Berikut puisi mengenai gambaran seorang rakyat jelata dengan pemikirannya yg Idealis yang mengharapkan kejayaan negerinya kembali, meskipun kini langit masa depan negerinya sedang diselubungi kegelapan awan dari tindakan korup para pejabat negeri yg tidak bertanggung jawab, dengan pemikirannya yang Pragmatis karena ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan mengacuhkan rakyat yang sengsara.
Semoga menginspirasi...
------------------------------------
Kembalikanlah Cahaya Kemuliaan Kami
Oleh Sion Halim
Inilah pesan dari hati terdalam kami
Ketika kami menatap ke langit yang begitu kelam di atas kami
Kami tahu kami ini rakyat jelata, ada di bumi
Dan kami tahu, ada dewa dewi khayangan yang ada di balik langit
Yaitu kalian, hai pejabat-pejabat tinggi yang kami puja
Hai para pejabat yang di atas sana
Yang bersemayam di atas tahta di Langit
Dengarkanlah jeritan kami, rakyat yang ada di bumi pertiwi
Kembalikanlah cahaya kemuliaan kami
Dengarkanlah seruan kami ini, oh Langit!
Kami begitu percaya dan yakin
Bahwa sesungguhnya ada cahaya kemuliaan yang terik ada di atas kami
Namun kalian, hai pejabat korup
Sepertinya kalian memang ingin menikmati cahaya kemuliaan itu sendiri
Kalian telah sewenang-wenang laksana dewa dewi tak berbelas kasihan
Kalian lingkupi langit kami dengan awan kekelaman
Awan-awan badai kerusakan
Yang kini melingkupi kami dengan angin ribut ketidakpastian
Menerpa kami dengan topan kekacauan negeri
Mencekik kami dengan hawa kemiskinan
Membanjiri kami dengan hujan sengsara yang tiada akhir
Dan itu semua engkau lakukan
Semata supaya kami tak dapat lagi merasakan cahaya kemuliaan itu
Dan hanya engkau, oh dewa dewi khayangan yang di atas tahta langit
Yang menelan seluruh cahaya kemuliaan itu
Tanpa membagi sedikitpun cahaya itu kepada kami
Kami, yang seharusnya mendapatkan cahaya itu kembali dari tangan kalian, hai dewa dewi khayangan
Yang hanya tertawa melihat kesengsaraan kami
Dan tahukah kalian, bahwa tawa itu laksana kilat halilitar
Yang hanya menambah sakit hati kami
Memupus harapan kami yang menginginkan negeri kami makmur bagaikan surga
Karena sepertinya, kami tak akan lagi melihat cahaya kemuliaan bagi negeri kami ini
Oh dewa dewi khayangan
Takdirmu dan tujuanmu bukanlah untuk itu
Sekali lagi, dengarkanlah jeritan kami!
Jeritan rakyat jelata yang ada di bumi pertiwi
Singkirkanlah awan-awan badai kehancuran negeri kami ini
Singkirkanlah tahta keangkuhanmu yang ada di langit sana
Tinggalkanlah khayanganmu, dan turunlah ke bumi ini
Dan lihatlah langsung, jerih lelah kami yang telah mengusahakan tanah air
Yang telah engkau begitu hinakan dengan keangkuhan dan keegoisanmu
Dan turunlah ke bumi
Lihatlah, betapa kami membutuhkan cahaya kemuliaan dari Sang Matahari
Untuk mengusahakan tanah kami ini
Untuk menumbuhkan benih-benih kejayaan negeri ini
Dan untuk membangun masa depan bangsa kami tercinta
Sampai sekarang awan badai itu masih melingkupi langit kami
Dewa dewi di khayangan sana sepertinya masih mengacuhkan jerit kami, rakyat jelata di bumi
Jeritan yang keluar dari perut-perut kami yang kelaparan
Jeritan yang keluar dari hati kami yang tak kuat lagi menahan derita sengsara
Jeritan dari kerinduan kami yang begitu haus akan secercah harapan
Harapan bahwa suatu hari negeri kami akan pulih
Harapan bahwa cahaya kemuliaan itu akan kembali melingkupi kami
Cahaya kemuliaan dari Sang Matahari
Yang dengan ramah akan menghangatkan hati kami
Dan sinarnya akan menerangi hari-hari kami
Menandai kembalinya kejayaan tanah air kami, tanah air Indonesia!
Oh, dewa dewi khayangan
Yakni para pejabat yang bersemayam di tahta keangkuhan kalian di langit
Turunlah ke bumi
Dan lihatlah betapa kami membutuhkan kejayaan itu
Betapa kami rindu sekali akan secercah cahaya kemuliaan itu
Dengarkanlah jeritan kami
Arahkan telingamu untuk memperhatikan permohonan kami
Arahkanlah matamu untuk menatap kesengsaraan kami saat ini
Oh, kembalikanlah cahaya kemuliaan kami
Supaya kami mampu melihat kembali cerahnya masa depan negara Republik Indonesia
--------------------
Puisi ini diikutkan ke dalam lomba Deklamasi Puisi dalam Pekan Seni Tiga FMIPA UI, 4 Mei 2015 bertemakan "Idealisme vs Pragmatisme"

This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete