Powered By Blogger

Wednesday, July 6, 2016

Memaafkan dan Dimaafkan - Sebuah Perenungan

Memaafkan dan Dimaafkan – Sebuah Perenungan di Momen  Hari Bermaaf-maafan

Hari ini, kita sedang menjalani suatu hari raya dari saudara kita, yakni hari raya Idul Fitri, di mana bagi mereka yang merayakannya, seringkali hari raya ini identik dengan momen bermaaf-maafan satu sama lain, atau dalam slogan resminya “mohon maaf lahir dan batin”. Ada suatu konsep dasar yang bisa kita tangkap dan renungkan bersama di sini, yakni tentang konsep “maaf”. Suuatu konsep relasi yang penting di dalam kehidupan kita, yang merupakan manusia yang tentunya tak sempurna dan pasti memiliki cacat cela dan ke”khilaf”an. Sekali lagi yang perlu ditekankan, konsep ini bersifat relasional, dan tidaklah hanya melibatkan 1 arah saja. Konsep “maaf” ini merupakan suaut bentuk komunikasi, yang terjadi di antara 2 pihak yang sedang memiliki masalah di antara mereka.

Pertama-tama mari memandang dari posisi orang yang bersalah dan minta dimaafkan. Orang-orang seperti ini tentunya pernah bersalah kepada orang lain, dan rasa bersalah yang cukup penting bagi seseorang adalah ketika ia bersalah kepada orang yang seharusnya cukup dekat dengannya atau orang itu begitu berarti bagi dirinya. Ketika itu bukan orang penting, mungkin kesalahan itu bisa dianggap sambil lalu saja, tanpa adanya usaha ingin berbaikan yang lebih lanjut. Namun masalah terjadi ketika orang tersebut sesungguhnya cukup penting dan dekat dengan kehidupan kita. Mungkin itu orang tuanya, sahabatnya, atau orang yang dikaguminya. Dalam konteksku sendiri sebagai anak muda, mungkin contohnya akan lebih dekat dan mudah dibayangkan ke konteks persahabatan. Terkadang ada momen-momen di mana seseorang melakukan sesuatu yang membuatnya kehilangan kepercayaan dari temannya. Sesuatu yang begitu serius sampai hubungan persahabatan itu menjadi retak, bahkan hancur. Ketika orang ini pada akhirnya sadar akan apa yang ia lakukan, yang bisa ia lakukan adalah meminta maaf, namun biasanya tidak sesimpel itu. Bahkan terkadang memang kesalahan itu sedemikian parahnya, sampai sulit sekali bagi orang tersebut untuk dimaafkan. Kesalahan itu pada akhirnya begitu menghantuinya. Setiap kali bahkan dengan hanya melihat orang itu, rasa bersalah kembali terngiang di kepalanya. Ketika ia menatap mata temannya itu, yang ia lihat hanyalah tatapan dingin penuh kebencian, karena kepercayaan yang sudah hilang. Hari demi hari berlalu, dan kegagalan mempertahankan kepercayaan inilah yang terus menerus menghantuinya.
Ya, mungkin sekali di antara kita yang membaca ini, kita mengalami hal seperti ini. Hal yang paa akhirnya bahkan pada suatu titik ekstrim dapat menghalangi jalan kita kepada masa depan, karena kita mengganggap bahwa diri kita tak termaafkan, menempatkan diri kita sebagai si gagal yang tak berpengharapan. Kepercayaan yang telah rusak itu akan sulit untuk kembali diperbaiki, dan hanyalah rasa bersalah itu yang terus menggerogoti hati kecil kita.

Hal yang bisa kita lakukan di sini adalah, kita ingat kembali bahwa ada satu Pribadi yang telah rela mengorbankan hidup-Nya untuk kita, yakni Tuhan Yesus. Ia, yang telah menebus diri kita yang tidak layak ini. “Karena begitu besar kasih Allah, akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal. Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”, demikian isi Injil Yohanes 3:16. Jangan sampai ayat ini menjadi suatu kata-kata klise yang biasa kita dengar, namun biarlah kita ingat kembali bahwa memang ada Pribadi yang begitu mengasihi kita yang tidak layak. Pribadi itu pula yang akan memampukan kita untuk melakukan yang benar, karena memang kita tak mampu mengandalkan kemampuan diri kita saja. Sambil berharap bahwa Tuhan melembutkan hati teman yang kepadanya kita bersalah, kita juga perlu berusaha (di dalam kebersandaran kita kepada Tuhan) untuk melakukan hal yang benar, yang akan mengembalikan kepercayaan dan kasih teman kita tersebut kepada kita. Dan mungkin kepercayaan itu tidak akan dengan mudah kembali muncul dalam diri teman kita. Mungkin kita akan melewati suatu masa pergumulan yang sulit dan lama, tapi suatu hal yang kita perlu tetap ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan dapat melembutkan hati siapapun yang Ia kehendaki, termasuk khususnya hati kita sendiri yang dilembutkan melalui momen-momen seperti ini supaya kita tetap rendah hati. Jalanilah kehidupanmu dengan lebih lagi tulus dan dapat dipercaya, seperti Allah yang telah rela mempercayakan anugerah pengampunan kepada kita yang tidak layak ini.

