Powered By Blogger

Tuesday, January 10, 2012

Makna Seorang Pahlawan

Pahlawan. Mendengar kata itu mungkin kita langsung membayangkan akan suatu situasi perang. Situasi saat terdapat dua pihak pasukan yang siap bertempur dengan gagah berani di medan pertempuran.
           Mungkin Anda sekarang memikirkan akan suatu peperangan yang terjadi pada masa Indonesia dijajah Belanda. Sebagai contohnya yaitu suasana ketika pasukan Pangeran Dipenogoro menyerang kompeni Belanda. Bayangkan saat pasukan Dipenogoro melakukan penyerangan secara gerilya terhadap pasukan Belanda. Masing-masing prajurit sudah siap dengan pedang, keris, atau bahkan bambu runcing yang mereka gunakan. Meskipun mereka pasti mengetahui bahwa persenjataan pasukan Belanda jauh lebih kuat (contohnya menggunakan senapan dan meriam) pasukan Dipenogoro tetap dengan berani menyerang. Keberanian dan tekad mereka jauh lebih besar daripada yang dimiliki oleh pihak kompeni Belanda. Dan akhirnya dalam beberapa kali peperangan pasukan Dipenogoro meraih kemenangan. Keberhasilan mereka itu terjadi dalam kurun waktu kira-kira 5 tahun (1825-1830) sampai akhirnya mereka kalah karena serangan pasukan bantuan dari pihak Belanda. Walupun Dipenogoro dan pasukannya telah mati, semangatnya tetap hidup di dalam hati kita masing-masing.
            Mungkin juga sekarang Anda akan membayangkan suatu film action dari Hollywood yang mengisahkan tentang peristiwa Perang Dunia II (1939-1945). Anda membayangkan akan suatu kota mati yang telah dikuasai musuh (seperti pasukan Nazi Jerman pada PD II). Pasukan Sekutu mencoba untuk merebut kota tersebut. Dan Anda membayangkan bahwa para prajurit sudah bersiap di depan kota itu. Saat sang pemimpin pasukan memerintahkan untuk menyerang, mereka langsung menyerbu kubu-kubu pertahanan musuh dengan bermodalkan senapan mesin yang sudah dibawanya. Meraka tidak terlalu peduli akan keselamatan nyawa mereka untuk membebaskan kota itu, walaupun mereka tidak tahu dengan pasti di mana pasukan Jerman telah bersembunyi dan telah siap menembak dengan tiba-tiba. Lalu terjadilah pertempuran yang heroik yang terlihat dari baku tembak yang terjadi di antara mereka.
            Ya, mungkin Anda akan membayangkan situasi-situasi perang seperti itu ketika mendengar kata pahlawan. Anda mungkin selama ini telah menganggap bahwa pahlawan adalah prajurit yang dengan gagah berani bertempur di medan perang. Namun perlu Anda ketahui bahwa pengertian pahlawan yang sebenarnya tidak sebatas itu saja. Jadi apakah makna seorang pahlawan yang sesungguhnya?
Makna Pahlawan
            Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pahlawan itu bukan hanya prajurit yang bertempur di medan perang. Pahlawan adalah semua orang yang dengan berani membela kebenaran dan melakukan banyak hal yang berguna bagi orang lain tanpa pamrih. Maka seorang petani pun bisa menjadi pahlawan, jika mereka dengan sungguh-sungguh dan setia dalam mengolah lahan pertanian yang hasilnya dimanfaatkan oleh orang banyak. Lalu seorang buruh paling rendah sekalipun bisa menjadi pahlawan, paling tidak bagi keluarganya, karena ia rela berkorban untuk bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya.
            Lalu apakah kita, sebagai seorang pelajar yang masih muda, bisa menjadi pahlawan? Tentu saja bisa! Paling tidak dengan belajar dengan sungguh-sungguh kita sudah berusaha untuk tidak membuat sia-sia perjuangan orang tua kita dalam pekerjaannya demi membiayai sekolah kita. Dan kita tidak memubazirkan usaha guru kita dalam mengajar kita sebagai murid-muridnya. Kita dapat membalasnya dengan hasil belajar kita, yaitu melalui hasil-hasil prestasi yang baik yang kita capai. Selain itu, kita juga bisa menjadi seorang pahlawan bagi teman kita di sekolah, yaitu dengan membantu mereka mengatasi kesulitan, misalnya dalam masalah kesulitan belajar.
