Kehilangan
Kata yang familiar bagi kita semua. Kita semua pernah mengalami yang namanya kehilangan, mulai dari kehilangan hal yang sepele sampai hal-hal yang begitu berharga dalam hidup kita. Mulai dari barang-barang yang cukup umum ada, sampai ke relasi yang berharga antarsesama kita. Ya, tentunya semua di antara kita pernah mengalami kehilangan (kecuali mungkin engkau orang yang begitu beruntung (?)) bahkan ada yang sering mengalaminya. Namun yang akan kubahas di sini adalah lebih ke arah mengenai kehilangan sesuatu hal yang cukup substansial, yang berhubungan dengan arah dan tujuan hidup kalian, mungkin dari target pribadi yang tak tercapai sampai relasi yang memudar dengan sesama yang kita anggap penting.
Ya, di sini kehilangan yang akan kubahas adalah hal yang leibh berhubungan dengan arah kehidupan itu sendiri, yang kita sendiri tak tahu pasti setiap kita jalannya akan ke mana. Kita seringkali menentukan target demi target dalam hidup kita (apalagi sesaat lagi kita akan memasuki tahun baru, dengan resolusi-resolusi yakni target tahun depan), semua pencapaian yang mau kita raih. Namun mungkin target-target itu bukanlah suatu hal yang cukup dekat dengan realita hidup kita yang ada, sehingga mungkin sekali target (yang biasanya cukup muluk-muluk dan sangat idealis, apalagi tidak disertai tekad yang kuat dan motivasi yang benar) itu tidak tercapai. Ada kalanya kita akan menjadi begitu menyesal, mengapa kita tak mampu mencapai target tersebut. Kita merasa kecewa pada diri kita sendiri dan bahkan mungkin kehilangan arah hidup. Beberapa contoh yang bisa kuberikan di sini mengenai target-target yang muluk-muluk itu adalah misalnya prestasi yang ingin dicapai, keuntungan materil yang ingin dikejar, posisi-posisi yang ingin diraih (seperti mungkin, posisi penting dalam organisasi), dan lain sebagainya.
Satu sisi kehilangan yang lain yang bisa kuberikan di sini adalah masalah kehilangan relasi dengan orang-orang yang kita anggap penting dalam hidup kita. Mungkin di antara kita ada yang mempunyai relasi yang kurang baik dengan orangtua mereka, merasa orang tua kita terlalu mengekang atau mungkin terlalu sok tahu dan kepo (atau sok peduli, ikut campur), dan kita rasa diri berhak mengatur hidup kita sendiri tanpa bimbingan mereka. Lalu terjadilah cekcok dan akhirnya hubungan kita merenggang. Dan di satu titik, tentunya (bila memang seorang anak tersebut sadar akan kesalahannya), ia akan menyesali sekali akan perlakuaannya yang kurang baik dengan orangtuanya.
Atau contoh lainnya misalnya adalah kehilangan relasi dengan sahabat kita. Mungkin adanya cekcok dalam persahabatan yang biasanya terjadi, tapi kali ini yang berujung pada runtuhnya persahabatan tersebut akibat runtuhnya rasa saling percaya karena adanya bumbu-bumbu pengkhianatan, mungkin saling membocorkan rahasia yang seharusnya tidak dibuka-buka sembarangan, atau sampai hal sepele misalnya tidak mau memberi contekan saat ujian (yang ini sih memang sesungguhnya salah, jangan dipraktekan ya). Intinya, ada keegoisan antarpribadi yang saling bertabrakan, sehingga hubungan persahabatan yang seharusnya makin terikat kuat, justru makin terpisah. Kemudian, setelah beberapa lama mungkin terjadi refleksi diri, akhirnya kita begitu menyesal akan apa yang telah kita lakukan, dan kita merasakan bahwa semuanya sudah terlambat untuk menyelesaikan masalah relasi tersebut akibat keegoisan kita sendiri. Kemudian contoh lain yang bisa kita pikirkan adalah kehilangan target cinta (uh, agak mainstream ya), di mana kita mungkin sempat menargetkan untuk mendapatkan pasangan yang begitu perfect buat kita, tapi melupakan untuk bercermin diri. Kita terlalu malas untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik, dan menuntut mau mendapat pasangan terbaik yang bisa mungkin meningkatkan status kita ataupun motivasi lain yang salah. Dan yang sering terjadi adalah, timbulnya penyesalan atas kegagalan menjalin relasi dengan someone special tersebut dan keretakan hubungan yang tidak seharusnya terjadi kalau dari awal kita tidak berlaku egois.