Lalu bagaimana dengan posisi orang yang “memaafkan”? Ke posisi ini, mungkin di antara kita ada yang telah kehilangan kepercayaan kepada teman kita yang kita anggap telah begitu mengganggu kehidupan kita. Adanya kesalahan dari orang tersebut yang membuat kita sangat sulit untuk sudi berteman kembali dengan mereka. Ketika kita menatap orang-orang ini, yang ada hanyalah kekesalan, merasa patut untuk menghakimi orang tersebut, atau sekedar memang orang itu tak perlu lagi ada dalam kehidupan kita. Namun memang, terkadang muncul perasaan tidak damai dalam hati kita, mengapa ada orang-orang yang kita “blacklist” seperti ini, padahal sesungguhnya kita memiliki Allah yang bahkan rela membenarkan diri kita yang memang selayaknya masuk daftar “blacklist”-Nya karena dosa-dosa kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengingat kembali pula akan betapa besarnya kasih Tuhan atas hidup kita, dan meminta pertolongan-Nya, yakni untuk melembutkan hati kita sehingga kita bisa mengampuni orang tersebut. Dalam Injil Matius 18:21-22, Tuhan Yesus memesankan murid-muridNya (khususnya Petrus yang bertanya kepadaNya) untuk mengampuni bukan hanya sebanyak “tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Ini artinya bahwa pengampunan itu haruslah terjadi terus menerus, seperti Kristus yang sudah mengampuni dosa kita yang begitu hina dan tidak layak di hadapanNya ini.

Ya, kira-kira demikianlah perenungan singkat yang bisa ku-share saat ini, dalam momen hari raya saudara-saudara kita sebangsa yang telah merayakan Hari Raya “Bermaaf-maafan” ini. Semoga kita bisa kembali merenungkan kembali kasih-Nya yang besar atas hidup kita, sehingga kita bisa rindu untuk memaafkan dan bersandar kepada Tuhan untuk dimaafkan, sebagai satu keluarga di dalam Tuhan kita.

Sunday, March 20, 2016

My Self Reflection on 20 at 20

My Self Reflection on (March) 20 at 20 (years old)

Sungguh mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku telah dihantarkan ke tingkatan usia yang baru, yang berarti bahwa Tuhan sudah menyertai selama kira-kira 2 dekade dari usiaku. Sudah hampir 1/5 abad aku hidup sekarang, dan itu semua merupakan anugerah Tuhan. Kini aku berusaha kembali menatap pula, akan apa yang telah kulewati selama hidup ini, khususnya di bagian mulai dari SMP, memori yang masih cukup kuingat.

Ya, di usiaku yang kira-kira 12 tahun, aku masuk ke SMP, sebagai seorang “bocah” yang bawel, suka sekali akan banyak hal, dan senang untuk belajar (bahkan aku heran, kenapa dari SD sampai saat aku SMP, aku bisa serajin dan seniat itu, haha). Aku masuk saat itu sebagai angkatan pertama dari SMPK Calvin, yang menjadi awal mula perjalananku di masa ketika aku berusia belasan tahun. Singkat cerita, aku cukup menikmati akan masa SMP saya itu. Aku cukup menikmati persahabatan yang ada di sana, di mana saya boleh belajar bergaul, mengingat saya Ada suatu peristiwa khusus pada masa SMP, di mana saya belajar benar-benar, bahwa jalan dan rencana Tuhan belum tentu seperti yang pernah kita bayangkan atau impikan, bahkan terkadang hal-hal yang kita rasa bahwa kita tak mampu, dengan belas kasihan Tuhan dan didorong keinginan berusaha, akan membuahkan hasil yang indah. Segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Di masa SMP ini pulalah, aku sempat mengalami suatu masalah dengan dunia persahabatan saya, yang terjadi karena adanya persaingan di kelas yang menurutku sekarang memang sangat kurang sehat. Gesekan pertama yang paling kentara yang aku alami saat SMP, yang kini aku lihat pula sebagai pertanda adanya masalah dalam diriku. Masalah itu adalah, aku yang merasa benar pada dirinya sendiri dan agaknya melupakan Tuhan sebagai Sang Kebenaran Mutlak yang satu-satunya. Singkat cerita, pada akhirnya aku berbaikan kembali dengan teman saya itu, dan timbullah persahabatan yang diperbaharui dan menjadi indah. Namun masalah “self-righteous” dalam diriku masih belum selesai...

