Memaafkan dan Dimaafkan – Sebuah Perenungan di Momen Hari Bermaaf-maafan
Hari ini, kita sedang menjalani suatu hari raya dari saudara kita, yakni hari raya Idul Fitri, di mana bagi mereka yang merayakannya, seringkali hari raya ini identik dengan momen bermaaf-maafan satu sama lain, atau dalam slogan resminya “mohon maaf lahir dan batin”. Ada suatu konsep dasar yang bisa kita tangkap dan renungkan bersama di sini, yakni tentang konsep “maaf”. Suuatu konsep relasi yang penting di dalam kehidupan kita, yang merupakan manusia yang tentunya tak sempurna dan pasti memiliki cacat cela dan ke”khilaf”an. Sekali lagi yang perlu ditekankan, konsep ini bersifat relasional, dan tidaklah hanya melibatkan 1 arah saja. Konsep “maaf” ini merupakan suaut bentuk komunikasi, yang terjadi di antara 2 pihak yang sedang memiliki masalah di antara mereka.
Pertama-tama mari memandang dari posisi orang yang bersalah dan minta dimaafkan. Orang-orang seperti ini tentunya pernah bersalah kepada orang lain, dan rasa bersalah yang cukup penting bagi seseorang adalah ketika ia bersalah kepada orang yang seharusnya cukup dekat dengannya atau orang itu begitu berarti bagi dirinya. Ketika itu bukan orang penting, mungkin kesalahan itu bisa dianggap sambil lalu saja, tanpa adanya usaha ingin berbaikan yang lebih lanjut. Namun masalah terjadi ketika orang tersebut sesungguhnya cukup penting dan dekat dengan kehidupan kita. Mungkin itu orang tuanya, sahabatnya, atau orang yang dikaguminya. Dalam konteksku sendiri sebagai anak muda, mungkin contohnya akan lebih dekat dan mudah dibayangkan ke konteks persahabatan. Terkadang ada momen-momen di mana seseorang melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan kepercayaan dari temannya. Sesuatu yang begitu serius sampai hubungan persahabatan itu menjadi retak, bahkan hancur. Ketika orang ini pada akhirnya sadar akan apa yang ia lakukan, yang bisa ia lakukan adalah meminta maaf, namun biasanya tidak sesimpel itu. Bahkan terkadang memang kesalahan itu sedemikian parahnya, sampai sulit sekali bagi orang tersebut untuk dimaafkan. Kesalahan itu pada akhirnya begitu menghantuinya. Setiap kali bahkan dengan hanya melihat orang itu, rasa bersalah kembali terngiang di kepalanya. Ketika ia menatap mata temannya itu, yang ia lihat hanyalah tatapan dingin penuh kebencian, karena kepercayaan yang sudah hilang. Hari demi hari berlalu, dan kegagalan mempertahankan kepercayaan inilah yang terus menerus menghantuinya.
Ya, mungkin sekali di antara kita yang membaca ini, kita mengalami hal seperti ini. Hal yang paa akhirnya bahkan pada suatu titik ekstrim dapat menghalangi jalan kita kepada masa depan, karena kita mengganggap bahwa diri kita tak termaafkan, menempatkan diri kita sebagai si gagal yang tak berpengharapan. Kepercayaan yang telah rusak itu akan sulit untuk kembali diperbaiki, dan hanyalah rasa bersalah itu yang terus menggerogoti hati kecil kita.
Hal yang bisa kita lakukan di sini adalah, kita ingat kembali bahwa ada satu Pribadi yang telah rela mengorbankan hidup-Nya untuk kita, yakni Tuhan Yesus. Ia, yang telah menebus diri kita yang tidak layak ini. “Karena begitu besar kasih Allah, akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal. Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”, demikian isi Injil Yohanes 3:16. Jangan sampai ayat ini menjadi suatu kata-kata klise yang biasa kita dengar, namun biarlah kita ingat kembali bahwa memang ada Pribadi yang begitu mengasihi kita yang tidak layak. Pribadi itu pula yang akan memampukan kita untuk melakukan yang benar, karena memang kita tak mampu mengandalkan kemampuan diri kita saja. Sambil berharap bahwa Tuhan melembutkan hati teman yang kepadanya kita bersalah, kita juga perlu berusaha (di dalam kebersandaran kita kepada Tuhan) untuk melakukan hal yang benar, yang akan mengembalikan kepercayaan dan kasih teman kita tersebut kepada kita. Dan mungkin kepercayaan itu tidak akan dengan mudah kembali muncul dalam diri teman kita. Mungkin kita akan melewati suatu masa pergumulan yang sulit dan lama, tapi suatu hal yang kita perlu tetap ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan dapat melembutkan hati siapapun yang Ia kehendaki, termasuk khususnya hati kita sendiri yang dilembutkan melalui momen-momen seperti ini supaya kita tetap rendah hati. Jalanilah kehidupanmu dengan lebih lagi tulus dan dapat dipercaya, seperti Allah yang telah rela mempercayakan anugerah pengampunan kepada kita yang tidak layak ini.
Lalu bagaimana dengan posisi orang yang “memaafkan”? Ke posisi ini, mungkin di antara kita ada yang telah kehilangan kepercayaan kepada teman kita yang kita anggap telah begitu mengganggu kehidupan kita. Adanya kesalahan dari orang tersebut yang membuat kita sangat sulit untuk sudi berteman kembali dengan mereka. Ketika kita menatap orang-orang ini, yang ada hanyalah kekesalan, merasa patut untuk menghakimi orang tersebut, atau sekedar memang orang itu tak perlu lagi ada dalam kehidupan kita. Namun memang, terkadang muncul perasaan tidak damai dalam hati kita, mengapa ada orang-orang yang kita “blacklist” seperti ini, padahal sesungguhnya kita memiliki Allah yang bahkan rela membenarkan diri kita yang memang selayaknya masuk daftar “blacklist”-Nya karena dosa-dosa kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali pula akan betapa besarnya kasih Tuhan atas hidup kita, dan meminta pertolongan-Nya, yakni untuk melembutkan hati kita sehingga kita bisa mengampuni orang tersebut. Dalam Injil Matius 18:21-22, Tuhan Yesus memesankan murid-muridNya (khususnya Petrus yang bertanya kepadaNya) untuk mengampuni bukan hanya sebanyak “tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Ini artinya bahwa pengampunan itu haruslah terjadi terus menerus, seperti Kristus yang sudah mengampuni dosa kita yang begitu hina dan tidak layak di hadapanNya ini.
Ya, kira-kira demikianlah perenungan singkat yang bisa ku-share saat ini, dalam momen hari raya saudara-saudara kita sebangsa yang telah merayakan Hari Raya “Bermaaf-maafan” ini. Semoga kita bisa kembali merenungkan kembali kasih-Nya yang besar atas hidup kita, sehingga kita bisa rindu untuk memaafkan dan bersandar kepada Tuhan untuk dimaafkan, sebagai satu keluarga di dalam Tuhan kita.
