakan motivasi yang kurang baik. Di satu sisi aku juga memiliki suatu tembok, di mana aku merasa bahwa aku memiliki “level” yang lebih tinggi dari teman-temanku, yakni dengan kemampuan-kemampuan yang aku miliki, yang harusnya kusadari bahwa itu semua merupakan anugerah Tuhan saja. Dengan sikap seperti inilah, aku menjadi orang yang begitu PeDe (percaya diri yang tinggi), tak perlu takut dikritik atau diejek oleh teman-temanku, karena aku memiliki hal yang lebih dari temanku kebanyakan. Aku dengan begitu PeDenya merasa, apapun yan gaku mau capai, dengan dukungan usahaku sendiri, pasti dapat kucapai. Hal ini pulalah yang Tuhan kikis, terutama di masa SMAku.
Di masa SMAku (dalam SMAK Calvin, sebagai angkatan ketiga), aku masih membawa paradigma (pandangan) yang cukup rusak seperti itu. Aku merasakan bahwa aku mampu untuk mendapat segala yang kuinginkan, baik dalam prestasi maupun dalam membangun citra diri di antara teman-temanku. Dan di sini aku mulai mendapat “tamparan-tamparan” dari Tuhan. Beberapa pencapaian yang ingin kucapai, akhirnya Tuhan tak mengizinkannya. Hal itu masih bisa kuterima karena memang hal-hal itu tak mudah tercapai. Satu hal yang membuatku akhirnya makin sadar, adalah mengenai keretakan kedua yang kualami dalam pertemananku ketika aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar pertemanan. Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu maksudku di sini. Intinya, pertemanan di antara kami yang seharusnya memiliki hubungan pertemanan yang baik, ketika Tuhan sesungguhnya menaruh kami dalam sekolah dan di gereja, namun justru semakin lama, hubungan pertemanan kami malah semakin buruk. Aku sendiri juga dalam waktu yang cukup lama mengeraskan hati dengan pembenaran diri dalam diriku, menganggap diriku pantas untuk mendapatkan apa saja yang aku mau karena kualitas "tinggi" yang ada dalam diriku. Sampai di suatu titik jenuh, pada akhirnya aku sadar betapa aku dalam kesombonganku, telah membuatku merusak pertemanan yang sesungguhnya telah dianugerahkan oleh Tuhan. Aku telah begitu menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan. Singkat cerita, pertemanan ini belum benar-benar pulih kembali, karena memang mungkin Tuhan masih ingin mengingatkanku untuk tidak lagi bertinggi hati. Dalam hal inilah aku akhirnya merasakan apa namanya keputusasaan, yang bermula karena keangkuhanku dan ketidakpedulianku terhadap hati dan perasaan orang lain yang aku sakiti.
Aku juga sadar kesalahan yang kulakukan dalam pertemananku secara keseluruhan dengan teman-teman SMAku. Aku sadar betapa secara sadar namun seringkali aku sangkali, bahwa aku seringkali meninggikan diriku. Aku sadar pula betapa ambisi telah membutakanku terhadap anugerah Tuhan.
Melihat kembali ke masa SMP-SMAku, aku melihatnya lebih cenderung sebagai masa kegagalanku, meski kuakui ada hal-hal yang orang lain boleh katakan merupakan keberhasilanku. Ketika kupikirkan kembali, aku berkesimpulan bahwa memang inilah masa kegagalanku, karena ketika aku berhasil, itu merupakan anugerah Tuhan. Namun ketika aku gagal, itu karena aku menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang seharusnya aku usahakan, dan mengembalikannya bagi kemuliaan Tuhan saja. Ketika aku mencoba mencuri kemuliaan-Nya dan mengambilnya untukku sendiri, yang kupetik hanyalah buah kegagalan. Ya, memang inilah peringatan yang Tuhan berikan bagiku. Bersyukur kepada Tuhan, yang telah mengikis keangkuhanku, dan menyadarkanku untuk kembali bersandar hanya kepada Tuhan saja.
Singkat cerita lagi, memasuki masa kuliahku, yang sekarang telah menginjak tahun kedua, di jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Unuversitas Indonesia. Mengucap syukur atas anugerah-Nya sehingga aku boleh berkuliah di "kampus perjuangan". Mengucap syukur atas segala ilmu yang boleh kunikmati, dan juga atas teman-temanku di sini yang merupakan kumpulan pemuda-pemudi dari seluruh pelosok Indonesia. Bersyukur pula kepada Tuhan, yang telah memberiku wadah persekutuan mahasiswa yang indah di sini.
Terakhir, aku ingin berterimakasih pula, pertama-tama kepada orang tuaku yang telah membesarkanku hingga kini. Bersyukur untuk guru-guru di SMP-SMAku di Calvin, yang telah mendidikku. Berterimakasih pula untuk teman-temanku dulu di SMP-SMA, di mana kalian telah dipakai Tuhan untuk boleh membentukku pula sampai aku menjadi seperti sekarang ini. Berterimakasih pula secara khusus untuk dua temanku, yang telah membuatku benar-benar mengerti apa artinya rendah hati di hadapan Tuhan.
Aku ingin menutup tulisan pengucapan syukurku ini dengan sebuah lagu yang menjadi kerinduanku ke depannya..
Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus
Kau yang maha tahu dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagiMu
T'lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis di hidupku
Ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia
Seperti Engkau telah mengikis keangkuhan Musa selama 40 tahun sebelum Engkau memakainya menjadi hamba-Mu, Engkau telah mengikis keangkuhanku juga. Seperti kerinduan Daud, kiranya Engkau yang berkenan terus untuk menyelidiki hatiku ini, ya Tuhan. Biarlah aku boleh menjadi murid-Mu yang setia...
SOLI DEO GLORIA! Segala kemuliaan hanya kembali bagi Allah saja...

No comments:
Post a Comment