Perlu kukatakan pula, pada masa SMP-SMA saya dulu, saya adalah orang yang begitu ambisius, baik dalam pelajaran di kelas maupun mencari prestasi di luar. Di sinilah pergumulan saya yang lain, yakni bagaimana saya memuliakan diri saya sendiri, atau memberikan segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Mengucap syukur, bahwa sejak awal di SMPK Calvin dan di gereja, aku belajar bahwa tujuan utama manusia ada adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia untuk selama-lamanya (Westminster Shorter Cathecism pertanyaan pertama). Suatu konsep yang boleh menjadi kontras jelas dalam hidupku, menjadi pembanding mutlak yang lama aku pegang sebagai konsep di otak saja, tapi dalam hatiku aku belum benar-benar mau terima.

Lalu perlu pula kukatakan, bahwa bahkan dalam diriku, ada dua kecenderungan yang sebenarnya bertentangan. Di satu sisi, aku berusaha untuk menjadi orang yang rendah hati, meski terkadang ternyata hal itu kulakukan untuk membangun citra diri yang baik, yang sesungguhnya merupakan motivasi yang kurang baik. Di satu sisi aku juga memiliki suatu tembok, di mana aku merasa bahwa aku memiliki “level” yang lebih tinggi dari teman-temanku, yakni dengan kemampuan-kemampuan yang aku miliki, yang harusnya kusadari bahwa itu semua merupakan anugerah Tuhan saja. Dengan sikap seperti inilah, aku menjadi orang yang begitu PeDe (percaya diri yang tinggi), tak perlu takut dikritik atau diejek oleh teman-temanku, karena aku memiliki hal yang lebih dari temanku kebanyakan. Aku dengan begitu PeDenya merasa, apapun yan gaku mau capai, dengan dukungan usahaku sendiri, pasti dapat kucapai. Hal ini pulalah yang Tuhan kikis, terutama di masa SMAku.

Di masa SMAku (dalam SMAK Calvin, sebagai angkatan ketiga), aku masih membawa paradigma (pandangan) yang cukup rusak seperti itu. Aku merasakan bahwa aku mampu untuk mendapat segala yang kuinginkan, baik dalam prestasi maupun dalam membangun citra diri di antara teman-temanku. Dan di sini aku mulai mendapat “tamparan-tamparan” dari Tuhan. Beberapa pencapaian yang ingin kucapai, akhirnya Tuhan tak mengizinkannya. Hal itu masih bisa kuterima karena memang hal-hal itu tak mudah tercapai. Satu hal yang membuatku akhirnya makin sadar, adalah mengenai keretakan kedua yang kualami dalam pertemananku ketika aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar pertemanan. Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu maksudku di sini. Intinya, pertemanan di antara kami yang seharusnya memiliki hubungan pertemanan yang baik, ketika Tuhan sesungguhnya menaruh kami dalam sekolah dan di gereja, namun justru semakin lama, hubungan pertemanan kami malah semakin buruk. Aku sendiri juga dalam waktu yang cukup lama mengeraskan hati dengan pembenaran diri dalam diriku, menganggap diriku pantas untuk mendapatkan apa saja yang aku mau karena kualitas "tinggi" yang ada dalam diriku. Sampai di suatu titik jenuh, pada akhirnya aku sadar betapa aku dalam kesombonganku, telah membuatku merusak pertemanan yang sesungguhnya telah dianugerahkan oleh Tuhan. Aku telah begitu menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan. Singkat cerita, pertemanan ini belum benar-benar pulih kembali, karena memang mungkin Tuhan masih ingin mengingatkanku untuk tidak lagi bertinggi hati. Dalam hal inilah aku akhirnya merasakan apa namanya keputusasaan, yang bermula karena keangkuhanku dan ketidakpedulianku terhadap hati dan perasaan orang lain yang aku sakiti.