             Selanjutnya pertanyaan yang harus kita pikirkan adalah: Apakah yang harus menjadi pegangan utama bagi seseorang bila ingin menjadi pahlawan?
Pegangan Utama
            Kebenaran. Apakah artinya? Kebenaran adalah setiap hal yang menjadi standar bagi semua orang untuk hidup damai dengan sesamanya dan dengan dunia. Perlu diingat bahwa satu-satunya sumber standar kebenaran itu adalah Tuhan Yang Mahaesa yang telah menciptakan kita dan seluruh alam semesta ini. Maka untuk menjadi seorang pahlawan kita harus terlebih dahulu menjadi orang yang takut akan Tuhan, barulah kita dapat menemukan kebenaran yang harus kita bela.
            Selain itu untuk menjadi seorang pahlawan kita harus belajar untuk memekakan hati nurani kita. Mengapa? Karena Tuhan sudah menanamkan dasar-dasar kebenaran di dalam hati nurani kita. Maka kita harus terus berusaha agar hati nurani kita semakin peka akan masalah yang dihadapai sesama kita, lalu kita dapat menolong mereka. Kita perlu belajar melihat setiap masalah yang terjadi di sekitar kita dengan hati nurani kita, maka kita dapat menyikapi setiap masalah itu dengan bijaksana. Bila kita rajin mengasah hati nurani kita, semakin hari hati nurani kita semakin peka.
Kenapa saya membahas kebenaran terlebih dahulu? Karena esensi dasar dari seorang pahlawan adalah kebenaran yang dibelanya, yaitu kebenaran sejati yang berasal dari Tuhan. Tanpa kebenaran tidak mungkin ada yang namanya pahlawan.
Setelah mengetahui tentang kebenaran, yang harus kita ingat adalah: Apakah yang harus dimiliki oleh seorang pahlawan?
Semangat Pengorbanan Diri
            Yang harus dimiliki seseorang agar dapat disebut sebagai pahlawan adalah semangat pengorbanan diri, self sacrifice. Semangat ini adalah semangat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan risiko kerugiannya bagi diri sendiri. Bila ingin menjadi seorang pahlawan, kita perlu belajar mulai sekarang untuk menyingkirkan segala keegoisan di dalam hati kita dan menggantikannya dengan rasa persaudaraan yang kuat dengan sesama. Belajar untuk tidak mementingkan kepentingan diri sendiri dan menghargai pendapat orang lain.
            Misalnya seorang pahlawan Perancis bernama Napoleon Bonaparte, jenderal perang bertubuh pendek sehingga disebut Le Petite Capitan (”kapten kecil”), yang hidup pada masa antara abad ke 18 sampai abad ke-19. Walaupun tubuhnya kecil Napoleon memiliki hati yang besar terhadap para prajurit bawahannya. Ini terlihat dari makanannya yang sama dengan makanan yang dimakan para prajurit bawahannya. Lalu ia juga memperhatikan dan menjaga prajurit bawahannya yang sakit atau terluka karena perang.
            Semangat ini juga dimiliki oleh seorang tokoh yang pastinya sudah kita kenal, yaitu tokoh yang pantang menyerah dalam membuat begitu banyak penemuan.
Inspirasi bagi Zaman
            Tokoh yang saya maksud adalah Thomas Alva Edison, Bapak Penemu Lampu Listrik yang hidup dari abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Pada masa kecilnya ia sempat dianggap sebagai seorang idiot. Tetapi kemauannya dalam belajar tidak menjadi surut. Lalu ia membuat rencana cita-citanya, yaitu menjadi seorang penemu yang berjasa di masa depan. Dan akhirnya ia berhasil. Ia menjadi tokoh penemu yang mengejutkan banyak orang.
            Sampai pada suatu ketika Edison mendapat suatu ide untuk membuat lampu berenergi listrik yang tentunya lebih efisien daripada lampu berenergi gas yang umum digunakan orang pada masa itu. Untuk mengembangkan lampu ini ia melakukan banyak sekali percobaan, kira-kira 50.000 kali percobaan yang telah dilakukannya. Karenanya ia sempat dianggap sebagai penemu yang sudah gila. Tetapi ia tidak menyerah. Ia mempertaruhkan kehormatannya dan tidak mempedulikan tekanan yang dihadapinya dari orang banyak yang menganggapnya gila untuk mengembangkan lampu listrik dan pada akhirnya ia berhasil. Setelah penemuannya ini ia menemukan begitu banyak penemuan lagi dengan semangat dan kerja kerasnya (sampai ia pernah berkali-kali tidur hanya dalam 3-5 jam). Sampai akhir hidupnya ia telah membuat  lebih dari 1.000 penemuan yang mendapat hak paten.
