Powered By Blogger

Wednesday, January 27, 2016

Hiduplah dalam Kenyataan, bukan dalam Khayalan

Tulisan ini kubuat terinspirasi setelah menonton suatu film kartun Disney tahun 2008 berjudul "Bolt" (yang kemarin kembali saya tonton, dan akhirnya sampai selesai). Film kartun ini mengisahkan tentang seekor anjing bernama Bolt yang mengira dirinya adalah anjing super yang bertugas menaklukan kejahatan, dengan menggunakan berbagai kekuatan super yang ia miliki seperti mata laser dan gonggongan super yang bisa menghancurkan dinding yang tebal. Padahal sesungguhnya, itu hanyalah sebuah film rekaan. Setiap selesai syuting, anjing ini langsung dikandangkan di suatu ruangan spesial, sehingga akhirnya ia tak tahu apa-apa mengenai dunia sebenarnya. 


Bahkan, dalam suatu episode dalam film yang anjing itu mainkan, diskenariokan bahwa pemilik anjing ini (seorang gadis yang juga pemain dalam film tersebut) diculik oleh seorang penjahat super. Tanpa mengetahui bahwa sebenarnya tuannya baik-baik saja, anjing itu mengira bahwa memang tuannya itu berada dalam bahaya. Sesungguhnya sempat terlihat usaha gadis itu untuk menemui anjing itu dan menunjukkan dirinya baik-baik saja, namun segera dicegah oleh sang Sutradara itu, yang menyatakan bahwa biarlah anjing itu tetap hidup dalam “fantasi”nya, yakni bahwa kini tuannya diculik, menjadikan semua hal dalam film sebagai kejadian sesungguhnya.


Dalam perjalanan selanjutnya, pada akhirnya anjing ini secara tidak sengaja “terkirim” ke kota yang jauh, dan pada akhirnya ia melihat kembali dunia sesungguhnya, di mana tak ada lagi kru film dari Hollywood yang memposisikan dirinya sebagai anjing super, dengan efek-efek rekaan dan gaya-gaya pemeran penjahat yang dibuat-buat seolah-olah mereka mudah dikalahkan oleh anjing “super” ini. Ia akhirnya sadar, bahwa dirinya hanya anjing biasa yang memerankan peran sebagai anjing “super” dalam film, dan dirinya bukan anjing super yang sesungguhnya.


Hm, sebuah ringkasan sekilas dari film “Bolt” yang tak terlalu singkat juga ya, haha. Tapi satu pesan yang bisa kutangkap (dan juga kalian tangkap) dari film ini adalah, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Suatu pernyataan yang simpel, tapi seringkali secara tak sadar kita lupakan. Banyak dari kita lari dari kenyataan hidup yang sesungguhnya, kemudian mengidealisasikan diri kita atau kondisi kita secara subjektif. Sebagian dari kita mungkin pernah merasa diri sebagai “orang super” yang bisa menembus berbagai masalah. Namun tanpa usaha keras yang nyata, pada akhirnya kita menyerah pada keadaan kita yang tenggelam dalam masalah. Ada pula yang memposisikan diri lebih tinggi dari sesamanya, seperti contohnya kalangan orang yang mem-bully teman-temannya, padahal sesungguhnya ia sama kedudukannya dengan teman-teman yang ia bully. Ada pula kalangan orang yang mengganggap dirinya pemimpin yang begitu hebat dan tinggi sehingga tak ada yang layak atau mampu mengikut dia, padahal sesungguhnya kecenderungan dirinya yang egois sekali membuat tak seorangpun mau ikut di bawah pimpinannya. 


Trus, terutama dalam konteks baru beberapa minggu sesudah tahun baru nih, di mana banyak dari kita telah membuat resolusi tahun baru masing-masing, dan tidak sedikit dari antaranya kalau kita pikirkan kembali sesungguhnya resolusi tersebut adalah resolusi yang cukup muluk-muluk saja dan terlalu ideal, seolah mengganggap diri kita bisa menjadi seorang “ideal” yang bisa berbalik langsung 180 derajat dalam hitungan hari atau bulan, tanpa proses atau pengorbanan yang cukup banyak diperlukan dan harus dijalankan dengan rela.


Nah, kembali ke pernyataan yang tadi, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Sekali lagi kukatakan, ini merupakan suatu hal simpel yang sering kita lupakan. Ini dikarenakan mungkin oleh keegoisan kita, sikap pemalas disertai keinginan untuk mencapai hasil instan tanpa usaha berarti, dan beberapa faktor lain. Suatu hal yang simpel sekali lagi, namun ternyata kita serong lari dari kenyataan simpel itu. Kenyataan di mana kita perlu berjuang keras untuk mendapatkan pencapaian maksimal. Kenyataan di mana kita perlu berkorban banyak, demi mencapai posisi yang tinggi dengan jiwa pengabdian yang sejati. Kenyataan bahwa mengubah diri kita menjadi lebih baik tak semudah membalik telapak tangan dan juga tak semudah menuliskan resolusi tahun baru yang muluk-muluk... Hidupilah kenyataan hidup yang sesungguhnya dengan penuh kerendahhatian dan kerelaan untuk berkorban dalam memperbaiki diri dan membagi manfaat bagi sesama kita dan orang lain di sekitar kita.
Sedikit perenunganku yang kubagikan, yang mungkin agak kejauhan penarikan konklusinya setelah menonton film kartun “Bolt” kemarin malam, haha.. Tapi sadarlah, memang pembelajaran kehidupan yang dalam bisa saja ditemukan bahkan di dalam hal-hal yang kilihatannya sepele saja. Sekali lagi pesan singkatku, HIDUPLAH DALAM KENYATAAN. Selamat kembali menjalani kenyataan, sobat!

*bagi yg belum menonton tapi mau baca sinopsis singkat dari film kartun "Bolt", bisa dilihat di :  mobile.nytimes.com/2008/11/21/movies/21bolt.html?referer= artikel berjudul "Canine TV Action Star Discovers That Life Is the Best Reality Show"

No comments:

Post a Comment