Aku juga sadar kesalahan yang kulakukan dalam pertemananku secara keseluruhan dengan teman-teman SMAku. Aku sadar betapa secara sadar namun seringkali aku sangkali, bahwa aku seringkali meninggikan diriku. Aku sadar pula betapa ambisi telah membutakanku terhadap anugerah Tuhan.

Melihat kembali ke masa SMP-SMAku, aku melihatnya lebih cenderung sebagai masa kegagalanku, meski kuakui ada hal-hal yang orang lain boleh katakan merupakan keberhasilanku. Ketika kupikirkan kembali, aku berkesimpulan bahwa memang inilah masa kegagalanku, karena ketika aku berhasil, itu merupakan anugerah Tuhan. Namun ketika aku gagal, itu karena aku menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang seharusnya aku usahakan, dan mengembalikannya bagi kemuliaan Tuhan saja. Ketika aku mencoba mencuri kemuliaan-Nya dan mengambilnya untukku sendiri, yang kupetik hanyalah buah kegagalan. Ya, memang inilah peringatan yang Tuhan berikan bagiku. Bersyukur kepada Tuhan, yang telah mengikis keangkuhanku, dan menyadarkanku untuk kembali bersandar hanya kepada Tuhan saja.

Singkat cerita lagi, memasuki masa kuliahku, yang sekarang telah menginjak tahun kedua, di jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Unuversitas Indonesia. Mengucap syukur atas anugerah-Nya sehingga aku boleh berkuliah di "kampus perjuangan". Mengucap syukur atas segala ilmu yang boleh kunikmati, dan juga atas teman-temanku di sini yang merupakan kumpulan pemuda-pemudi dari seluruh pelosok Indonesia. Bersyukur pula kepada Tuhan, yang telah memberiku wadah persekutuan mahasiswa yang indah di sini.

Terakhir, aku ingin berterimakasih pula, pertama-tama kepada orang tuaku yang telah membesarkanku hingga kini. Bersyukur untuk guru-guru di SMP-SMAku di Calvin, yang telah mendidikku. Berterimakasih pula untuk teman-temanku dulu di SMP-SMA, di mana kalian telah dipakai Tuhan untuk boleh membentukku pula sampai aku menjadi seperti sekarang ini. Berterimakasih pula secara khusus untuk dua temanku, yang telah membuatku benar-benar mengerti apa artinya rendah hati di hadapan Tuhan.

Aku ingin menutup tulisan pengucapan syukurku ini dengan sebuah lagu yang menjadi kerinduanku ke depannya..
Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus
Kau yang maha tahu dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagiMu

T'lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis di hidupku
Ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia

Seperti Engkau telah mengikis keangkuhan Musa selama 40 tahun sebelum Engkau memakainya menjadi hamba-Mu, Engkau telah mengikis keangkuhanku juga. Seperti kerinduan Daud, kiranya Engkau yang berkenan terus untuk menyelidiki hatiku ini, ya Tuhan. Biarlah aku boleh menjadi murid-Mu yang setia...

SOLI DEO GLORIA! Segala kemuliaan hanya kembali bagi Allah saja...

Friday, February 19, 2016

Refleksiku terhadap lagu "Open the Eyes of My Heart"

Open the eyes of my heart, Lord
Open the eyes of my heart
I want to see You
I want to see You
To see You high and lifted up
Shinin' in the light of Your glory
Pour out Your power and love
As we sing holy, holy, holy

Lagu yang memang enak untuk didengar, simple, namun cukup memiliki arti yang dalam. Setelah kurenungkan kembali, ada yang kudapat pelajari setelah memikirkan akan lagu ini, yang bisa kita renungkan bersama-sama.. Ada 3 hal yang kudapat dari lagu yang sederhana ini.

1. "Open the eyes of my heart Lord, I want to see you"

Lewat kalimat ini perlu kita ingat, berapa banyaknya waktu di mana kita belum benar-benar membuka hati kita untuk Tuhan. Padahal Ia adalah Tuhan yang setia menyertai kita dalam jalan hidup kita, sebagai Gembala Jiwa kita, orang-orang Kristen yang percaya dalam nama-Nya.Seringkali kita merasi mampu melalui hidup ini dengan kemampuan kita sendiri, tanpa bimbingan dari Tuhan. Atau ada pula dari kita yang adalah orang-orang yang apatis, yang menganggap bahwa emang hidup ini dijalani saja dengan pasrah, lewatkan begitu saja, dengan melupakan bahwa ada Tuhan yang berkuasa yang akan menolong kita jika kita membuka hati kita untuk Tuhan.
Ingatlah saudara-saudara yang terkasih dalma Tuhan, bahwa kita perlu terus memohon kepada Tuhan supaya mata hati kita terus dibukakan, supaya kita bisa melihat apa kehendak-Nya yang ia ingin jalankan dalam hidup kita.