Dari sekian banyak hal di atas, perlu digaris bawahi sekali lagi akan satu kata, yakni judul di atas, kehilangan. Inti dari seluruhnya adalah kehilangan sesuatu hal yang kita rasa penting dalam hidup kita, dan seringkali bahwa hal tersebut tidak akan dapat kita raih kembali. Kita merasakan penyesalan, bahkan seringkali hal tersebut menghambat langkah kita ke depan untuk boleh memperbaiki diri kita. Mungkin bahkan kita melihat diri kita telah begitu rusaknya, sehingga kita kehilangan semua yang kita ingin dalam hidup kita. Dalam masalah relasi dengan sesama, mungkin kita pula merasakan rasa bersalah yang begitu mendalam dengan sesama kita, sehingga kita tenggelam dalam rasa bersalah kita, merasa diri nothing, pantas untuk menerima hukuman yang setimpal akibat pemikiran kita yang egois.
Satu langkah pertama yang penting yang harus kita jalani ketika mengalami kehilangan seperti ini, adalah menyadari bahwa rasa kehilangan dalam hati kita itu memang diperlukan. Mungkin memang ini cara satu-satunya sehingga kita bisa melihat kembali segenap motivasi dan arah hidup kita, sehingga kita bisa melihat secara objektif bahwa memang setiap motivasi yang salah tersebut membawa kegagalan dan kehilangan dalam hidup kita. Sadarilah bahwa memang jalan hidup yang telah kita ambil adalah salah. Inilah langkah pertama.
Langkah kedua adalah bagaimana kita bisa kembali ke jalan yang benar setelah kita kembali merefleksikan segenap penyesalan kita dahulu. Mungkin dalam beberapa hal, perlu ada sikap memaafkan diri supaya kita bisa kembali melangkah dalam hidup kita dan tidak terjebak dalam penyesalan masa lalu. Setelah kita mengkoreksi diri kita secara benar (tentunya dengan rendah hati meminta pertolongan Tuhan), barulah kita bisa mengatur kembali arah dan tujuan hidup kita. Inilah seringkali cara Tuhan untuk mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik dan sesuai apa yang Ia mau dalam hidup kita.
Aku akan menutup tulisan singkat menjelang tahun baru ini dengan sebuah kalimat dari Matius 5:3, yang berbunyi Berbahagialah orang yang miskin (inggris: poor in spirit) di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Inilah pernyataan yang mungkin bisa menjawab pergumulan kita mengenai kehilangan sesuatu yang kita rasa penting dalam hidup ini. Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat kita merasa menyesal dan juga seringkali berujung pada rasa kekosongan dalam hati kita. Dan sekali lagi sadarilah, bahwa inilah cara Tuhan untuk menegur kita, sehingga kita tidak menjalani kehidupan ini dengan semau kita, tapi semau Tuhan. Rasa kekosongan dan rasa bersalah yang berujung pada rasa ketidaklayakan yang terbentuk dalam hati kita inilah yang mau Tuhan pakai untuk membuat kita lebih lagi gentar dan taat untuk mengikutNya dengan lebih satia. Kiranya kalimat dari Matius 5:3 boleh menjadi penghiburan dan pembelajaran penting buat kita.

No comments:
Post a Comment