            Semangatnya untuk terus mencoba ini menginspirasi banyak orang yang mengetahui tentang dia untuk memiliki semangat pantang menyerah dalam melakukan segala sesuatu, meskipun berada di bawah tekanan. Semangat ini pada akhirnya akan menginspirasi zaman. Maka mulai sekarang kita perlu belajar untuk menginspirasi orang lain, salah satunya melalui cara yang dilakukan Edison yaitu melakukan hal-hal yang tak lazim yang berguna bagi banyak orang lain. Misalnya dengan belajar dengan giat. Jarang ada pelajar yang belajar dengan sungguh-sungguh sekali agar mendapat hasil yang cemerlang. Jika kita melakukannya kita bisa menginspirasi teman kita untuk belajar lebih giat.
Pahlawan Masa Depan
            Kesimpulan yang dapat kita ambil dari seluruh penjelasan tentang pahlawan ini adalah bahwa ”senjata” utama yang harus dimiliki oleh seorang pahlawan bukanlah senjata fisik, tetapi semangat pengorbanan diri dan menginspirasi orang lain yang didasari oleh kebenaran yang sejati.
            Itu sebabnya Kartini bisa disebut sebagai pahlawan, walaupun ia bukan dan hampir tidak mungkin menjadi prajurit gagah berani yang berperang di medan pertempuran. Yang ia lakukan bukanlah berperang. Yang ia lakukan adalah surat-menyurat dengan teman karibnya yaitu orang Belanda. Ia telah mengorbankan statusnya sebagai anak Bupati Jepara (posisi tinggi dan enak bagi perempuan Jawa pada masa itu) yang seharusnya patuh terhadap adat Jawa. Ia mengorbankan semuanya itu untuk memperjuangkan kebebasan wanita di segala lapisan dan melawan segala bentuk adat yang mengekang kebebasan wanita, termasuk adat Jawa, melalui ide-ide emansipasi yang tertulis di dalam setiap suratnya.
            Lalu Soekarno, Bapak Proklamator kita. Apakah ia pernah bertempur langsung di medan pertempuran? Tidak. Namun ia tetap dapat disebut sebagai pahlawan karena ia rela berkorban dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomatik, yaitu dengan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) dan melakukan orasi di mana-mana yang mendukung kebebasan rakyat Indonesia. Karena usahanya yang keras itu ia sempat beberapa kali masuk penjara dan dibuang ke pengasingan. Namun ia tetap tidak menyerah, sehingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memperoleh kemerdekaan. Anda juga perlu tahu bahwa menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, penyakit malaria Soekarno sempat kambuh dan kekuatan fisik beliau sempat lenyap saat beberapa waktu menjelang proklamasi. Walaupun begitu Soekarno tetap berjuang melawan sakitnya. Ia memaksa dirinya untuk bangkit dari penyakitnya dan tidak membuang dengan sia-sia momen kemerdekaan ini. Jasa Soekarno telah terbalaskan, salah satunya dengan dipilihnya Soekarno sebagai Presiden pertama di Indonesia.
            Jadi mulai sekarang, kita harus berusaha menjadi pahlawan, pertama-tama bagi sesama, lalu selanjutnya bekerja keras untuk menjadi pahlawan bagi bangsa ini. Jangan tunggu lagi ada pahlawan yang muncul untuk menyelesaikan masalah di Indonesia. Seperti kata John F. Kennedy, Presiden Amerika pada masa beberapa dekade yang lalu, yang mengatakan: ”Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country.” Kalau kita memang bisa membuat perubahan bagi negara ini di bidang kita masing-masing, kenapa tidak? Marilah kita semua mulai sekarang berusaha menjadi pahlawan, pertama-tama bagi sesama, lalu bagi negara Indonesia tercinta ini yang merupakan tempat kelahiran kita. Marilah kita semua mulai sekarang berusaha dengan sungguh-sungguh mengejar cita-cita menjadi pahlawan, dan suatu hari menjadi ”Pahlawan-Pahlawan Masa Depan”. Dengan rendah hati, tentunya!