Wahyu 3:20 berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk  mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." Bukalah "pintu" hati kita untuk mendengar suara kehendak Tuhan yang akan menuntun kita.

2. "To see you high and lifted up, shining in the light of Your glory"

Seringkali kita mengangkat diri kita sebagai yang tertinggi dalam hidup kita tanpa kita sadari atau bahkan ada yang sadar 100%. Kit menjadikan diri kita sendiri bertahta atas hidup kita. Kita meninggikan diri kita dan mengangkat diri kita lebih dari yang lain. Kita mengutamakan keinginan kita dipenuhi, dan tidak memikirkan sesama kita yang lain, apalagi Tuhan. Padahal sesungguhnya hidup kita, sebagai umat Kristen yang percaya kepadaNya, sesungguhnya merupakan milik Kristus yang telah menebus kita melalui pengorbanan DiriNya sendiri, sehingga kita bukan lagi milik maut, tetapi milik Tuhan.

Roma 3:23-24 menyatakan: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan oleh kasih karunia telah dibenarkan   dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." Ingatlah bahwa hidup kita milik-Nya, maka kita perlu pula hidup bagi kemliaan-Nya, bukan bagi kemuliaan diri.

Lord, forgive us that we often put ourselves high and lifted up, instead of hoping to see You high and lifted up, shining in the light of Your glory.

3. "Pour out Your Power and Love, as we sing holy, holy, holy"

Lewat bagian ini kita perlu ingat senantiasa untuk bersandar kepada Tuhan saja dalam segala sesuatunya, selalu berharap akan kekuatanNya untuk menopang kita dalam hidup ini, dan rindu dipenuhi kasih Tuhan sehingga kita boleh menjalani hidup ini dengan penuh sukacita. Dan ingatlah bahwa kita yang telah hidup dalam kasih Kristus yang telah menebus kita, kita harus pula hidup kudus di hadapanNya.

Filipi 2:14-15 mengatakan: Do everything without grumbling or arguing, so that you may become blameless and pure, “children of God without fault in a warped and crooked generation.” Then you will shine among them like stars in the sky." (NIV) Kita bukan hanya digerakkan supaya rind untuk melihat Allah dalam kemuliaan-Nya, tetapi Ia berkenan pula menggerakan kita untuk hidup kudus sehingga bias bersinar pula seperti "bintang" di tengah dunia ini.

Lord, thank you that not only we can see You shining in the light of Your glory, but also brought us to holiness so we can reflect Your light as "stars" in this world.

-----------------------------

Biarlah ini bisa menjadi perenungan kita bersama-sama. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua, hai semua saudara-saudaraku dalam Kristus.

Wednesday, January 27, 2016

Hiduplah dalam Kenyataan, bukan dalam Khayalan

Tulisan ini kubuat terinspirasi setelah menonton suatu film kartun Disney tahun 2008 berjudul "Bolt" (yang kemarin kembali saya tonton, dan akhirnya sampai selesai). Film kartun ini mengisahkan tentang seekor anjing bernama Bolt yang mengira dirinya adalah anjing super yang bertugas menaklukan kejahatan, dengan menggunakan berbagai kekuatan super yang ia miliki seperti mata laser dan gonggongan super yang bisa menghancurkan dinding yang tebal. Padahal sesungguhnya, itu hanyalah sebuah film rekaan. Setiap selesai syuting, anjing ini langsung dikandangkan di suatu ruangan spesial, sehingga akhirnya ia tak tahu apa-apa mengenai dunia sebenarnya. 


Bahkan, dalam suatu episode dalam film yang anjing itu mainkan, diskenariokan bahwa pemilik anjing ini (seorang gadis yang juga pemain dalam film tersebut) diculik oleh seorang penjahat super. Tanpa mengetahui bahwa sebenarnya tuannya baik-baik saja, anjing itu mengira bahwa memang tuannya itu berada dalam bahaya. Sesungguhnya sempat terlihat usaha gadis itu untuk menemui anjing itu dan menunjukkan dirinya baik-baik saja, namun segera dicegah oleh sang Sutradara itu, yang menyatakan bahwa biarlah anjing itu tetap hidup dalam “fantasi”nya, yakni bahwa kini tuannya diculik, menjadikan semua hal dalam film sebagai kejadian sesungguhnya.


Dalam perjalanan selanjutnya, pada akhirnya anjing ini secara tidak sengaja “terkirim” ke kota yang jauh, dan pada akhirnya ia melihat kembali dunia sesungguhnya, di mana tak ada lagi kru film dari Hollywood yang memposisikan dirinya sebagai anjing super, dengan efek-efek rekaan dan gaya-gaya pemeran penjahat yang dibuat-buat seolah-olah mereka mudah dikalahkan oleh anjing “super” ini. Ia akhirnya sadar, bahwa dirinya hanya anjing biasa yang memerankan peran sebagai anjing “super” dalam film, dan dirinya bukan anjing super yang sesungguhnya.


Hm, sebuah ringkasan sekilas dari film “Bolt” yang tak terlalu singkat juga ya, haha. Tapi satu pesan yang bisa kutangkap (dan juga kalian tangkap) dari film ini adalah, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Suatu pernyataan yang simpel, tapi seringkali secara tak sadar kita lupakan. Banyak dari kita lari dari kenyataan hidup yang sesungguhnya, kemudian mengidealisasikan diri kita atau kondisi kita secara subjektif. Sebagian dari kita mungkin pernah merasa diri sebagai “orang super” yang bisa menembus berbagai masalah. Namun tanpa usaha keras yang nyata, pada akhirnya kita menyerah pada keadaan kita yang tenggelam dalam masalah. Ada pula yang memposisikan diri lebih tinggi dari sesamanya, seperti contohnya kalangan orang yang mem-bully teman-temannya, padahal sesungguhnya ia sama kedudukannya dengan teman-teman yang ia bully. Ada pula kalangan orang yang mengganggap dirinya pemimpin yang begitu hebat dan tinggi sehingga tak ada yang layak atau mampu mengikut dia, padahal sesungguhnya kecenderungan dirinya yang egois sekali membuat tak seorangpun mau ikut di bawah pimpinannya. 


Trus, terutama dalam konteks baru beberapa minggu sesudah tahun baru nih, di mana banyak dari kita telah membuat resolusi tahun baru masing-masing, dan tidak sedikit dari antaranya kalau kita pikirkan kembali sesungguhnya resolusi tersebut adalah resolusi yang cukup muluk-muluk saja dan terlalu ideal, seolah mengganggap diri kita bisa menjadi seorang “ideal” yang bisa berbalik langsung 180 derajat dalam hitungan hari atau bulan, tanpa proses atau pengorbanan yang cukup banyak diperlukan dan harus dijalankan dengan rela.


Nah, kembali ke pernyataan yang tadi, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Sekali lagi kukatakan, ini merupakan suatu hal simpel yang sering kita lupakan. Ini dikarenakan mungkin oleh keegoisan kita, sikap pemalas disertai keinginan untuk mencapai hasil instan tanpa usaha berarti, dan beberapa faktor lain. Suatu hal yang simpel sekali lagi, namun ternyata kita serong lari dari kenyataan simpel itu. Kenyataan di mana kita perlu berjuang keras untuk mendapatkan pencapaian maksimal. Kenyataan di mana kita perlu berkorban banyak, demi mencapai posisi yang tinggi dengan jiwa pengabdian yang sejati. Kenyataan bahwa mengubah diri kita menjadi lebih baik tak semudah membalik telapak tangan dan juga tak semudah menuliskan resolusi tahun baru yang muluk-muluk... Hidupilah kenyataan hidup yang sesungguhnya dengan penuh kerendahhatian dan kerelaan untuk berkorban dalam memperbaiki diri dan membagi manfaat bagi sesama kita dan orang lain di sekitar kita.
Sedikit perenunganku yang kubagikan, yang mungkin agak kejauhan penarikan konklusinya setelah menonton film kartun “Bolt” kemarin malam, haha.. Tapi sadarlah, memang pembelajaran kehidupan yang dalam bisa saja ditemukan bahkan di dalam hal-hal yang kilihatannya sepele saja. Sekali lagi pesan singkatku, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Selamat kembali menjalani kenyataan, sobat!

*bagi yg belum menonton tapi mau baca sinopsis singkat dari film kartun "Bolt", bisa dilihat di :  mobile.nytimes.com/2008/11/21/movies/21bolt.html?referer= artikel berjudul "Canine TV Action Star Discovers That Life Is the Best Reality Show"